Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

'Prabowo Harus Mulai Berpikir Untuk Jadi King Maker'

Ahad 25 Februari 2018 21:04 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Ratna Puspita

Prabowo Subianto

Prabowo Subianto

Foto: Tahta Aidilla/Republika
Prabowo harus mulai memikirkan rencana lain untuk bisa berpeluang mengalahkan Jokowi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya mengatakan, Prabowo Subianto masih menjadi penantang terberat Joko Widodo (Jokowi). Kendati demikian, dia berpendapat, Prabowo seharusnya mulai berpikir untuk menjadi orang yang melahirkan penantang Jokowi pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. 

Yunarto mengatakan Prabowo harus mulai memikirkan rencana lain untuk bisa berpeluang mengalahkan Jokowi. Misalnya, dia mencontohkan, Prabowo bisa memunculkan sosok seperti Anies Baswedan atau Gatot Nurmantyo pada Pilpres 2019. 

Keduanya, dia berpendapat, sudah dikenal masyarakat dan lebih 'fresh' sehingga kemungkinan berpeluang besar untuk mengalahkan Jokowi. Dia sebaiknya mulai berpikir menjadi king maker saja dengan mengajukan nama lain untuk menjadi capres," kata Yunarto ketika dihubungi Republika dari Jakarta, Ahad (25/2). 

Apalagi, dia menambahkan, elektabilitas Jokowi yang berada di atas akan membuat peluang Prabowo untuk menang dalam pilpres 2019 nanti pun akan semakin berat. Apalagi, Jokowi telah resmi diusung oleh PDIP sebagai calon presiden 2019-2024 dalam Rakernas III PDIP di Sanur, Bali, Jumat (23/2).

"Sepertinya Prabowo sendiri sepertinya sulit untuk bisa bersaing dengan Jokowi. Karena tingkat kepuasan publik ke Jokowi bisa dikatakan sudah stabil diangka sekitar 70 persen dan itu angka yang cukup aman untukincumbent(pejawat) untuk menang kembali," tambahnya.

Namun, Yunarto mengatakan jika Prabowo masih ingin berkontestasi pada Pilpres 2019 maka sebaiknya dia lebih sering tampil. “Beliau harus muncul sebagai tokoh terdepan yang melakukan kritik terhadap pemerintah, sehingga kemudian posisinya lebih kuat,” kata dia. 

Menurut Yunarto, sekarang ini Prabowo jarang ‘turun gunung’ alias jarang muncul di tengah masyarakat. Prabowo sangat jarang melontarkan pernyataan atau kritikan terhadap kinerja pemerintah. 

Sekarang ini, dia menambahkan, sosok yang sering muncul sebagai kritikus pemerintah justru dua pimpinan DPR RI, yakni Fadli Zon dan Fahri Hamzah. Kondisi ini bisa melemahkan elektabiltas Prabowo.

“Padahal Prabowo sendiri adalah sosok oposisi. Bahkan, dia dianggap bukan hanya sebagai pemimpin oposisi, tetapi dianggap lawan terberat Jokowi. Jadi kalau beliau tidak sering muncul, peluangnya akan semakin berat," kata Yunarto. 

Untuk itu, sebagai opisisi dan penantang terbesar Jokowi, Prabowo harus berani berbicara dalam setiap isu-isu yang muncul. Dia berpendapat, berani berbicara mengenai kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah akan meningkatkan elektabilitas Prabowo. 

"Berani berbicara terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap berseberangan, misalnya. Itu juga akan menimbulkan demokrasi yang sehat. Menurut saya Prabowo harus sering muncul dalam setiap kebijakan yang diambil pemerintah,” ujar dia. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES