Saturday, 8 Zulqaidah 1439 / 21 July 2018

Saturday, 8 Zulqaidah 1439 / 21 July 2018

AHY Dinilai Belum Kuat Mewakili Poros Alternatif

Rabu 14 March 2018 13:27 WIB

Rep: Adinda Pryanka / Red: Andri Saubani

Komandan Kogasma Pemenangan Pemilu 2019 Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan pidato politik dalam penutupan Rapimnas Partai Demokrat 2018 di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (11/3).

Komandan Kogasma Pemenangan Pemilu 2019 Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan pidato politik dalam penutupan Rapimnas Partai Demokrat 2018 di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (11/3).

Foto: ANTARA FOTO/Arif Firmansyah
PKB memprediksi isu Islam akan menjadi perhatian publik pada Pemilu 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketua DPP PKB, Lukman Edy, melihat, sosok A)gus Harimurti Yudhoyono (AHY) tidak memiliki elektabilitas yang signifikan dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Hal ini disampaikan Lukman melihat AHY kini tengah digadangkan menjadi calon wakil presiden dari Partai Demokrat untuk mendampingi Jokowi.

Lukman menjelaskan, sosok AHY belum memiliki kekuatan untuk mewakili poros alternatif, meski ia termasuk generasi muda yang berpotensi untuk berkiprah dalam dunia politik. "Sementara, Pilpres 2019 ini akan berbeda dengan 2014, di mana isu Islam dapat perhatian dari publik. AHY masih belum terlalu kuat untuk mewakilinya," ujar Lukman ketika dihubungi Republika.co.id, Rabu (14/3).

Dengan perbedaan suasana tersebut, Lukman mengakui, tokoh atau aktivis Islam akan memberikan tingkat elektabilitas yang tinggi. Sebut saja, Cak Imin, Tuanku Guru Bajang (TGB), Khofifah dan Zulkifli Hasan. Apabila mereka bersatu, presentasi elektabilitas kumulatif mereka akan lebih tinggi dibandingkan tokoh nasional, yakni mencapai 24 persen.

Menurut Lukman, dengan semakin tinggi kebutuhan masyarakat terhadap pemimpin yang mengedepankan agenda keumatan, pemimpin Islam kian dicari. "Ini hikmah dari meningkatnya populis Islam. Bagi kami, PKB, ini kebangkitan umat yang harus difasilitasi dengan memilih aktivis Islam sebagai pemimpin," ucapnya.

Lukman mengatakan, banyak faktor penyebab kebutuhan akan pemimpin dari tokoh Islam kian tinggi. Di antaranya, dipicu oleh Pilkada DKI terakhir yang membuat umat jadi bersatu dalam isu genting. Munculnya Abdul Somad yang populis dan berpotensi menyatukan umat turut disebut Lukman sebagai pemicunya.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA