Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Mengapa Rupiah Begitu Perkasa?

Ahad 02 Des 2018 05:15 WIB

Red: Elba Damhuri

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan sambutan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2018 dengan tema Sinergi untuk Ketahanan dan Pertumbuhan di Jakarta Convention Center, Selasa (27/11).

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan sambutan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2018 dengan tema Sinergi untuk Ketahanan dan Pertumbuhan di Jakarta Convention Center, Selasa (27/11).

Foto: Republika/Prayogi
BI menilai kepercayaan investor asing terhadap perekonomian Indonesia sangat tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Lida Puspaningtyas, Ahmad Fikri Noor

Nilai tukar rupiah terus melanjutkan penguatannya terhadap dolar AS. Menurut bank indonesia (BI), mata uang Garuda semakin perkasa karena derasnya aliran modal asing yang masuk ke Indonesia.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, investor asing menilai perekonomian Indonesia masih kuat. Dengan demikian, investor asing mau menanamkan modalnya di Indonesia melalui surat berharga negara (SBN) maupun bursa saham.

Aliran modal asing itu menambah pasokan dolar AS di dalam negeri sehingga membuat rupiah menguat . Menurut BI, modal asing yang masuk pada November sangat deras.

Bank sentral mencatat, aliran modal asing yang masuk ke SBN pada November 2018 mencapai Rp 34,25 triliun. Adapun sepanjang Januari-November 2018, jumlah yang masuk sebesar Rp 62,4 triliun. Dengan begitu, aliran modal masuk ke SBN sepanjang November mencapai lebih dari 50 persen dari total modal masuk pada periode Januari-November.

"Semakin banyak yang masuk, semakin baik kurs rupiah. Yang lebih bagus lagi, tidak cuma masuk ke SBN, tapi juga ke saham," kata Perry saat berbincang dengan wartawan di Kompleks Perkantoran BI, Jakarta, Jumat (30/11).

Di bursa saham, BI mencatat ada modal asing masuk sebesar Rp 12,2 triliun pada November. Sementara, sepanjang Januari-November, jumlahnya sebesar Rp 46,4 triliun. Kemarin, kurs rupiah ditutup pada level Rp 14.339 per dolar AS berdasarkan kurs tengah BI. Angka ini menguat dibandingkan kurs rupiah pada Kamis (29/11) yang sebesar Rp 14.408 per dolar AS.

Perry menjelaskan, kepercayaan investor asing terhadap Indonesia bukan hanya dikarenakan sejumlah kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah, melainkan juga karena stabilitas perekonomian yang terjaga. Ekonomi Indonesia masih tumbuh di level 5 persen. Inflasi pun terjaga pada kisaran 3,14 persen jika dibandingkan periode sama tahun lalu.

Perry menambahkan, faktor lain yang mendukung menguatnya rupiah adalah semakin bekerjanya mekanisme pasar. Dengan berbagai terobosan yang ditempuh bank sentral, pasar keuangan diklaim berkembang sangat baik.

Faktor terakhir yang mendukung pergerakan positif rupiah adalah menurunnya risiko global, terutama dengan adanya beberapa proses perundingan antara Amerika Serikat dan Cina di KTT G-20. Selain itu, bank sentral AS the Federal Reserve sudah menyiratkan tak akan lagi agresif menaikkan suku bunga.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA