Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Manchester City atau Liverpool: Laga Penentu Juara

Ahad 12 Mei 2019 09:53 WIB

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Budi Raharjo

Para pemain Liverpool merayakan kemenangan.

Para pemain Liverpool merayakan kemenangan.

Foto: EPA/NIGEL RODDIS
Manchester City hanya selisih satu poin dengan Liverpool di puncak klasemen.

REPUBLIKA.CO.ID, MANCHESTER -- Pertandingan pamungkas Liga Primer Inggris pada Ahad (12/5) malam akan jadi laga penentu dua tim papan atas memperebutkan gelar juara. Bagaimana tidak, Manchester City hanya selisih satu poin dengan Liverpool di puncak klasemen.

City saat ini mengoleksi 95 poin dan Liverpool 94 poin. Artinya, jika City kalah atau imbang, sementara Liverpool menang, maka pasukan Juergen Klopp tersebut dapat menjadi juara Liga Inggris. Namun jika City bisa mengunci gelar juara jika meraih tiga poin di kandang Brighton, meskipun the Reds juga menang atas Wolves.

Tapi ada skema lain, meski belum pernah terjadi di sepakbola Inggris, yaitu play-off. Sebab berdasarkan peraturan dari Liga Primer Inggris, penentuan juara atau Liga Champions atau kualifikasi kompetisi lainnya, tidak bisa diputuskan jika memiliki poin dan selisih gol serta jumlah gol yang dicetak.

Jalan terakhir ini bisa saja terjadi seandainya City kalah 4-0 di Falmer Stadium. Sementara Liverpool imbang 4-4 di Anfield. Walaupun terkesan hampir tidak mungkin, hanya saja dalam sepakbola segalanya masih dapat terjadi. Kalau saja sampai play-off, maka pertandingan akan digelar di lapangan yang netral, dengan waktu, format dan tempat yang ditentukan oleh penyelenggara liga.

Skema play-off tersebut hampir saja terjadi pada musim 2011/12. Saat itu, dua klub asal Manchester memuncaki Liga Inggris dengan poin yang sama sampai laga terakhir. Baik MU maupun City saat itu menang 28 kali, imbang 5 dan kalah lima.

Namun City berhak juara kala itu meskipun sama-sama memiliki poin 89. Sebab City unggul selisih gol. Saat itu City mengantongi selisih gol 64 sementara MU hanya 56.

Poin sama juga bisa terjadi musim ini, jika saja City kalah dan Liverpool imbang. Namun jika skor kekalahan City kurang dari 0-4, maka mereka akan tetap juara, karena selisih empat gol dengan Liverpool.

Hanya saja, melihat lawan dari kedua tim, maka City lebih diuntungkan. Karena lawan Liverpool, Wolves, sedang dalam performa terbaik mereka. Bahkan Wolves musim ini menjadi penjegal tim-tim papan atas. Sebut saja Arsenal, Manchester United hingga Tottenham pernah mereka kalahkan. Bahkan Liverpool sendiri tersingkir dari Piala FA karena tumbang oleh Wolves Januari lalu.

Namun the Reds masih berharap dapat mewujudkan mimpi mereka memenangkan gelar Liga Inggris. Virgil van Dijk, menolak untuk menyerah dalam laga terakhirnya. Ia bertekad dapat mengangkat trofi liga dalam pertandingan terakhir di Anfield.

Bek internasional Belanda itu menyebut langkah timnya di semifinal Liga Champions lawan Barcelona. Dimana Liverpool tertinggal 3-0 di Camp Nou, dan mampu bangkit di Anfield dengan menang 4-0.

"Anda tidak pernah tahu dan satu-satunya yang bisa kami lakukan adalah fokus mengalahkan Wolves. Karena itu adalah tugas yang sangat berat," ucap Van Dijk, dikutip dari Sky Sports, Sabtu (11/5).

Walaupun ia mengaku realistis, mengingat laju City yang impresif sepanjang musim. Tapi Wolves, yang merupakan pendatang baru di Liga Primer musim ini, juga tampil mengejutkan, dengan berada di peringkat tujuh klasemen, dan menyulitkan banyak tim.

Namun Van Dijk menegaskan, akan memberikan segalanya dalam laga terakhir di Anfield tersebut. "Jika kami menang, kami telah melakukan tugas dengan baik lalu kami akan lihat apa yang terjadi di Brighton," ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Juergen Klopp, juru taktik Liverpool. Ia menjelaskan timnya hanya bisa fokus mengalahkan Wolves. Karena hanya dengan kemenangan yang bisa membuat Liverpool melompati City, jika the Citizien kalah atau imbang.

Namun, ia menyatakan, akan ada momen besar dalam sepakbola akhir pekan ini. Menurut dia, City akan terus memenangkan pertandingan mereka, hingga benar-benar mendapatkan juara. "Tapi satu-satunya yang bisa kami lakukan adalah memenangkan pertandingan. Pekan ini belum usai, jadi kami akan maju untuk itu (juara)," tegas dia.

photo

Pelatih Manchester City Pep Guardiola berbicara dengan Vincent Kompany usai pertandingan melawan Leicester, Selasa (7/5) dini hari WIB.


Sementara, Pep Guardiola mengaku pemainnya semakin berkembang karena tekanan untuk bisa memenangkan gelar Liga Inggris dua kali berturut-turut. Ia mengatakan, City bermain untuk sesuatu yang unik, yaitu memenangkan Liga Inggris.

Sehingga pemain harus merasakan tekanan dan gugup, untuk mengetahui bahwa pertandingan akan berjalan sulit. "Sangat sulit untuk sekali memenangkan (gelar) dalam hidup, bayangkan (jika) dua (gelar). Ada tekanan tapi itu bagus," ujar Guardiola.

Oleh karena itu, Guardiola meminta para pemainnya untuk mengingat dua musim yang telah mereka capai. Sehingga ia minta para pemainnya untuk bermain agresif, fokus pada semua lini dan berusaha mencetak gol sebanyak mungkin.

City pergi ke Brighton untuk mencari 14 kemenangan secara beruntun. City terakhir kalah pada 29 Januari oleh Newcastle. :Kami telah memenangkan 13 pertandingan terakhir, jadi kami layak untuk berada di posisi ini, dan kami akan mempertahankannya," ucap Guardiola.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA