Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

Sepak Bola Nasional Butuh Restrukturisasi Total

Kamis 29 Nov 2018 05:51 WIB

Red: Elba Damhuri

Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi memberikan keterangan pers di Jakarta, Selasa (25/9).

Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi memberikan keterangan pers di Jakarta, Selasa (25/9).

Foto: Republika/ Wihdan
Sepak bola nasional akan bangkit jika seluruh pihak bersinergi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Abdullah Sammy, Hartifiany Praisra

Wakil Ketua Staf Ahli Timnas Indonesia Sihar Sitorus menilai, restrukturisasi persepakbolaan nasional mendesak untuk dilakukan. Menurut pria yang juga pemilik klub Pro Duta FC itu, restrukturisasi jauh lebih mendesak ketimbang sekadar melakukan bongkar pasang pengurus PSSI.

Selama struktur persepakbolaannya bermasalah, kata Sihar, siapa pun yang duduk di kursi pengurus PSSI akan sulit menjalankan fungsinya. Sihar yang juga rival dari Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi dalam pemilihan gubernur Sumatra Utara menilai, persoalan yang terjadi di persepakbolaan nasional tidak harus dibebankan pada satu orang semata.

Sebab, persoalan persepakbolaan nasional sudah terjadi dalam jangka waktu yang lama. “Saya pikir kita sudah melewati banyak tahapan hingga hari ini, mulai dari beberapa kali dualisme dan pembekuan. Saya lebih melihat adanya kebutuhan restrukturisasi persepakbolaan nasional daripada pergantian ketum,” kata Sihar, Rabu (28/11).

Restrukturisasi perlu dilakukan menyeluruh pada setiap elemen sepak bola nasional. Mulai dari kompetisi, pembinaan, suporter, klub, perwasitan, hingga federasi.

“Sulit untuk mengatakan hanya satu yang dibenahi. Boleh dibilang federasi, liga, pembinaan, suporter, klub, wasit perlu overhaul (diperbaiki),” ujar dia.

Sihar menegaskan, hal krusial yang perlu direstukturisasi adalah sistem yang telah lama mengakar. Dia pun mempertanyakan, apakah selama ini sudah ada perbaikan terkait legalitas hukum klub-klub di Indonesia atau tidak. Tak hanya itu, persoalan finansial dan perwasitan perlu ada perbaikan yang total.

“Apakah legalitas semua klub sudah beres? Apakah finansial klub sudah mandiri? Apakah perwasitan sudah bebas titipan?” kata Sihar mengkritisi.

Namun, Sihar juga mendukung agar persepakbolaan nasional diisi figur-figur baru yang memiliki rekam jejak baik dalam mengelola sepak bola. Tanpa ragu, Sihar mendukung Erick Thohir untuk ikut terlibat dalam mengelola sepak bola nasional.

Menurutnya, sosok seperti Erick diperlukan sepak bola Indonesia. Dengan pengalaman dan jam terbangnya di sepak bola internasional, Sihar menilai banyak hal positif yang akan dibawa Erick pada persepakbolaan Indonesia.

Namun, Sihar kembali menggarisbawahi bahwa sepak bola nasional akan bangkit jika seluruh pihak bersinergi. Menurutnya, perlu komitmen dari semua pihak untuk mengubah struktur negatif yang telah mengakar dari tingkat daerah hingga pusat. “Persepakbolaan nasional juga membutuhkan komitmen dari pelaku untuk berubah,” kata Sihar menegaskan.

Sihar mengaku mendukung usulan Erick Thohir tentang pentingnya membenahi persoalan kontrak pemain. Sebelumnya, Erick sempat mengutarakan bahwa persoalan kontrak pesepak bola nasional yang sangat singkat berpotensi mengancam performa pemain di lapangan.

Akibat sistem kontrak pesepak bola Indonesia yang singkat itu, banyak pemain muda yang setiap tahun berganti klub. Hal itu, dinilai Erick, dapat mengganggu mental dan teknis pemain yang akhirnya bisa mengancam performanya.

Terkait pandangan Erick ini, Sihar pun punya pandangan yang sama. “Setuju dengan pemikiran kontrak panjang. Aset klub adalah pemainnya,” kata Sihar.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA