Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

'Habisi' Berbau HTI, Pemerintah Dinilai Hilang Akal Sehat

Selasa 25 Jul 2017 12:27 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Teguh Firmansyah

Warga melintas di depan Kantor DPD II Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Warga melintas di depan Kantor DPD II Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Foto: Antara/Adeng Bustomi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar hukum, politik, dan pemerintahan dari Universitas Parahyangan Bandung, Asep Warlan, menilai tindakan represif pemerintah setelah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menggambarkan pemerintahan yang telah kehilangan akal sehat. Sebab, pemerintah malah bertindak membabi buta.

"Pemerintahan sekarang sudah kehilangan akal sehat. Kenapa? Karena ini kan terbukti bahwa pembubaran (HTI) itu bukan hanya karena ada tindakan, perbuatan atau akibat dari suatu hal yang mengganggu Pancasila atau NKRI," kata dia kepada Republika, Selasa (25/7).

Menurut Asep, pemerintah telah bertindak membabi buta terhadap berbagai pihak yang memiliki keterkaitan dengan HTI. Misalnya, dengan mengeluarkan ancaman pemberhentian terhadap pegawai negeri sipil (PNS) yang terlibat HTI, pencabutan kewarganegaraan terhadap anggota HTI, dan beberapa contoh lainnya.

Sekarang, yang terbaru, yakni menghentikan anggaran untuk kegiatan kepramukaan. Penghentian anggaran ini karena Ketua Kwartir Nasional Adhyaksa Dault dianggap pernah terlibat atau menjadi simpatisan HTI setelah menghadiri kegiatan HTI pada 2013 lalu. "Ini sudah tidak rasional, tidak proporsional," ungkap dia.

Apalagi, saat ini ada mekanisme hukum terkait pembubaran HTI yang masih berproses. Keputusan pemerintah membubarkan HTI digugat ke PTUN melalui tim kuasa hukum HTI yang dipimpin Yusril Ihza Mahendra, beberapa waktu lalu. "Pemerintah harusnya juga menghormati proses ini," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA