Friday, 8 Syawwal 1439 / 22 June 2018

Friday, 8 Syawwal 1439 / 22 June 2018

Inilah Isi Hati Ridwan Kamil Bersama RINDU

Jumat 09 February 2018 09:09 WIB

Red: Sandy Ferdiana

Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan UU Ruzhanul Ulum pada Rapat Akbar Keluarga Rindu Jabar Juara, di Gedung Sabuga, Kota Bandung, Kamis (8/2).

Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan UU Ruzhanul Ulum pada Rapat Akbar Keluarga Rindu Jabar Juara, di Gedung Sabuga, Kota Bandung, Kamis (8/2).

Foto: Republika/Edi Yusuf
Menjadikan Jabar Jadi Provinsi Terbaik, Masyarakat Terbaik dengan Peradaban Terbaik.

REPUBLIKA.CO.ID,  ‘Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur’.

Salah satu petikan dari pembukaan UUD 1945 di atas, menerangkan bahwa perjuangan para pendahulu dan pendiri bangsa telah sampai pada saat yang berbahagia, dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Itulah salah satu visi yang hendak diwujudkan oleh pasangan Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum (RINDU) sebagai cagub dan cawagub Jawa Barat 2018.

photo

Pasangan Cagub dan Cawagub Jabar Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum (RINDU)

Harapan itu disampaikan Ridwan Kamil saat menyampaikan pidato politik di hadapan ribuan relawan, simpatisan dan pendukung dari partai simpul dan politik yang memadati Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Kamis (8/2) malam. Menurut Kang Emil, panggilan akrab Ridwan Kamil, Jawa Barat sebagai provinsi terbesar di Indonesia memiliki banyak potensi untuk mendorong keadilan dan pembangunan ekonomi.

Provinsi ini dikaruniakan desa-desa yang memiliki potensi alam yang luar biasa, dan kota-kota yang memiliki peluang sebagai lokomotif pertumbuhan. Kata Emil, untuk membangun Jawa Barat, diperlukan pendekatan yang seimbang antara keadilan dan pertumbuhan ekonomi, pemahaman yang komprehensif antara desa dan kota, serta visi yang kuat tentang bagaimana melahirkan manusia Jawa Barat yang beriman, bahagia, dan berkualitas.

Jawa Barat Juara lahir sebagai sebuah gagasan yang tulus dari hasil pemikiran yang luhur, untuk menghadirkan Jawa Barat yang mampu mengisi kemerdekaan negeri ini, dengan persatuan, kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran. ‘’Malam ini (Kamis malam), kita bermufakat untuk bersama dalam barisan yang akan membawa perubahan. Perubahan harus secepatnya hadir di provinsi tercinta  yang hari ini masih menyisakan banyak masalah,’’ tegas Emil.

Menurut Emil, di provinsi tercinta Jawa Barat tidak boleh lagi ada warga yang jauh dari agama dan Pancasila, tidak boleh lagi ada yang tercerabut jati diri budayanya. Di Provinsi Jawa Barat, tidak boleh ada lagi kegiatan berperadaban yang lemah daya saingnya.

Emil juga tidak menginginkan adanya daerah yang mengalami ketimpangan di Jawa Barat. Tidak boleh lagi muncul radikalisme dan terorisme yang membahayakan, dan tidak boleh ada layanan kepada warga yang mengecewakan.

Ia juga mengingatkan kepada seluruh peserta rapat akbar (Tim RINDU) agar di Provinsi Jawa Barat tercinta ini, tidak boleh lagi ada warga yang tidak terbahagiakan, sembako yang harganya tidak terkendalikan, dan para petani serta nelayan yang terpinggirkan.

Emil mengajak kepada seluruh peserta rapat akbar untuk menghapuskan pengangguran, memperhatikan kesejahteraan para buruh dan guru-guru di semua tingkatan dan layanan pendidikan. Rindu akan mendorong agar ribuan pesantren dan santri-santrinya dapat belajar dengan tenang, tanpa mengalami kesusahan.

Di provinsi yang sudah berusia 69 tahun ini, Emil menegaskan tidak boleh lagi ditemukan desa-desa yang ketinggalan zaman, infrastruktur yang hancur-hancuran, serta hutan balangsak dirusak dan Citarum terkotor lingkungannya.

Oleh karena itu, menurut Emil, jika warga Jawa Barat berkeinginan untuk maju, maka semua harus menjadi bangsa yang menghargai waktu. ‘’Kita akan ketinggalan, jika kita selalu menyia-nyiakan waktu,’’ tuturnya.

Ridwan Kamil menyitir Surat Al Ashr (QS 103) dalam Alquran, bahwa ‘Sesungguhnya semua manusia itu berada dalam keadaan merugi, kecuali mereka-mereka  yang selalu beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran’.

‘’Demi waktu, sesungguhnya manusia itu merugi. Kecuali yang yang beriman, beramal soleh, menasehati kebenaran dan kesabaran,’’ katanya. Emil mengajak seluruh peserta rapat akbar Rindu untuk membagi seperempat waktu untuk diri sendiri, dan tigaperempat waktu untuk masyarakat.

Sebagaimana hadits Rasulullah SAW, khairun nas anfauhum linnas, manusia terbaik adalah manusia yang membawa manfaat untuk masyarakat. ‘’Itulah manusia-manusia yang akan jadi pemenang. Manusia-manusia yang memuliakan waktu. Itulah manusia-manusia Jawa Barat di masa depan,’’ tegas Emil.

Suami dari Atalia Praratya ini juga mencermati situasi dan kondisi politik hari ini, yang sejatinya bukan sekadar tentang hingar bingar perebutan kekuasaan, bukan pertengkaran antargolongan, dan bukan sekadar caci maki di media ataupun drama-drama penangkapan.

Politik menjadi kotor, dalam pandangan Ridwan Kamil, para praktisi politik menghalalkan segala cara, seperti halnya doktrin politik Machiaveli di Italia. Politikpun  menjadi penghancur peradaban. Emil mencontohkan runtuhnya kejayaan Islam di Andalusia, karena umat Islam saat itu saling bermuslihat untuk berkuasa.

‘’Jika politik menjadi kekejian, jika nafsu menjajah menjadi niatan. Ini akan seperti Hitler yang menjajah dan menindas Eropa,’’ tegasnya. Emil tak lupa mengutip idiom kekinian, yang ada di film Dylan 1990. ‘Menjadi pemimpin itu berat. Kamu tidak akan kuat. Biar aku saja’. Itu kata Dilan, jika ia jadi gubernur.

Ditegaskan Emil, menjadi pemimpin itu memang berat, sekaligus mulia. Menjadi mulia jika ia menjadi teladan. Menjadi mulia jika ia membawa perubahan. Menjadi mulia jika ia mengakselerasi kemajuan. Menjadi mulia jika ia visioner membawa jalan keluar.

Untuk itu, dengan bekal pengalaman, dirinya (Wali Kota Bandung) dan Uu Ruzhanul Ulum (Bupati Tasikmalaya), membulatkan tekad untuk memberikan yang terbaik untuk Provinsi Jawa Barat. ‘’Kami berdua adalah dua kepala daerah  yang memiliki pengalaman melayani umat dan rakyat,’’ ujarya.

Keduanya dapat diibaratkan sebagai sepasang montir yang setiap hari membereskan mesin rusak, mengurusi mesin-mesin pembangunan. Keduanyapun berangkat dari akar dan jati diri pesantren. Emil mengurusi pesantren pagelaran di Subang. Sementara Uu kebagian turut mengurusi Pesantren Miftahul Huda yang merupakan warisan leluhurnya.

Pasangan RINDU, menurut Emil, adalah pasangan yang sangat klop dan cocok. Seperti mur ketemu bautnya. ‘’Saya berpengalaman mengurusi kota. Sahabat saya Kang UU berpengalaman mengurusi desa. Saya sering berinteraksi global. Sahabat saya Kang UU fasih berinteraksi lokal,’’ tegasnya.

Jika terpilih nantinya, tegas Emil, pasangan RINDU akan membawa Provinsi Jawa Barat menjadi provinsi terbaik, masyarakat terbaik dan peradaban terbaik. Sesuai yang dijanjikan Allah Swt dalam Alquran surat Al Imran ayat 110, sebagai umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, yang menyuruh berbuat yang makruf (kebaikan) dan mencegah dari perbuatan munkar, serta beriman kepada Allah Swt.

Oleh karena itu, menurut Emil, Insya Allah pasangan RINDU akan memimpin dengan menginspirasi, bukan mengintimidasi, akan memimpin dengan menggerakkan bukan menekan, akan memimpin dengan turun tangan bukan tunjuk tangan, akan memimpin dengan merangkul bukan memukul, dan akan memimpin dengan maju melompat bukan jalan di tempat.

Di akhir pidato, Emil mengajak para pendukungnya untuk memberikan dukungan dengan segala daya, ikhtiar dan keikhlasan, serta berdoa memohon kepada Allah Swt, agar RINDU diberikan kemudahan dan kelancaran selama mengikuti proses Pilgub Jabar 2018. Ril

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA