Wednesday, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 December 2018

Wednesday, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 December 2018

Masa Depan Takhta MBS di Saudi Mulai Terancam

Selasa 20 Nov 2018 21:46 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Andri Saubani

Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman

Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman

Foto: AP/Amr Nabil
Beberapa anggota keluarga kerajaan dilaporkan sedang mencegah MBS menjadi raja.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH - Di tengah gejolak internasional terkait kasus pembunuhan jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi, beberapa anggota keluarga kerajaan Arab Saudi sedang mempertimbangkan untuk mencegah Putra Mahkota Mohammed bin Salman menjadi raja. Informasi ini didapatkan dari tiga sumber yang dekat dengan kerajaan.

Sumber itu mengatakan, puluhan pangeran dan sepupu dari keturunan keluarga Al Saud menginginkan adanya perubahan dalam garis kepemimpinan kerajaan. Namun, mereka tidak dapat bertindak saat Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud yang kini berusia 82 tahun, masih hidup.

Mereka mengakui, Raja Salman tidak mungkin berbalik melawan putra kesayangannya, Pangeran Mohammed, yang dikenal di Barat dengan sebutan MBS. Mereka mendiskusikan kemungkinan anggota keluarga kerajaan lainnya yang akan mengambil alih takhta setelah kematian Raja Salman. Sosok yang dipertimbangkan adalah Pangeran Ahmed bin Abdulaziz (76 tahun), adik laki-laki Raja Salman dan paman dari MBS.

Menurut sumber, Pangeran Ahmed, satu-satunya saudara laki-laki Raja Salman yang masih hidup, akan mendapat dukungan dari anggota keluarga, aparat keamanan, dan beberapa kekuatan Barat. Pangeran Ahmed kembali ke Riyadh pada Oktober lalu setelah menghabiskan waktu 2,5 bulan di luar negeri. Selama berada di luar Saudi, ia banyak mengkritik kepemimpinan Saudi dan juga menanggapi pengunjuk rasa di London yang meneriakkan jatuhnya dinasti Al Saud.

Dia adalah salah satu dari hanya tiga orang anggota Allegiance Council yang menentang MBS menjadi putra mahkota pada 2017. Baik Pangeran Ahmed maupun wakilnya tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar. Pejabat di Riyadh juga tidak segera menanggapi permintaan dari Reuters untuk mengomentari masalah ini.

Baca juga

The House of Saud

The House of Saud terdiri dari ratusan pangeran. Tidak seperti monarki Eropa yang khas, tidak ada pewarisan takhta otomatis dari ayah ke putra sulungnya.

Sebaliknya, tradisi kesukuan kerajaan Saudi menentukan bahwa raja dan anggota keluarga senior dari masing-masing suku memilih ahli waris yang mereka anggap paling sesuai untuk memimpin. Pejabat senior AS telah mengindikasikan kepada penasihat Saudi dalam beberapa pekan terakhir bahwa mereka akan mendukung Pangeran Ahmed sebagai calon pengganti Raja Salman. Pangeran Ahmed telah menjadi wakil menteri dalam negeri Saudi selama hampir 40 tahun.

Sumber-sumber Saudi mengatakan, mereka yakin Pangeran Ahmed tidak akan mengubah salah satu reformasi sosial atau ekonomi yang diberlakukan oleh MBS. Ia juga dinilai akan menghormati kontrak pengadaan militer yang telah disepakati dan akan memulihkan persatuan keluarga.

Seorang pejabat senior AS mengatakan, Gedung Putih tidak terburu-buru untuk menjauhkan diri dari MBS, meski ada tekanan dari anggota parlemen dan CIA yang menyatakan MBS telah memerintahkan pembunuhan Khashoggi. Sikap Gedung Putih dapat berubah setelah Trump mendapat laporan definitif tentang kasus pembunuhan itu dari komunitas intelijen.

Sumber-sumber Saudi juga mengatakan, pejabat-pejabat AS telah menjauhi MBS bukan hanya karena perannya yang dicurigai dalam pembunuhan Khashoggi. Mereka juga merasa khawatir karena MBS telah mendesak Kementerian Pertahanan Saudi untuk mengeksplorasi pasokan senjata alternatif dari Rusia.

Dalam sebuah surat tertanggal 15 Mei, yang dilihat oleh Reuters, MBS meminta agar Kementerian Pertahanan Saudi fokus pada pembelian sistem dan peralatan persenjataan yang paling mendesak di lapangan, termasuk sistem rudal surface-to-air S-400.

Pembunuhan brutal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul bulan lalu telah mengundang kecaman global, termasuk dari banyak politisi dan pejabat di AS, sekutu penting Saudi. CIA percaya MBS telah memerintahkan pembunuhan itu. Namun, jaksa penuntut umum Arab Saudi mengatakan MBS tidak tahu apa-apa tentang pembunuhan itu.

Sejak penobatannya sebagai putra mahkota, MBS telah memperoleh banyak dukungan terkait reformasi sosial dan ekonomi tingkat tingginya, termasuk mengakhiri larangan mengemudi bagi perempuan dan membuka bioskop di Saudi. Meski demikian, reformasi itu disertai juga dengan tindakan keras terhadap perbedaan pendapat, penangkapan sejumlah pangeran dan pengusaha atas tuduhan korupsi, dan perang mahal di Yaman.

Dia juga menyingkirkan anggota senior keluarga kerajaan dan mengambil alib kontrol atas badan keamanan dan intelijen Saudi. Dia pertama kali menggulingkan mantan putra mahkota dan menteri dalam negeri Mohammed bin Nayef (59), pada Juni 2017. Ia kemudian menyingkirkan Pangeran Miteb bin Abdullah (65), putra almarhum Raja Abdullah, sebagai kepala Garda Nasional dan menahannya sebagai bagian dari kampanye antikorupsi.

Sekitar 30 pangeran lainnya juga ditangkap, dianiaya, dipermalukan, dan dilucuti kekayaannya. Hal itu dilakukan bahkan ketika MBS membeli kapal pesiar seharga 500 juta dolar AS dan mencetak rekor baru di pasar seni internasional dengan membeli lukisan karya seniman Renaisans Italia, Leonardo Da Vinci.

Menurut salah satu sumber Saudi, banyak pangeran dari kalangan senior di keluarga kerajaan percaya perubahan dalam garis pewarisan takhta tidak akan memancing perlawanan apa pun dari pihak keamanan atau badan intelijen yang dikendalikan MBS.

"Mereka (aparat keamanan) akan mengikuti konsensus yang dicapai oleh keluarga," ujar sumber itu.

Ketika raja meninggal atau tidak lagi dapat memerintah, Allegiance Council yang beranggotakan 34 orang, tidak akan secara otomatis menyatakan MBS adalah raja yang baru. Allegiance Council adalah sebuah badan yang mewakili setiap baris dari keluarga yang berkuasa untuk memberikan legitimasi kepada keputusan pewarisan takhta.

Bahkan sebagai putra mahkota, MBS masih membutuhkan dewan untuk meratifikasi kenaikan tahtanya. Meski dewan itu menyetujui keinginan Raja Salman untuk menjadikan MBS sebagai putra mahkota, dewan tidak akan selalu menerima MBS menjadi raja ketika ayahnya meninggal, terutama karena ia selalu berusaha menyingkirkan anggota dewan.

Sumber-sumber Saudi mengatakan, MBS telah menghancurkan pilar-pilar institusional hampir seabad pemerintahan Al Saud. Mereka mengatakan hal itu terlihat di dalam keluarga sebagai sebuah ketidakstabilan.

Terlepas dari kontroversi atas pembunuhan Khashoggi, MBS terus melanjutkan agendanya. Beberapa orang dalam kerajaan percaya ia tengah membangun sebuah istana yang terpencil di Sharma, di lokasi pembangunan Kota Neom, seharga 2 miliar dolar AS, untuk masa pensiun ayahnya.

Lokasinya terisolasi, kota terdekat dari istana itu adalah Tabouk, yang letaknya sejauh 100 km. Dengan tinggal di istana yang terpencil, maka Raja Salman akan keluar dari sebagian besar urusan negara.

[video] Detik-Detik Hilangnya Khashoggi di Konsulat Saudi

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA