Monday, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Monday, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

KH Alawy Muhammad, Dari Waduk Nipah Hingga Kecurangan Pemilu

Selasa 11 Nov 2014 05:45 WIB

Red: Taufik Rachman

KH Alawy Muhammad

KH Alawy Muhammad

REPUBLIKA.CO.ID,SAMPANG-- Nama KH Alawy Muhammad mulai dikenal banyak orang setelah tragedi Nipah yang terjadi pada 25 September 1993.

KH Alawy merupakan ulama Madura yang getol membela petani Sampang yang terdampak pembangunan Waduk Nipah di Kecamatan Banyuates, Sampang itu.Konflik itu bermula dari permasalahan tanah milik masyarakat yang akan dijadikan waduk.

Bagi sebagian masyarakat di wilayah ini, tanah bukan hanya bermakna ekonomis, namun juga bermakna kultural, yakni tanah dipahami sebagai sebuah pusaka, yakni peninggalan leluhur yang harus dijaga dan dipertahankan.

Tanah pusaka, atau tanah warisan bagi warga Nipah dan Madura pada umumnya, tidak boleh jual, karena merupakan bentuk penghormatan kepada orang tua yang telah mewariskan tanah itu.

Namun, pemerintah kala itu hanya melihat bahwa masyarakat Nipah yang meliputi delapan desa membutuhkan sebuah waduk irigasi untuk meningkatkan penghasilan pertanian mereka menjadi dua kali lipat.

Hal itu karena pemerintah melihat wilayah Nipah itu hanya sebagai hamparan lahan kering yang tak bermakna, sehingga perlu dimanfaatkan.

Dalam proses pembebasan tanah, masyarakat pemilik tanah tidak dilibatkan, sehingga menimbulkan reaksi keras dari pemilik tanah. Pemerintah dalam hal Pemkab Sampang kala itu tidak mengindahkan penolakan warga, bahkan melibatkan aparat keamanan, yakni TNI.

Kebijakan tidak kooperatif pemerintah inilah yang menjadi perhatian KH Alawy untuk melakukan advokasi kepada masyarakat di sekitar lokasi pembangunan waduk Nipah Sampang.

"Waktu itu Orde Baru masih berkuasa. Jadi siapa yang melawan kebijakan Orde Baru pasti akan habis, dan Kiai Alawi menyadari risiko itu," ujar teman KH Alawi Muhammad di Pamekasan KH Fudholi M Ruham.

Tidak hanya itu, tokoh ulama Sampang ini juga dikenal sebagai tokoh yang berani memprotes kecurangan pemilu yang terjadi pada tahun 1997 oleh penyelenggara pemilu dan pemerintah kala itu.

"Ketegasan beliau serta komitmen pembelaannya kepada kaum tertindas yang menjadikan KH Alawy cukup disegani oleh banyak orang dan menjadi tokoh ulama terkenal di Pulau Madura," kata pengasuh pondok pesantren Al-Fudlala, Kelurahan Barurambat, Pamekasan itu.

Sumber : antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES