Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

'Ada Dalang di Balik Penyerangan Tokoh Agama'

Rabu 14 February 2018 23:14 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Andi Nur Aminah

Wakil ketua Komisi VIII DPR RI, Iskan Qolba Lubis

Wakil ketua Komisi VIII DPR RI, Iskan Qolba Lubis

Foto: dok. Humas Fraksi PKS
Dia menyakinu motifnya tentu tidak lepas dari politik.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Wakil Ketua Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Iskan Qolba Lubis meyakini adanya dalang di balik penyerangan tokoh agama yang terjadi di daerah Jawa Barat dan Yogyakarta beberapa waktu lalu. Menurutnya, kejadian yang punya pola dan masif ini tentu ada dalang di baliknya.

Adapun motifnya tentu tidak lepas dari politik. "Baik itu pengalihan isu atau kepentingan ekonomi sehingga negara luar melihat Indonesia tidak aman, padahal itu hanya satu dua orang," tutur Iskan di Kompleks Parlemen, Rabu (14/2).

Lanjutnya lebih jauh, simbol-simbol keagamaan harus menjadi tempat yang clear and clean, dan menjadi tempat manusia berlindung. Oleh karena itu dalam Undang-Undang internasioanl pun ketika terjadi peperangan, tempat ibadah tidak boleh dihancurkan. "Dalam arti, tempat ibadah itu menjadi lokasi terakhir orang berlindung," tegasnya.

Namun ketika dikaitkan dengan suasana pilkada, politisi dapil Sumatra Utara II ini mengiyakan. Sehingga dia mengatakan, ini perlu dianalisa siapa dalangnya dan apa kepentingan politiknya. Aparat keamanan lebih ada akses untuk bertindak dan mencari tahu. "Tapi, ini seperti lempar batu sembunyi tangan, rakyat biasa tidak bisa melakukannya," ujarnya menyesalkan lambannya pihak kepolisian mengungkap kasus ini.

Anggota Komisi VIII DPR itu menghimbau ke masyarakat untuk tidak terpancing dengan adanya kegaduhan yang sengaja ditimbulkan sehingga akan ada saling perang di media sosial. Apabila tujuan di balik itu untuk menimbulkan keresahan, dia mengatakan, tidak perlu menanggapinya. "Cukup diserahkan ke pihak Kepolisian. Masyarakat jangan terlalu sibuk membahas itu. Apalagi di media mainstream yang semakin senang menggoreng berita," tutup Iskan. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES