Kamis, 9 Safar 1440 / 18 Oktober 2018

Kamis, 9 Safar 1440 / 18 Oktober 2018

Yang Ditanyakan Polisi kepada Amien Rais

Kamis 11 Okt 2018 17:26 WIB

Red: Andri Saubani

Ketua Dewan Penasehat Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais didampingi putrinya Tasniem Fauzia Rais saat tiba untuk menjalani pemeriksaan di gedung Direskrimum, Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (10/10).

Ketua Dewan Penasehat Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais didampingi putrinya Tasniem Fauzia Rais saat tiba untuk menjalani pemeriksaan di gedung Direskrimum, Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (10/10).

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Amien Rais kemarin memenuhi panggilan polisi terkait kasus hoaks Ratna Sarumpaet.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais pada Rabu (10/10) telah memenuhi panggilan penyidik Polda Metro Jaya. Amien diperiksa sebagai saksi untuk tersangka kasus hoaks, Ratna Sarumpaet.

Sebanyak 30 pertanyaan Penyidik Polda Metro Jaya kepada Amien. Inti dari puluhan pertanyaan itu adalah soal asal informasi soal pengeroyokan aktivis Ratna Serumpaet sebelum diketahui berbohong.

"Petugas menanyakan dapat informasi itu dari mana," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono di Jakarta, Kamis (11/10).

Amien juga, menurut Argo, dikonfirmasi soal orang yang menerima informasi itu dan siapa yang hadir saat Ratna bercerita berbohong tentang pengeroyokan. Jika merujuk pada pengakuan Ratna kepada publik pada 3 Oktober lalu, Ratna menemui Prabowo Subianto, Amien Rais, Djoko Santoso di rumah Prabowo di Hambalang pada 2 Oktober.

Pertemuan mereka terjadi tepat pada hari saat foto wajah lebam Ratna menyebar di media sosial dan ramai diberitakan media massa. Mengetahui kabar tersebut, Prabowo Subianto bersama Koalisi Indonesia Adil Makmur melakukan pertemuan dengan Ratna yang saat itu masih menjadi salah satu juru Kampanye Nasional Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Sandiaga.

Saat ditanya oleh para tokoh Koalisi Adil Makmur, Ratna tetap berkeras bahwa dia telah dianiaya oleh sejumlah orang seperti santer yang diberitakan. Kebohongan tersebut ia pertahankan karena cerita penganiayaan tersebut telanjur diamini oleh masyarakat luas.

“Sampai saya keluar dari Lapangan Polo (Hambalang), saya tetap diam dan saya biarkan semua bergulir begitu saja,” kata Ratna, Rabu (3/10).

Namun, ketika ia benar-benar meninggalkan kediaman Prabowo, hati kecil Ratna sudah merasa bersalah. Hingga akhirnya, pada Rabu (3/10), di hadapan puluhan awak media, Ratna mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada semua pihak yang sudah termakan ceritanya.

Hasil penyelidikan tim penyidik dari Polda Metro Jaya pun sejalan dengan pengakuan Ratna di mana polisi menemukan bukti bahwa lebam di muka Ratna bukan karena penganiayaan tapi akibat operasi plastik. Polisi pun memproses hukum kebohongan Ratna itu hingga akhirnya menangkap Ratna di Bandara Soekarno-Hatta pada 4 Oktober 2018.

Amien Rais pun ikut terseret dalam pusaran kasus hoaks Ratna. Saat tiba di Polda Metro Jaya, kemarin, Amien membeberkan kejanggalan pemanggilan terhadap dirinya, salah satunya adalah alasan pemanggilan dirinya adalah keterangan Ratna Sarumpaet.

Di mana Ratna baru ditangkap pada 4 Oktober 2018 sementara dalam surat pemanggilan, dirinya sudah dipanggil sejak 2 Oktober 2018.

Menurut Amien, bagaimana bisa alasan keterangan Ratna menjadi dasar pemanggilan pada 2 Oktober, sementara Ratna baru ditangkap pada 4 Oktober? Ratna belum ditangkap polisi, tetapi surat pemanggilan atas nama Amien Rais sudah jadi.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Polisi Setyo Wasisto pun menjelaskan, kronologi pemanggilan Amien Rais terkait kasus Ratna Sarumpaet. Setyo menjelaskan, pada 2 Oktober, Polda Jabar menyampaikan informasi bahwa tidak ada bukti penganiayaan Ratna. Sedangkan, Polda Metro Jaya sudah mulai melakukan penyelidikan.

Polda Metro Jaya pun memanggil Amien Rais pada 2 Oktober 2018 untuk datang pada 5 Oktober 2018 di mana Amien mangkir pada 5 Oktober 2018. Setyo mengatakan, pemanggilan itu dilakukan karena penyidik sudah mendapatkan informasi awal bahwa Amien Rais merupakan salah satu orang yang mendengar cerita Ratna.

"Karena sudah ada informasi Pak Amien tahu tentang itu. Ada informasi yang diterima Polri bahwa Pak Amien Rais tahu tentang keberadaan Ratna Sarumpaet, makanya mau diklarifikasi," kata Setyo di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (10/10).

Pada 2 Oktober 2018, dibuat panggilan agar Amien hadir pada 5 Oktober 2018. Namun, Amien mangkir, maka dibuat lagi panggilan tanggal 8 Oktober agar Amien mau datang pada 12 Oktober 2018. Ternyata, kata Setyo, Amien menghendaki datang pada 10 Oktober 2018.

Amien yang sebelum diperiksa melontarkan kritik atas pemanggilannya, seusai pemeriksaan dia menyanjung penyidik Polda Metro Jaya. "Saya merasa dihormati, dimuliakan oleh para penyidik dan betul-betul rasanya akrab penuh tawa penuh canda, dan lain-lain," kata Amien Rais, Rabu (10/10) sore.

Amien menuturkan menjalani pemeriksaan hampir enam jam. Namun, separuhnya untuk kegiatan makan, shalat, dan membicarakan hal lain.

"Jadi itu demikian smooth (lancar) demikian bagus pertanyaannya itu straight (secara langsung) tidak muter-muter, menjebak itu tidak ada, saya terima kasih sekali," tuturnya.

Amien juga mengaku menyantap menu gudeg ayam untuk makan siang dan nasi jamblang, serta nasi timbel. Bahkan, makan siang Amien didampingi tim dokter Polri termasuk pemeriksaan tekanan darah normal 120 per 80. Terkait pemeriksaan, pria yang dikenal sebagai Tokoh Reformasi itu mengaku diberikan 30 pertanyaan dari penyidik perihal pengakuan bohong Ratna Sarumpaet.

Pengacara Eggi Sudjana yang mendampingi Amien Rais selama pemeriksaan, menuturkan tidak ada orang yang menginisiasi konferensi pers pada 2 Oktober menanggapi pengakuan Ratna. Lantaran, kata Eggi, awak media sudah menunggu di rumah Prabowo Subianto kawasan Kartanegara, Jakarta Selatan.

Saat jumpa pers, Eggi mengungkapkan seluruh tim pemenangan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno cukup yakin Ratna Sarumpaet menjadi korban penganiayaan. Bahkan Amien, kata Eggi, meyakini Ratna dianiaya sehingga muncul aksi spontanitas dan solidaritas karena Ratna masuk struktur pemenangan Prabowo-Sandiaga.

Amien juga, menurut Eggi, menganggap Ratna Sarumpaet sebagai 'anak buah' yang dihina dan diinjak jadi spontanitas.

"Tidak ada motif atau niat buruk kita untuk mempolitisasi keadaan sehingga menjadi keruh karena yang dikhawatirkan kepolisian dampak konpers itu yang membuat tuduhan pihak sebelah atau siapapun," ucap Eggi.

photo

Tersangka penyebaran berita bohong atau hoaks Ratna Sarumpaet (tengah) dikawal petugas saat keluar untuk menjalani tes kejiwaan di Rutan Dirkrimum Polda Metro jaya, Jakarta, Rabu (10/10).

Baca juga:

Jadwal pemanggilan saksi lain

Selain Amien Rais, polisi selanjutnya akan melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi lain Hanya saja, menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono, penyidik yang memiliki kewenangan untuk memanggil siapa saja yang nantinya akan dimintai keterangan. Dan untuk nama Prabowo Subianto, Argo mengaku belum melihat ada agenda panggilan kepada calon presiden 2019 tersebut.

“Belum ada agenda (untuk Prabowo),” kata Argo saat dikonfirmasi Republika pada Kamis (11/10).

Seperti diketahui, selain Prabowo ada juga nama Fadli Zon dan Rachel Maryam yang sempat berempati dengan penganiayaan yang dialami Ratna Sarumpaet. Meskipun belakangan diketahui bahwa penganiayaan tersebut hanyalah kebohongan semata.

Terkait dengan Wakil DPR RI Fadli Zon dan Rachel Maryam, Argo juga berujar belum ada jadwal pemeriksaan untuk keduanya. “Sampai sekarang belum ada agenda riksa,” kata Argo.

Adapun mengenai pemeriksaan terhadap Amien Rais, Argo belum mengetahui apakah akan dimintai keterangan lanjut atau tidak. Namun untuk sementara ini, keterangan yang didapat dari Amien Rais telah dianggap cukup.

“Sementara (untuk Amien Rais) cukup,” kata Argo.

photo

Kronologi Hoaks Ratna Sarumpaet

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA