Rabu, 6 Rabiul Awwal 1440 / 14 November 2018

Rabu, 6 Rabiul Awwal 1440 / 14 November 2018

Kegagalan Roehanna Koeddoes dan Profil Enam Pahlawan

Jumat 09 Nov 2018 05:04 WIB

Red: Ratna Puspita

Penganugerahan Pahlawan Nasional. Palakat tanda pahlawan nasional yang diserahkan kepada ahli waris di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/11).

Penganugerahan Pahlawan Nasional. Palakat tanda pahlawan nasional yang diserahkan kepada ahli waris di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/11).

Foto: Republika/ Wihdan
Nama Roehana bersama 12 nama lain tersisih dalam seleksi final.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Wartawati pelopor koran perempuan pertama di Indonesia, Roehana Koeddoes, gagal menjadi pahlawan nasional meski telah memenuhi seluruh persyaratan dalam proses pengusulan dari daerah. Presiden Joko Widodo menganugerahi gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh. 

Enam pahlawan tersebut, yakni alm Abdurahman Baswedan (DI Yogyakarta), alm Pangeran Muhammad Noor (Kalimantan Selatan), alm Agung Hajjah Andi Depu (Sulawesi Barat), alm Depati Amir (Bangka Belitung), alm Kasman Singodimejo (Jawa Tengah), dan alm KH Syamun (Banten). Penganugerahan dilakukan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/11).

“Kami sudah terima kabar. Roehana Koeddoes belum masuk enam tokoh yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh presiden," kata Kepala Dinas Sosial Sumatera Barat, Abdul Gafar di Padang, Kamis.

Pada proses akhir, menurutnya, nama tokoh perempuan asal Sumbar itu masuk dalam 18 nama yang diajukan Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) Kementerian Sosial. Namun, nama Roehana bersama 12 nama lain tersisih dalam seleksi final untuk menentukan nama enam pahlawan nasional yang akan ditetapkan presiden.

Presiden menetapkan enam nama pahlawan nasional pada 2018 melalui SK Presiden Nomor 123/TK tahun 2018 tentang Penganugrahan Gelar Pahlawan Nasional. Penganugerahan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Pahlawan Nasional Tahun 2017.

Tiga bidang Abdurrahman Baswedan

Tokoh Almarhum Abdurrahman Bawesdan yang merupakan Kakek dari Gubernur DKI Jakarta Anies Bawesdan. Ia merupakan tokoh yang memperjuangkan integrasi keturunan Arab menjadi bangsa Indonesia.

Tokoh yang lahir 9 September 1908 di Surabaya dan besar di Yogyakarta ini terlibat dalam dunia pergerakan dengan mengusung cita-cita mewujudkan Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Perjuangan Abdurrahaman Bawesdan ini dilakukan melalui tiga bidang.

Pertama, dunia jurnalistik lewat tulisan-tulisannya di surat kabar. Kedua, kepartaian melalui Partai Arab Indonesia (PAI). Ketiga, menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

photo

Penganugerahan Pahlawan Nasional. Ahli Waris menerima ucapan selamat dari undangan usai upacara penganugerahan pahlawan nasional di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/11).

Agung Hajjah Andi Depu gerakkan semangat

Tokoh almarhum Agung Hajjah Andi Depu adalah pelaku sejarah Indonesia. Ia merupakan sosok perempuan yang telah memberikan dedikasi serta loyalitas yang tinggi dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Tokoh perempuan dari Sulawesi Barat yang lahir pada 19 Agustus 1908 ini memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan menggerakkan dan mengkoordinasikan semangat para pemuda-pemudi untuk melawan penjajahan di Indonesia.

photo

Penganugerahan Pahlawan Nasional. Presiden Joko Widodo (kanan) menyerahkan plakat pahlawan nasional kepada ahli waris di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/11).

Depati Amir menggabungkan lokal dan pendatang

Almarhum Depati Amir merupakan tokoh pemimpin perlawanan melawan Belanda pada 1830-1851. Depati Amir merupakan tokoh pejuang dari Pulau Bangka melawan dan mengusir penjajahan Belanda di daerah penghasil bijih timah nomor dua terbesar dunia itu.

Ia berhasil menyertakan gabungan warga lokal dan komunitas "asing-pendatang" (penambang Tionghoa). Tokoh pahlawan yang diusulkan masyarakat Provinsi Bangka Belitung ini telah menerapkan perlawanan dengan gerilya dengan Belanda selama 20 tahun.

Tidak hanya itu, beliau bersama 30 orang pengikutnya pernah menumpas para perompak yang mengganas di perairan Pulau Bangka dan memulihkan keamanan serta ketentraman rakyat.  Pengusulan Depati Amir sebagai pahlawan nasional sudah dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada 2015 dan 2017.

Kasman Singodimejo dari Muhammadiyah

photo

Kasman Singodimejdo

Almarhum Kasman Singodimejo merupakan tokoh Muhammadiyah ini merupakan pemersatu bangsa, yakni saat proses pengesahan UUD 1945. Tepatnya pada rapat PPKI, ia meluluhkan hati tokoh golongan Islam Ki Bagus Hadikusumo untuk menghilangkan tujuh kata terkait syariat Islam dalam sila pertama Pancasila.

Tujuh kalimat tersebut, yakni "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Tujuh kalimat ini karena mendapat penolakan dari perwakilan Indonesia bagian timur jika tujuh kata tersebut tetap dipertahankan.

photo

Penganugerahan Pahlawan Nasional. Ahli waris memegang plakat pahlawan usai diserahkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/11).

Pangeran Mohammad Noor latih militer

Almarhum Ir H Pangeran Mohammad Noor adalah tokoh yang telah berjuang bersama-sama rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan. Perjuangan itu dilakukannya sejak kuliah di THS Bandung hingga terlibat menjadi anggota "Jong Islamieten Bond".

Sebagai Gubernur Kalimantan yang berkedudukan di Yogyakarta, Mohammad Noor melakukan pelatihan militer kepada para pemuda untuk diterjunkan ke medan perang melawan Belanda di Kalimantan. 

photo

Penganugerahan Pahlawan Nasional. Presiden Joko Widodo (kanan) bersama undangan mengheningkan cipta sebelum upacara penganugerahan pahlawan nasional di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/11).

KH Syam’un dirikan pesantren dan angkat senjata

Sementara almarhum Brigjen KH Syam'un adalah tokoh yang berjuang melalui pendekatan pendidikan (mendirikan pesantren). Ia juga mengangkat senjata melawan Belanda, yakni masuk jadi anggota PETA, Panglima BKR dan TKR. 

Degan ditetapkannya Brigjen KH Syam'un menjadi pahlawan nasional, ada tiga nama tokoh pejuang asal Banten yang sebelumnya diusulkan dan sudah ditetapkan menjadi pahlawan nasional. Mereka, yakni Syekh Nawawi Al-Bantani, Syafrudin Prawiranegara dan Brigken KH Syam'un.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Semangat Adul Menuntut Ilmu (2)

Selasa , 13 Nov 2018, 23:56 WIB