Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Testimoni JK di 40 Hari Taufiq Kiemas

Jumat 19 Jul 2013 21:46 WIB

Rep: Esthi Maharani/ Red: A.Syalaby Ichsan

Direktur Utama Mahaka Media Erick Thohir, dan Pemred Harian Republika Nasihin Masha dan menyerahkan anugerah Tokoh Perubahan Republika 2012 kepada Ketua MPR RI 2009-2014 Taufik Kiemas, di Jakarta

Direktur Utama Mahaka Media Erick Thohir, dan Pemred Harian Republika Nasihin Masha dan menyerahkan anugerah Tokoh Perubahan Republika 2012 kepada Ketua MPR RI 2009-2014 Taufik Kiemas, di Jakarta

Foto: M Yasin/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla punya kenangan tersendiri kepada ketua MPR, Taufik Kiemas yang telah meninggal beberapa waktu lalu. Ia ingat pendekatan Taufik kepada hampir semua orang yang dikenalnya. Termasuk kepada dirinya. 

JK ingat selalu dipanggil 'Kak' atau 'Mas'. Padahal perbedaan usia keduanya tak terlalu jauh.  "Salah satu cara beliau dekat adalah tidak pernah memanggil teman-teman namanya, selalu bang, kakak, adek atau mas. Selalu,"ujarnya.

JK mengaku selalu disebut kak atau bang. Walaupun  beda tiga bulan umur JK. Akan tetapi, dia tetap panggil abang.

"Saya agak risih menyebut adik tentu. Masa manggil adik ke taufik, gak enak bagi saya kan. Yang tidak enak istri saya disebutnya uni padahal istri saya sedikit lebih muda dia jadi agak jengkel juga kadang-kadang istri saya," katanya saat memberikan testimoni, Jumat (19/7). 

Menurutnya, gaya Taufik Kiemas itu sebenarnya mampu menghapus pengkotakan teori yang ada saat ini dalam dunia politik. Dicontohkannya, Taufik tidak membeda-bedakan fraksi yang ada di MPR walaupun sebenarnya ada 9 fraksi yang berbeda. 

Dia menjelaskan, dasar itu bisa jadi pijakan untuk tidak membedakan keberadaan partai apapun. "Dengan sikap kebangsaan kita tidak ada batas lagi antara partai islam dan partai nasional. Karena itu, batas partai Islam dan partai nasional adalah secara total dewasa ini," katanya. 

Karena itu, ia mengharapkan cara berpikir Taufik Kiemas terhadap perbedaan dijadikan landasan bahwa harus bersatu ditempat yang sama sehingga bisa memajukan bangsa dan negara. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA