Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Saat Kedua Kubu Capres-Cawapres Adu Kuat Merebut Jawa Barat

Ahad 11 Nov 2018 15:08 WIB

Rep: Arie Lukihardianti, Febrianto Adi Saputro, Rizkyan Adiyudha/ Red: Muhammad Hafil

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menggunakan kostum pejuang didampingi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (kedua kanan) melambaikan tangan saat hadir pada acara Bandung Lautan Sepeda dalam rangka Hari Pahlawan, di kawasan Gasibu, Kota Bandung, Sabtu (10/11).

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menggunakan kostum pejuang didampingi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (kedua kanan) melambaikan tangan saat hadir pada acara Bandung Lautan Sepeda dalam rangka Hari Pahlawan, di kawasan Gasibu, Kota Bandung, Sabtu (10/11).

Foto: Republika/Edi Yusuf
Jokowi diuntungkan Ridwan Kamil sedangkan Prabowo memiliki militansi kader PKS.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG --  Kedua kubu capres-cawapres saling mengeluarkan pernyataan adu kuat di Jawa Barat. Kubu Jokowi-Ma’ruf yakin menang meski tipis sedangkan kubu Prabowo-Sandi yakin dapat mengulangi kemenangannya pada Pilpres 2014 lalu.

Pada Sabtu (10/11), Jokowi  menghadiri acara pertemuan caleg partai Koalisi Pendukung Jokowi di Hotel Asrillia, Sabtu (10/11). Menurut Jokowi yang kembali mencalonkan diri sebagai presiden, setelah ia hitung dan berdasarkan feeling di Jabar sekarang dirinya sudah menang. Tapi, menangnya tipis sekali.

"Kami ingin menangnya di Jabar menang banyak. Sekarang menangnya masih tipis sekali lagi ingin menang tebal. Kalau door to door inginnya menang tebal," ujar Jokowi pada ribuan caleg dari partai koalisi yang hadir.

Jokowi mengatakan, ia berharap angka pastinya perolehan suaranya di Jabar bisa terlihat di Desember atau Januari. "Saya ucapkan terima kasih pada Tim TKD yang telah bekerja. Bersatu semua partai dan relawan. Insya allah kita akan menang dan jadi nomor satu," katanya.

Menurut Jokowi, calon pejawat pasti dicari kekurangannya. Oleh karena itu timnya harus pandai-pandai menjelaskan ke masyarakat tentang kondisi sebenarnya. Timnya, harus cepat tanggap terhadap setiap isu dan fitnah. "Di Jabar akhir-akhir ini hoaks dan fitnah mulai menanjak tajam. Jadi harus di konter dengan baik," katanya.

Jokowi pun menitipkan pada semua timnya harus seperti lari marathon. Jadi, jangan larinya kencang di awal tapi di akhir ga ada nafas. "Jadi di depan kenceng dan diakhir lebih kenceng lagi ritme harus diatur," katanya.

Seperti diketahui, Jokowi mengalami kekalahan perebutan suara di Jabar pada pemilihan presiden 2014 lalu. Saat itu, pasangan Prabowo-Hatta Rajasa unggul dengan perolehan suara 14.167.381 atau 59,78 persen. Sementara itu, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla mendapat suara 9.530.315 atau 40,22 persen.

Kendati, hasil survei yang dilakukan Indopolling Network menempatkan elektabilitas paslon nomor urut 01 di Jabar unggul tipis dari kandidat pesaingnya. Jokowi-Ma'ruf mendulang suara 28,8 persen sedangkan pasangan Prabowo-Sandiaga meraih suara 23,7 persen.

Meski demikian, masih ada 29,8 persen pemilih yang masih merahasiakan pilihannya dalam pemilu kali ini. Lalu, ada 17,8 persen yang belum menyatakan pilihannya ke salah satu pasangan calon. Suara-suara ini nantinya masih bisa berubah seiring dengan dinamika politik hingga April mendatang.

 

Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jawa Barat, Dedi Mulyadi optimististis perolehan suara Joko Widodo akan meningkat signifikan di Jabar dibandingakan pelaksanaan Pilpres 2014. Salah satu faktornya, kehadiran dirinya dan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (Emil).

"Ada Dedi sama Emil target sudah tercapai artinya 60 persen tercapai," ujar Dedi usai menghadiri acara konsolidasi pemenangan Jokowi-Maruf Amin di Hotel Asrilia, Jalan Pelajar Pejuang, Kota Bandung, Sabtu (10/11).

Dedi mengatakan, dirinya dan Emil memiliki basis kuat dengan segmentasi yang mewakili semua pemilih. Faktor ini lah yang busa mendongkrak kemenangan Joko Widodo.

"Kan Pak Emil dan saya memiliki segmentasi. Saya kebudayaan, pedesaan, pertanian, isu-isu semutlah yang saya pakai. Pak emil di isu milenial, dua-duanya bekerja dengan baik apalagi pak Emil Gubernur, harus mengoptimalkan kinerjanya agar mendongkrak kemenangan pak Jokowi," paparnya.

Saat ditanya tentang instruksi Joko Widodo yang meminta simpatisan dari partai koalisi pendukung untuk mengkampanyekan secara door to door, Dedi mengatakan, hal itu sudah dilakukan secara bertahap. Di samping itu, TKD Jabar sudah mengetahui daerah mana saja yang perlu diperkuat.

"Makanya bisa dilihat dari grafik, titiknya sudah teridentifikasi. Sebelah mana sih isu-isunya Pak Jokowi yang masih negatif dan Black campaign. Ga usah disebutkan lah," katanya.

Dedi mengatakan, kalau tahun ini dari sisi riset unggul tipis artinya ada pe‎ningkatan dan ada penurunan di kubu Prabowo. Karena, pada 2014 yang unggul Prabowo. "Sekarang menang tipis. Kita masih punya waktu beberapa bulan ke depan, optimis menang tebal," katanya. 

Pengamat Politik Universitas Padjajaran (Unpad) Idil Akbar menilai keyakinan Jokowi  bisa memperoleh kemenangan di Jawa Barat adalah sesuatu hal yang lumrah. Menurutnya ada beberapa hal yang mendasari keyakinan Jokowi itu, salah satunya adalah kemenangan Ridwan Kamil dan Uu Rhuzanul Ulum sebagai gubernur dan wakil gubernur di Jawa Barat.

"Ya sedikit banyak tentu berpengaruh,  karena bukan masalah Emil dan Uu nya, tapi partai pengusung Emil dan Uu adalah partai yang juga ikut mengusung Jokowi - KH Ma'ruf Amin," kata Idil saat dihubungi.

Ia menambahkan jejaring kepartaian yang mengusung Ridwan Kamil - Uu dinilai bisa mempengaruhi kemenangan Jokowi - Ma'ruf di Jawa Barat. Ditambah lagi jejaring yang dimiliki Emil juga memiliki andil dalam konteks mempengaruhi hubungan masyarakat ke Jokowi.

"Jadi ya memang cukup memberikan pengaruh hanya memang perlu kerja keras ya," katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA