Sabtu, 20 Ramadhan 1440 / 25 Mei 2019

Sabtu, 20 Ramadhan 1440 / 25 Mei 2019

Gerindra: Pertemuan SBY-Prabowo Inisiatif SBY

Jumat 15 Mar 2013 18:49 WIB

Red: Mansyur Faqih

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) menerima Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto (tengah) dan Wakil Ketua umum Partai Gerindra Fadli Zon (kiri) di kantor presiden, Jakarta, Senin (11/3).

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) menerima Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto (tengah) dan Wakil Ketua umum Partai Gerindra Fadli Zon (kiri) di kantor presiden, Jakarta, Senin (11/3).

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Partai Gerindra membantah pernyataan Istana yang menyatakan pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Prabowo Subianto sebagai inisiatif Prabowo. 

"Pernyataan itu tidak benar," kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, Jumat (15/3).

Menurutnya, undangan pertemuan tersebut datang dari Presiden SBY melalui Mensesneg Sudi Silalahi. "Pak Sudi menelepon saya Sabtu malam, 9 Maret. Ia mengundang Pak Prabowo untuk bertemu Presiden," lanjut dia.

Fadli kemudian menelepon Prabowo dan menanyakan kapan waktunya. Ini mengingat Prabowo sudah memiliki jadwal untuk kampanye di NTT, Senin dan Selasa, 11-12 Maret.  

Prabowo, ujarnya, kemudian menyampaikan jika presiden menentukan waktunya, maka akan menyesuaikan. 

Ahad, kata dia, Sudi kembali menelepon. Kali ini menyampaikan, SBY mengagendakan Senin, 11 Maret pukul 15.30 WIB. Hal itu pun disampaikan ke Prabowo yang akhirnya membatalkan acara ke Kupang, Senin.

"Jadi tak benar sama sekali jika Pak Prabowo berinisiatif untuk meminta pertemuan tersebut," tegas Fadli.

Meski pun begitu, dia menilai, peremuan itu sebagai hal yang bagus dan konstruktif. Bahkan substantif. Hanya saja ia menyayangkan adanya kesalahan dan pemutaran fakta tersebut.

Fadli menyatakan, sebagai presiden SBY memang seharusnya  membuka diri kepada semua kelompok masyarakat. Sehingga bisa mendengar langsung pandangan mereka terhadap berbagai persoalan bangsa. 

Termasuk dari kalangan ormas Islam, purnawirawan atau kelompok politik lain. "Biasanya kalau dengar dari staf saja, semua beres. Alias ABS, Asal Bapak Senang. Yang penting setelah itu apa tindak lanjut yang bisa dirasakan rakyat," cetus Fadli.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA