Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Teror Pembakaran Kendaraan Bermotor yang Masih Terjadi

Selasa 19 Feb 2019 17:20 WIB

Rep: Bowo Pribadi, Ronggo Astungkoro, Antara/ Red: Muhammad Hafil

Pemilik kendaraan menunjukkan sepeda motor yang dibakar orang tidak dikenal di Desa Sampangan, Gajah Mungkur, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (2/2/2019). Teror pembakaran kendaraan baik roda dua maupun roda empat oleh orang tidak dikenal selama Januari 2019 yang tercatat Polda Jateng hingga Sabtu (2/2/2019) yaitu 22 kejadian di Kota Semarang, Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal.

Pemilik kendaraan menunjukkan sepeda motor yang dibakar orang tidak dikenal di Desa Sampangan, Gajah Mungkur, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (2/2/2019). Teror pembakaran kendaraan baik roda dua maupun roda empat oleh orang tidak dikenal selama Januari 2019 yang tercatat Polda Jateng hingga Sabtu (2/2/2019) yaitu 22 kejadian di Kota Semarang, Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal.

Foto: Antara
Teror dilakukan untuk menciptakan kesan suasana sedang tidak aman.

REPUBLIKA.CO.ID, TEMANGGUNG -- Teror pembakaran sepeda motor dan mobil di sejumlah daerah di Jawa Tengah masih terjadi. Kejadian terakhir menimpa Sungkono (53 tahun), warga Dusun Kalisalam, Desa Ketitang Jumo, Kabupaten Temanggung, Senin (18/2) dini hari.

Dua sepeda motor miliknya dibakar oleh orang tak dikenal. Beruntung pembakaran sepeda motor tersebut langsung diketahui pemiliknya. Sehingga, api tidak merambat ke rumah korban, meskipun kedua sepeda motor itu sudah hangus.

Baca Juga

Sungkono menuturkan saat kejadian itu dirinya sedang di dalam rumah. Meskipun sudah pukul 02.00 WIB, dirinya belum sepenuhnya terlelap dalam tidur sehingga saat kedua sepeda motor yang diparkir di teras rumah dibakar oleh orang tidak dikenal, ia  langsung mengetahui dan berusaha memadamkannya. "Memang sudah dini hari, tetapi beruntung saya masih terjaga," katanya.

Ia mengaku sangat kaget saat pertama kali melihat ada kobaran api di depan rumahnya. Dirinya tidak menyangka jika kobaran api tersebut berasal dari kedua sepeda motor miliknya yang diparkir di teras rumah.

"Siapa yang tidak kaget, kobaran api dari kedua sepeda motor itu cukup besar. Saya sempat khawatir kalau api itu merambat ke rumah," katanya.

Mengetahui kejadian itu, Sungkono langsung membangunkan istrinya, Surati (43) dan anak menantunya Risman Suciyono (33) serta anaknya Rina Setiyanti (23). Mereka pun  memadamkan api yang membakar sepeda motor tersebut.

"Begitu saya keluar dan memeriksa kejadian itu, kemudian saya langsung membangunkan semua isi rumah untuk memadamkan api, takutnya kalau sampai membesar dan merambat ke rumah kami," katanya.

Sungkono menuturkan, api yang membakar kedua sepeda motor tersebut bisa dipadamkan sekitar pukul 02.30 WIB, namun dirinya masih merasa syok berat dengan kejadian tersebut. "Meskipun sudah padam, kami sekeluarga merasa syok dan terancam," katanya.

Sungkono menyampaikan dua sepeda motor itu memang tidak pernah masuk rumah. Satu sepeda motor miliknya dan satunya lagi titipan tetangga.

Ia mengatakan kejadian itu langsung dilaporkan ke Polsek Jumo dan saat ini polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara dan memasang garis polisi. "Jam 06.00 WIB saya laporkan kejadian itu ke Polsek Jumo, sekarang sudah dipasang garis polisi," katanya.

Pihak kepolisian masih menyelidiki kasus tersebut. Namun, belum bisa memberikan keterangan terkait kebakaran dua sepeda motor tersebut.

Teror pembakaran kendaraan bermotor telah terjadi sedikitnya di lima daerah, seperti Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal, Kabupaten Grobogan, dan Kabupaten Temanggung. Di wilayah Kota Semarang misalnya, terjadi 17 kasus pembakaran kendaraan, di Kendal ada delapan kasus dan di Kabupaten Semarang, Kabupaten Temanggung, serta Kabupaten Grobogan telah terjadi masing-masing satu kasus. Jumlah tersebut di luar dari kasus yang terjadi di luar bulan Februari. Karena, kasus ini mulai terjadi pada akhir 2018 lalu.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menduga ada aktor profesional di balik aksi teror pembakaran kendaraan bermotor, yang terjadi di sejumlah daerah, di Provinsi Jawa Tengah, baru- baru ini. Tujuannya tak lain untuk membuat menciptakan rasa takut di tengah-tengah masyarakat dan mendiskreditkan aparat penegak hukum dengan menciptakan kesan Jawa Tengah tidak lagi aman.

“Saya melihat ada pihak tertentu yang ingin menjelekkan atau melemahkan wibawa pemerintahan,” kata Ganjar belum lama ini.

Menurut Ganjar, aksi teror pembakaran kendaraan yang marak terjadi di wilayahnya sengaja didesain untuk menciptakan ketakutan. Namun tujuan utama yang sesungguhnya dari aksi teror tersebut adalah untuk mendiskreditkan pemerintah di mata masyarakat, agar terbangun persepsi yang miring terhadap aparat penegak hukum.   

“Sehingga aksi teror itu tak sekedar menciptakan rasa takut di tengah masyarakat, namun juga ingin membangun citra pemerintah tidak mampu menanganinya,” kata Ganjar dalam dialog tersebut.

Analisis ini, jelas gubernur, bisa dilihat dari aksi para pelaku yang mayoritas beraksi pada masyarakat kalangan menengah ke bawah, atau kelompok masyarakat yang dianggap mudah untuk dipengaruhi. Menurutnya, selama ini yang menjadi sasaran aksi teror pembakaran itu kebanyakan kendaraan bermotor milik masyarakat menengah ke bawah, di daerah pinggiran dan juga bukan kendaraan bermotor yang mewah.

“Mereka (para pelaku) ingin menciptakan rasa takut yang berlebihan di tengah- tengah masyarakat kecil, dengan harapan akan korbannya akan bereaksi dengan langsung menyalahkan pemerintah dan aparat penegak hukumnya,” tegas gubernur.

Kendati bagitu, lanjutnya, tujuan dari para pelaku tersebut sepertinya tidak berhasil. Sampai saat ini, masyarakat Jawa Tengah masih adem-adem saja dan bahkan juga tidak takut dengan adanya aksi teror tersebut.

Setidaknya, ini dibuktikan oleh aktivitas ekonomi yang masih berjalan seperti biasa, rutinitas masyarakat juga masih normal. Serta tidak ada kekhawatiran yang berlebihan hingga kepentingan  masyarakat menjadi terganggu.

Kalaupun ada peningkatan keamanan oleh aparat, tak lain untuk mengungkap siapa sebenarnya para pelaku aksi teror tersebut, termasuk untuk menguak siapa aktor profesional yang ada di belakangnya. Ganjar juga menegaskan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah bersama-sama aparat Polda Jawa Tengah serta Pangdam IV/ Diponegoro terus berupaya untuk mengungkap berbagai aksi teror ini.

Selain itu, Gubernur juga mengimbau masyarakat di daerah sasaran mapun di daerah lain yang belum menjadi sasaran aksi teror ini juga terus meningkatkan sistem keamanan di lingkungannya masing-masing. “Saya meminta masyarakat untuk ikut berperan, aktifkan lagi jaga malam (siskamling), pasang CCTV dan portal-portal untuk mengantisipasi terjadinya aksi teror dan gangguan keamanan hingga pesta demokrasi nanti berlangsung,” tegasnya.

Masyarakat pun juga diminta untuk tetap tenang karena Polri, TNI dan instansi terkait sudah merespons dengan cara dan kewenangannya masing-masing untuk mengungkap berbagai kasus teror ini. Sementara itu, instruksi kepada warga untuk meningkatkan fungsi pengamanan di lingkungannya masing-masing telah diterima oleh para pemangku lingkungan yang ada di wilayahnya.

Guna memastikan keamanan di lingkungan masyarakat berjalan dengan optimal, Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Condro Kirono, memerintahkan jajaran Babinkamtibmas Polres Kendal untuk siaga di tiap-tiap balai desa.

Menyusul maraknya aksi teror berupa pembakaran kendaraan bermotor oleh orang tak dikenal, Kapolda meminta kewaspadaan kamtibmas ditingkatkan, termasuk keamanan lingkungan swadaya oleh warga.

Hal ini dilakukan guna mengantisipasi meluasnya aksi yang belum diketahui siapa pelaku maupun motifnya tersebut. “Polisi masih terus memburu pelaku yang masih misterius tersebut,” kata Kapolda.

Pada saat yang sama, jelasnya, masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan di lingkungannya masing-masing. Kapolda juga mengatakan, selain Babinkamtibmas dukungan Babinsa untuk siaga di masing-masing balai desa juga diperlukan.

Baca juga: Jokowi: Data Impor Pangan di Debat Capres dari Kementerian

Baca juga: Asal Mula Istilah Unicorn pada Startup

Terkait dengan maraknya aksi teror pembakaran kendaraan bermotor ini, aparat kepolisian menggelar rapat koordinasi lintas sektoral, guna mengantisipasi gangguan kamtibmas di wilayah hukum Polres Kendal.

Rapat koordinasi ini juga dihadiri oleh Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen TNI Mochamad Efendi. “Polri bersama dengan TNI terus bersinergi menjaga keamanan di wilayah Kabupaten Kendal,” jelas kapolda.

Kapolda juga mengungkapkan, aparat kepolisian juga menginstruksikan patroli dalam skala besar selama beberapa waktu terakhir guna mencegah teror pembakaran kendaraan bermotor di wilayah Kota Semarang, Kabupaten Kendal dan sekitarnya.

Untuk itu, Polda Jawa Tengah memperbantukan personilnya guna mendukung patroli skala besar tersebut. Sedikitnya 450 personel Polda Jawa Tengah telah diperbantukan di Polrestabes Semarang.

Meski begitu, kapolda juga meminta dukungan masyarakat untuk meningkatkan keamanan di lingkungan masing- masing. “Mengingat luasnya wilayah yang harus diawasi, polisi juga butuh swadaya dari masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, aparat Polres Semarang juga terus meningkatkan eskalasi pengamanan di wilayahnya, menyusul belum terungkapnya pelaku pembakaran dua sepedamotor milik warga Kelurahan Beji, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, beberapa waktu lalu.

Hingga saat ini, polisi juga belum bisa mengidentifikasi siapa pelaku teror pembakaran dua unit kendaraan yang dilakukan oleh orang tak dikenal. Kendati begitu untuk mengantisipasi kejadian serupa jajaran Polres Semarang telah meningkatkan kewaspadaan.

“Bahkan aparat Polres Semarang telah membentuk unit khusus untuk mengungkap kasus teror ini,” ungkap Kasubag Humas Polres Semarang, AKP Teguh Susilo Hadi, yang dikonfirmasi terpisah.

Kasus ini juga mendapat perhatian dari Mabes Polri. Dari beberapa titik tempat kejadian perkara (TKP), pola kejahatan dan bahan bakar yang digunakan sama.

"Laboratorium forensik (Labfor) Inafis mencari rekam jejak-jejak yang ditinggalkan pelaku. Seperti bahan bakar. Dari beberapa TKP itu menggunakan satu jenis bahan bakar," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigjen Dedi Prasetyo.

Dedi juga menyampaikan, tim Labfor Inafis Polri juga tengah menganalisa beberapa CCTV yang sudah didapatkan oleh tim satuan tugas (satgas) yang bekerja di sana. Terkait ada atau tidaknya sidik jari yang ditemukan, tim Inafis juga sedang melakukan pendalaman atas hal tersebut.

"Polanya sudah dapat. Dari puluhan TKP polanya sama dan bahan bakar yang digunakan sama," jelas Dedi.

Di samping itu, Kodam IV/Diponegoro siap mendukung pengamanan wilayah di Jawa Tengah. Langkah itu dilakukan menyusul maraknya aksi teror pembakaran kendaraan bermotor oleh orang tak dikenal di sejumlah daerah di Jawa Tengah.

Dukungan Kodam IV/Diponegoro ini diwujudkan dengan mengerahkan personil TNI untuk memback-up jajaran kepolisian dalam menciptakan rasa aman di tengah-tengah warga Jawa Tengah.

Selain dukungan personil tambahan, Kodam IV/Diponegoro juga menyiapkan dukungan sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Upaya tersebut dilakukan TNI untuk membantu aparat kepolisian serta masyarakat dalam mewaspadai meluasnya aksi teror pembakaran kendaraan bermotor.

Baca juga: Survei: Elektabilitas Jokowi di DKI Terimbas Kekalahan Ahok

Baca juga: Jokowi Kaget dengan Harga Tiket Pesawat

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA