Senin, 11 Syawwal 1439 / 25 Juni 2018

Senin, 11 Syawwal 1439 / 25 Juni 2018

Poltracking Ungkap 4 Skenario Poros Koalisi Pilpres 2019

Ahad 18 Februari 2018 19:34 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Budi Raharjo

Presiden Jokowi bertemu Prabowo Subianto.

Presiden Jokowi bertemu Prabowo Subianto.

Foto: AP Photo
Walau elektabiitas Jokowi di atas Prabowo, tapi itu masih belum aman.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pertarungan antara Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 diprediksi akan terulang. Namun, masih terdapat skenario lain yang akan terjadi pada Pilpres 2019 mendatang.

"Survei ini menunjukkan, praktis hanya ada dua figur dengan elektabilitas dua digit, yaitu Presiden pejawat Jokowi dan mantan rivalnya pada Pilpres 2014, Prabowo Subianto," ujar Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda AR di Jakarta, Ahad (18/2).

Hanta menjelaskan, tren dan jarak elektabilitas keduanya tak jauh berbeda dengan survei yang dilakukan Poltracking Indonesia sebelumnya, pada November 2017. Jarak elektabilitas mereka antara 20-25 persen, di mana elektabilitas Prabowo berkisar di angka 20-33 persen dan Jokowi 45-57 persen.

Di luar Jokowi dan Prabowo, semua tokoh baik elite politik lama seperti yang pernah tampil pada pemilu sebelumnya maupun tokoh baru yang muncul dalam dinamika elektoral tiga tahun terakhir tak bisa menyaingi. Mereka semua elektabilitasnya tak lebih dari lima persen.

"Kalu Prabowo tidak maju, kekuatan Jokowi 5-6 kali lipat dari calon lainnya. Kalau Prabowo maju, kekuatannya hanya berbeda sekitar 20 persen saja," kata dia.

Berdasarkan data survei teranyarnya, Hanta menjelaskan, tren elektabilitas Jokowi maupun Prabowo cenderung naik jika berkaca pada survei sebelumnya. Karena itu, kandidat calon presiden (capres) kuat hanyalah Jokowi dan Prabowo.

Meski demikian, lanjut dia, ada hal yang perlu dicatat oleh Jokowi. Walau elektabiitas Jokowi jauh di atas Prabowo, tapi posisi itu masih belum aman bagi Jokowi sebagai capres inkamben. Dikarenakan elektabilitasnya masih di bawah 60 persen.

Menurut Hanta, berdasarkan konstruksi hukum-konstitusi di Indonesia dan pergerakan politik kepartaian dalam beberapa bulan terakhir, analisis surveinya mengerucut pada potensi lahirnya empat skenario koalisi pencalonan pasangan capres-cawapres.

Skenario itu didasari pada konstruksi hukum pencalonan presiden setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait ambang batas pencalonan preiden 20 persen. Berdasarkan pergerakan politik kepartaian, empat skenario itu didasari pada sikap dukungan politik partai-partai terhadap figur capres atau cawapres.

"Di mana sampai survei ini dirilis, terdapat empat partai yang telah mendeklarasikan Jokowi sebagai capres 2019. Serta partai di luar pemerintahan yang mempunyai sikap politik untuk mengajukan figur di luar Jokowi. PAN dan PKB masih menjadi partai yang berdiri di dua kaki," jelasnya.

Saat ini sudah ada empat partai politik yang mengusung Jokowi sebagai capres, yaitu Golkar, Nasdem, Hanura, dan PPP. Hanta mengasumsikan PDIP masuk ke poros itu. Poros Prabowo terdiri dari Gerindra dan PKS. Koalisi kedua partai ini sudah mencapai lebih dari 20 persen kursi di parlemen.

"Poros SBY yang diprediksi bakal mengusung putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono. Poros terakhir akan berdiri apabila PKB dan PAN berkoalisi dengan Demokrat," terang dia.

Skenario pertama adalah terjadinya tiga poros koalisi pasangan capres-cawapres. Ketiga poros itu berupa poros Jokowi, poros Prabowo, dan poros Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Skenario kedua, terjadinya dua poros koalisi di mana poros koalisi Jokowi dan SBY melawan poros koalisi Prabowo.

Skenario ketiga, kebalikan dari skenario kedua, yaitu poros koalisi Jokowi berhadapan dengan poros koalisi Prabowo dan SBY. Terakhir, skenario keempat, bergabungnya poros Jokowi dan poros Prabowo yang melawan poros SBY.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES