Monday, 22 Syawwal 1443 / 23 May 2022

Jokowi Diminta tidak Naikkan Harga BBM

Jumat 03 Oct 2014 01:55 WIB

Red: Julkifli Marbun

Jokowi

Jokowi

Foto: ROL/Fian Firatmaja

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Dewan Pembina Komunitas Migas Indonesia (KMI) Iwan Ratman menyarankan Presiden terpilih Joko Widodo tidak menaikkan harga bahan bakar minyak pada awal pemerintahannya, melainkan meminimalisir penggunaan BBM dengan bahan bakar alternatif.

"Menurut saya Jokowi nanti lebih baik tidak menaikkan harga BBM di awal pemerintahannya, sebaiknya mengurangi konsumsi BBM bersubsidi dengan menggunakan energi alternatif seperti biodisel, gas dan listrik," katanya di Jakarta, Kamis.

Ia khawatir jika Jokowi menaikkan harga BBM akan berimbas pada turunnya daya beli masyarakat, ruginya usaha kecil menengah, menambah angka kemiskinan perkiraan sebesar 1,5 persen serta menaikkan angka inflasi karena ketergantungan masih besar.

Pemerintah mendatang, tuturnya, dapat menerapkan strategi pengurangan konsumsi BBM bersubsidi di awal pemerintahannya dengan empat cara, yakni efisiensi penggunaan BBM, diversifikasi bahan bakar, manajemen transportasi serta kebijakan fiskal.

"Efisiensi dapat berupa pengembangan industri mobil nasional berbahan bakar gas dan listrik secara masif dengan strategi penguasaan pasar mobil nasional dan dapat dimulai dari mobil pemerintah dan BUMN," katanya. (Baca: Hore, Saudi Potong Harga Minyak)

Selanjutnya, ujarnya, secara bertahap premium dan solar hanya diperuntukkan bagi kendaraan yang menyentuh masyarakat menengah ke bawah misalnya angkutan umum agar subsidi tepat sasaran dan masyarakat terdorong menggunakan angkutan umum.

Setelah itu, katanya, pada tahun pemerintahan berikutnya Jokowi dapat menaikkan harga BBM subsidi secara bertahap saat ketergantugnan masyarakat pada BBM sudah berkurang.

Sebelumnya, penasihat senior dari Tim Transisi Jokowi-JK Luhut Binsar Panjaitan mengatakan Jokowi akan menaikkan harga BBM subsidi sebesar Rp3.000 per liter pada November guna mengurangi defisit anggaran dan mengalokasikan lebih banyak dana untuk memperbaiki infrastruktur.

Jika rencana tersebut dilaksanakan, maka harga bensin premium bersubsidi dari Rp6.500 akan naik menjadi Rp9.500 dan harga solar bersubsidi akan naik dari Rp5.000 menjadi Rp8.500.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA