Saturday, 20 Ramadhan 1440 / 25 May 2019

Saturday, 20 Ramadhan 1440 / 25 May 2019

Demokrat: Citra Buruk DPR tak Bisa Dipersalahkan ke Satu Orang

Rabu 29 Aug 2012 22:00 WIB

Red: Dewi Mardiani

Achsanul Qosasi

Achsanul Qosasi

Foto: Republika/Tahta Aidilla

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua DPP Partai Demokrat, Achsanul Qosasi, menegaskan bahwa DPR adalah lembaga kolektif yang mengemban tanggung jawab bersama untuk menjalankan tugas dan menjaga nama baiknya. Pimpinan DPR hanyalah sebagai juru bicara atau perwakilan saja dari DPR. Karena itu, kata dia, jika citra DPR buruk, maka itu tidak bisa dipersalahkan kepada pimpinan lembaganya.

“Kalau masalah panutan tergantung anggota-anggota itu sendiri. Kalau kita mau DPR ini baik, maka itu harus dilakukan oleh semua anggota DPR, tidak bisa sendirian. Tidak ada boleh seorang pun boleh menyalahgunakan amanah yang diembankan kepadanya,” kata dia, Rabu (29/8).

Pernyataan ini disampaikan dalam menanggapi perkataan Wakil Bendahara Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo, terhadap Ketua DPR Marzuki Alie yang dituding sebagai penyebab buruknya citra DPR. Tudingan itu, kata dia, hanya bagian dari bunga-bunga politik.

Sebelumnya anggota DPR yang juga anggota Badan Anggaran dan Wakil Bendahara Umum Partai Golkar, yang terkenal banyak bicara, Bambang Soesatyo mengeritik Ketua DPR, Marzuki Alie sebagai penyebab buruknya citra DPR. Bambang menambahkan bahwa 560 anggota DPR membutuhkan seorang pemimpin yang harus menjadi panutan.

"Selama pimpinan Marzuki Alie, justru yang merusak citra DPR adalah ketuanya itu sendiri. Tidak ada yang membantah Ketua DPR sering membuat blunder," kata Bambang, saat ditemui pada perayaan ulang tahun DPR.

 

Menurut Achsanul, seluruh pimpinan DPR termasuk ketua DPR berupaya melakukan perbaikan. "Kalau dia tidak tahan dengan citra buruk, maka dia bukan pejuang yang mau memperbaiki  kondisi. Lebih baik dia mundur saja,” imbuhnya. Dia mengingatkan bahwa dalam suasana Syawal, tidak baik untuk menuding tanpa ada bukti.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA