Rabu, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 Desember 2018

Rabu, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 Desember 2018

Di Balik Operasi Penyusupan Tentara Israel ke Jalur Gaza

Kamis 15 Nov 2018 07:40 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Teguh Firmansyah

Warga melintasi bangunan yang hancur akibat serangan Israel ke Kota Gaza, Rabu (12/11).

Warga melintasi bangunan yang hancur akibat serangan Israel ke Kota Gaza, Rabu (12/11).

Foto: AP/Hatem Moussa
Israel menyebut misi ini tidak bermaksud untuk memprovokasi.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Aksi penyusupan yang dilakukan oleh Israel di Jalur Gaza telah memicu gelombang ketegangan baru. Aksi saling serang pun terjadi antara Israel dan Hamas yang didukung sekutunya Jihad Islam. Kendati telah dimediasi Mesir, benih-benih pertempuran dapat sewaktu-waktu pecah. Karena persoalan utama yang menjadi sumber pertikaian belum teratasi.

Sejumlah pertanyaan muncul, mengapa Israel menyusup ke Gaza di tengah situasi memanas ini? Mengapa Israel membunuh Komandan Hamas di Khan Younis?

Menurut seorang mantan pejabat intelijen Israel yang mengetahui informasi tersebut, tujuan dari misi ini adalah pengamatan, bukan pembunuhan. Misi semacam ini, pada umumnya bertujuan untuk memasang alat mata-mata dan diminimkan terjadi kontak senjata.

Juru bicara militer Israel Letnan Kolonel Jonathan Conricus mengonfirmasi, misi tersebut bukan untuk membunuh pemimpin Hamas. Aksi ini adalah misi rutin untuk memitigasi ancaman dari luar yang disebut Israel sebagai organisasi teroris. 

"Tujuan operasi ini bukan untuk menculik atau membunuh pemimpin Hamas," ujar Conricus seperti dilansir New York Times. 

Baca juga, Israel Serang Gaza, Komandan Sayap Militer Hamas Syahid.

Ia tak menjelaskan mengapa operasi itu berubah menjadi bentrokan. Namun, menurutnya, bila suatu waktu pasukan Israel menemui masalah, maka mereka akan bertindak secara profesional dan dengan cepat mempertahankan diri.

"Pasukan akan menarik diri secara profesional dan memastikan semua personel dapat balik ke Israel dengan aman, tanpa ada yang tertinggal," ujarnya.

photo

Warga melintasi bangunan yang hancur akibat serangan Israel ke Kota Gaza, Rabu (14/11).

Koresponden BBC Tom Bateman mengatakan, mantan jenderal Israel menyebut insiden ini terjadi karena ada kesalahan dalam menjalankan misi intelijen.

Namun seorang pejabat Hamas menilai kekerasan bermula ketika sebuah mobil yang lewat milik pasukan keamanan Israel menembaki milisi bersenjata di Gaza.  Serangan ini menewaskan salah seorang komandan Hamas.  Orang-orang bersenjata Hamas mengejar mobil itu saat menuju kembali ke perbatasan  Israel.

Para saksi mengatakan selama pengejaran tersebut pesawat Israel menembakkan lebih dari 40 rudal di daerah tempat insiden itu terjadi. 

Versi lain menyebut, pasukan Israel sudah diawasi oleh kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Hamas setelah memasuki tiga kilometer ke Gaza. Hal ini kemudian memicu konflik bersenjata yang mengakibatkan satu warga Palestina syahid dan tentara Israel tewas. 

Pascainsiden tersebut, Hamas melepaskan roketnya ke wilayah yang diduduki Israel. Sebaliknya Israel juga meluncurkan rudal, salah satunya mengarah ke gedung saluran televisi pro-Hamas. Setidaknya tujuh warga Palestina tewas, dan 25 lainnya terluka.

Kasus Khashoggi

Ada versi lain yang beredar terkait ketegangan baru-baru ini di Jalur Gaza. Versi itu mengaitkan nama  Putra Mahkota Saudi Pangeran Muhammad bin Salman (MBS). Pangeran dilaporkan telah berusaha membujuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk memulai konflik dengan Hamas di Gaza.

Menurut sumber di Arab Saudi yang mengatakan kepada Middle East Eye, hal itu merupakan bagian dari rencana untuk mengalihkan perhatian dunia dari kasus pembunuhan jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA