Senin, 11 Syawwal 1439 / 25 Juni 2018

Senin, 11 Syawwal 1439 / 25 Juni 2018

Ketika Dedi Mulyadi Kampanye tanpa Atribut

Rabu 21 Februari 2018 12:32 WIB

Rep: Ita Nina Winarsih/ Red: Rahmat Santosa Basarah

Calon Wakil Gubernur Jabar Dedi Mulyadi lebih memilih banyak menyapa masyarakat dan tanpa atribut sama sekali dalam masa kampanye ini. Dedi Mulyadi tengah bercengkrama hangat dengan seorang nenek di Karawang, Rabu (20/2). Foto: Rachmat Santosa

Calon Wakil Gubernur Jabar Dedi Mulyadi lebih memilih banyak menyapa masyarakat dan tanpa atribut sama sekali dalam masa kampanye ini. Dedi Mulyadi tengah bercengkrama hangat dengan seorang nenek di Karawang, Rabu (20/2). Foto: Rachmat Santosa

Kita sapa masyarakat, dengarkan mereka dan beri solusi.

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG -- Calon Wakil Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, melarang timnya menggunakan atribut partai saat berkampanye. Alasannya, saat ini atribut partai ataupun alat peraga kampanye sudah tak sesuai dengan zaman now. Justru yang harus dimaksimalkan itu, sosok figurnya. Bukan kuantitas sebaran alat peraga kampanyenya. "Saya melarang, tim untuk memakai atribut partai atau menyebarkan alat peraga saat berkampanye ke masyarakat. Karena yang dibutuhkan masyarakat bukan itu, " ujar Dedi, kepada Republika, Rabu (21/2).

Karena itu, selama kampanye pasangan dari Cagub Deddy Mizwar ini tidak pernah memakai atribut partai. Bahkan, tim suksesnya juga tidak membagikan alat peraga, seperti, spanduk, leaflet, ataupun baliho.

Akan tetapi, lanjut Dedi, dirinya berupaya mengenalkan pasangan nomor urut empat Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi ke masyarakat dengan cara berbeda. Yaitu selalu menyapa masyarakat dan hadir di tengah-tengah mereka. "Kita sapa mereka, kita dengarkan keluhan para warga. Lalu, kita beri solusinya," ujar Dedi. Solusi dari permasalahan masyarakat ini bervariasi. Bisa yang sifatnya jangka pendek, menengah ataupun jangka panjang. ''Misalkan, solusi untuk warga yang sakit, maka timnya akan mengirimkan ambulans lalu membawa warga tersebut berobat ke dokter,'' tambahnya.

Dikatakan Dedi, dengan begitu, masyarakat akan mengenal sosok pemimpinnya. Karena sosok tersebut hadir bersama mereka. ''Kehadiran sosok ini, bukan karena melihat brosur, baligo, spanduk atau leaflet. Melainkan, masyarakat akan mengingat sosok tersebut karena telah berinteraksi dan tatap muka sebelumnya,'' papar Dedi.

N ita nina winarsih (ita).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES