Minggu, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Minggu, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Manisnya Rente Impor Gula dan Keprihatinan Petani Tebu

Selasa 15 Jan 2019 09:42 WIB

Rep: Adinda Pryanka/Eko Widiyatno// Red: Teguh Firmansyah

Gula impor

Gula impor

Foto: Antara/R. Rekotomo
Pemerintah dinilai perlu untuk merevitalisasi pabrik gula.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi kebanyakan konsumen Indonesia, gula sudah menjadi pelengkap makanan ataupun minuman yang dikonsumsi setiap hari. Gula dipakai untuk penyedap teh, kopi atau masakan.

Bagi penggemar softdrink, kadar gula di minuman itu bahkan jauh lebih besar. Karena itu, bisnis pemanis ini tak pernah surut dan sangat menggiurkan. 

Seperti hal rasanya, impor gula juga terbilang manis. Dari tahun ke tahun gula yang masuk ke tanah air semakin meningkat.

Dalam konferensi pers tentang 'Manisnya Rente Impor Gula' di Jakarta, Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri mengatakan, intensitas kegiatan impor gula oleh pemerintah Indonesia sudah terlihat sejak 2009. Tapi, peningkatan signifikan baru terjadi pada 2016.

Baca juga, Produksi Gula Kristal Banyumas Belum Terserap Optimal.

Tren ini tergambarkan dari data Badan Pusat Statistik dan United States Department of Agriculture sampai Oktober 2018. Faisal mengatakan, puncak peningkatan impor gula terjadi pada tahun lalu.

Saat itu, Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara pengimpor gula terbesar sedunia menurut USDA dalam portal statistik, Statica. "Kita melampaui Cina dan Amerika Serikat," ujarnya, Senin (14/1).

Tiga tahun lalu, peningkatan paling tajam terjadi dari 3,38 juta ton pada 2015 menjadi 4,76 juta ton pada 2016. Pada 2017, impor gula ke Indonesia sempat turun menjadi 4,48 juta ton yang kemudian naik kembali menjadi 4,63 juta ton sepanjang 2018. "Angka itu stabil dalam nilai yang tinggi," ujar Faisal.

Kondisi tersebut kontras dengan konsumsi domestik yang tidak mengalami kenaikan secara signifikan. Produksi oleh petani lokal pun stagnan, bahkan cenderung turun.

Salah satu penyebabnya, tingkat kesejahteraan petani menurun karena sulit menjual gula sendiri akibat persaingan dengan gula impor yang semakin membanjiri pasar.

Beberapa waktu lalu, Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, Koperasi  dan UMKM Kabupaten Banyumas, Wisnu Hermawanto, mengunkapkan minimnya penyerapan gula kristal di daerah tersebut.

Ia menyebutkan produksi gula kristal yang dihasilkan petani penderes di wilayahnya mampu mencapai sekitar 30 ton per hari. Namun dari kapasitas produksi sebesar itu, yang mampu diserap pasar, baik untuk kebutuhan dalam dan luar negeri, baru sekitar 15 ton. "Untuk itu, kita sedang berupaya agar penyerapan bisa ditingkatkan sehingga kapasitas produksinya juga ikut meningkat," jelasnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA