Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Hasil Dua Survei Berbeda, Politikus Gerindra Bingung

Kamis 24 Nov 2016 21:33 WIB

Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Bilal Ramadhan

Wakil Komisi III DPR Desmond J. Mahesa.

Wakil Komisi III DPR Desmond J. Mahesa.

Foto: Ist

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Politikus Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Desmond J Mahesa, mempertanyakan keabsahan hasil survei terbaru yang dirilis lembaga Indikator Politik Indonesia terkait Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017.

Dalam survei tersebut, pasangan calon gubernur/wakil gubernur Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (Anies-Sandi), berada di urutan paling buncit dengan perolehan suara sebesar 24,5 persen.

Padahal, lanjutnya, hasil survei LSI (Lingkaran Survei Indonesia) beberapa waktu lalu justru menunjukkan elektabilitas Anies-Sandi berada di urutan paling atas dengan perolehan suara 31,9 persen. Sementara, hasil survei Indikator Politik mengatakan dukungan warga DKI kepada Anies-Sandi hanya 24,5 persen.

"Pertanyaannya, mana yang harus dipercaya, apakah survei LSI atau survei Indikator Politik?", ujar Desmond di Jakarta, Kamis (24/11).

Yang lebih membuatnya heran, hasil survei LSI pada awal November lalu malah menunjukkan posisi pasangan pejawat Basuki T Purnama dan Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) yang berada di urutan paling bawah, yaitu hanya 10,6 persen.

Sementara, hasil survei Indikator Politik Indonesia pimpinan Burhanuddin Muhtadi kali ini menyebut Ahok-Djarot berada di urutan kedua dengan perolehan suara 26,2 persen, mengungguli pasangan Anies-Sandi.

"Menurut saya, dalam survei (Indikator Politik) ini ada kesan untuk menyemangati Ahok agar bangkit (dari keterpurukannya). Tambahan lagi, survei ini juga banyak memaparkan soal kinerja Ahok selama menjabat. Saya menilai ini sudah sama dengan kampanye untuk kandidat yang berkuasa (Ahok)," kata Desmond.

Menurut dia, survei yang dilakukan suatu lembaga riset seharusnya bisa menjadi proses edukasi dan acuan ilmiah bagi masyarakat. Karenanya, dia menyayangkan jika ada lembaga survei yang mencoba menggiring opini masyarakat terhadap pasangan calon tertentu.

Menanggapi kritik Desmond, Direktur Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, mengaku tidak bisa mengomentari hasil survei yang dirilis LSI beberapa waktu lalu. Menurut dia, setiap lembaga survei punya metodologi masing-masing dalam melakukan risetnya, sehingga tidak bisa dilakukan perbandingan antara satu dengan lainnya.

"Terlepas dari itu semua, jika ada yang meragukan metodologi survei yang kami pakai, Indikator Politik Indonesia siap kok untuk diaudit," kata Burhanuddin di Jakarta, Kamis (24/11).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA