Sunday, 13 Syawwal 1440 / 16 June 2019

Sunday, 13 Syawwal 1440 / 16 June 2019

Ketum Baru Golkar Harus Menyatukan Faksi-Faksi yang Terbelah

Sabtu 07 May 2016 20:13 WIB

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Bayu Hermawan

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda.

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda.

Foto: Republika/Tahta Aidilla

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Pol-Tracking, Hanta Yuda menilai Ketua Umum Partai Golkar mendatang harus terbebas dari faksi. Di samping itu, Caketum Golkar juga diminta memiiki formula cemerlang membawa Golkar sebagai pemenang Pilpres 2019.

Ketua umum yang lahir dari Munaslub tersebut harus mampu menyatukan seluruh kader dan elite partai tanpa sekat-sekat faksi. Karena, saat ini semakin banyak faksi-faksi yang ada di tubuh partai berlambang pohon beringin itu, dan akan membuat kemajuan dan perkembangan Golkar semakin sulit.

"Tren Golkar itu setiap tahun terus menurun dan terjadi degradasi suara. Dan sekarang Golkar harus melawan dirinya sendiri untuk keluar dari zona faksi atau kelompok yang saling memakan," kata Hanta di sebuah diskusi, di Jakarta Pusat, Sabtu (7/5).

Hanta menyatakan, slogan Partai Golkar dengan 'Suara Golkar Suara Rakyat' belum bisa diimplementasikan dengan baik. Sebab, slogan itu belum bisa melahirkan presiden dari internal partai.

"Suara Golkar belum diimplementasikan dengan baik. Tapi kalau untuk di parlemen, suara Golkar tidak diragukan lagi, namun untuk suara populer Golkar selalu kalah," tegasnya.

Disisi lain, Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung setuju bila ketua umum baru hasil Munaslub mendatang berasal dari Jawa.

Menurut Akbar, Munaslub di Bali nanti menjadi momentum yang tepat untuk mengembalikan kejayaan Partai Golkar bila dipimpin orang Jawa.

"Saya, Pak JK (Jusuf Kalla), Pak Aburizal bukan orang Jawa, siapa tahu bila dipimpin orang Jawa kembali, suara Golkar akan meningkat," kata Akbar.

Ketika ditanya apakah Ketua Umum Golkar yang baru harus berlatarbelakang aktivis atau pengusaha, ia menilai , ketua umum harus memiliki komitmen, ide, gagasan dan tenaga untuk membawa kemajuan Golkar.

"Saya kira poin pentingnya itu," ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA