Monday, 11 Syawwal 1439 / 25 June 2018

Monday, 11 Syawwal 1439 / 25 June 2018

Pengamat: AHY Cawapres adalah Target Tertinggi Demokrat

Kamis 15 March 2018 01:11 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Andri Saubani

Komandan Kogasma Pemenangan Pemilu 2019 Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan pidato politik dalam penutupan Rapimnas Partai Demokrat 2018 di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (11/3).

Komandan Kogasma Pemenangan Pemilu 2019 Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan pidato politik dalam penutupan Rapimnas Partai Demokrat 2018 di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (11/3).

Foto: ANTARA FOTO/Arif Firmansyah
Namun, AHY belum tentu memiliki peluang menjadi cawapres.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Politik Universitas Paramadina Djayadi Hanan mengatakan, ada peluang Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang merupakan Ketua Kogasma Pemenangan Pemilu Partai Demokrat untuk diusung menjadi calon wakil presiden (cawapres) mendampingi Joko Widodo (Jokowi). Hal itu menguat usai Jokowi membuka Rakernas Partai Demokrat pada Sabtu (10/3) lalu.

"Mungkin saja Partai Demokrat akan calonkan AHY sebagai pendamping Jokowi. Hal itu sama mungkinnya dengan yang lain. Tentu saja Demokrat mau kalau itu dilakukan," ujar Djayadi kepada Republika, Rabu (14/3).

Ia menyebut, Partai Demokrat sendiri memasang target tertinggi itu. "Persoalannya adalah AHY jadi cawapres Jokowi itu pasti sudah dijadikan target tertinggi Partai Demokrat. Lalu, apakah peluangnya ada?" kata dia.

Pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research Consulting (SMRC) itu mengatakan peluang itu ada. Sebab, elektabilitas AHY di berbagai survei, dikatakan cukup kompetitif untuk bersaing menjadi cawapres dengan saingan mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin.

"Kedua, dia tokoh muda yang bisa diharapkan jadi pemimpin, walaupun memang belum berpengalaman," ujarnya. Namun, kata dia, AHY sendiri dengan didukung penuh oleh Partai Demokrat maka peluangnya menjadi sama besarnya dengan peluang lain.

Hal itu pula yang kemudian mengubah keadaan partai politik lainnya yang lebih dulu mendukung Jokowi untuk meningkatkan penawaran masing-masing. Namun, ia menyebut kondisi ini tak akan memecah koalisi awal yang telah dibentuk untuk mengusung Jokowi.

"Bukan kalau mereka nggak terpilih akan perpecahan. Sekarang pun partai politik, PKB dan PPP tidak dapat wapres palingan menteri. Kalau dikasih menteri pun sudah cukup bagi mereka," kata dia.

Selain itu, secara hitungan politik, bila mereka berpaling kepada kubu lain, peluang menang pun juga lebih kecil bila dibandingkan bergabung dengan poros pendukung Jokowi. "Itu hitungan rasional. Tapi sekarang semua sedang melakukan upaya untuk jadi wapres," tuturnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES