Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Tsunami Palu adalah Skenario Terburuk

Selasa 02 Oct 2018 14:16 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Sebuah kursi berada diantara bangunan yang ambruk dampak gempa dan tsunami di kawasan Pantai Taipa, Palu Utara, Sulawesi Tengah, Senin (1/10).

Sebuah kursi berada diantara bangunan yang ambruk dampak gempa dan tsunami di kawasan Pantai Taipa, Palu Utara, Sulawesi Tengah, Senin (1/10).

Foto: Antara/Muhammad Adimadja
Bentuk teluk yang seperti mangkuk kian memperparah efek tsunami.

REPUBLIKA.CO.ID, PALU -- Tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala telah mengejutkan para ilmuwan. Pasalnya, jika melihat skala dan jenis gempa, sejatinya tak memicu gelombang tsunami yang mencapai tinggi enam meter. Lebih dari 800 orang meninggal akibat bencana tersebut.

Sejumlah ilmuwan kepada BBC, menyebut ada kombinasi antara waktu, letak geografi dan peringatan yang tak memadai sehingga membuat kondisi di Palu sebagai skenario terburuk.

"Anda secara normal tak perlu sampai jauh memberi perhatian ke patahan Palu Koru sehingga sampai memicu tsunami," ujar Profesor Philip Liu Li-fan dari Unversitas Nasional di Singapura, Selasa (2/10).

Karena dua lempengan bergerak secara horizontal, tidak vertikal yang biasanya memicu gelombang berbahaya. "Kita masih mempelajari apa yang sebenarnya terjadi," ujarnya.

Ada sejumlah kemungkinan, termasuk gempa yang memicu longsoran di bawah laut sehingga mendorong gelombang tsunami. Bisa juga ada ketidaktepatan dalam menggambarkan patahan. "Namun kita belum mengetahui secara pasti."

Baca juga, Ilmuwan Asing Terkejut Besarnya Gelombang Tsunami.

Pada dasarnya, tsunami tak terlalu berbahaya di berada jauh di lautan luar. Namun ketika gelombang semakin dekat ke daratan, ujung pangkal di dasar laut menarik dan menyebabkan gelombang tinggi. Dan dalam tiga menit, Palu yang berada di ujung Teluk dihantam oleh tiga gelombang dalam waktu tiga menit.

Ahli geologi dari Amerika, Jess Phoenix menjelaskan bahwa geografi dan soal waktu membuat semuanya menjadi skenario yang terburuk. Geografi dimaksud yakni bentuk wilayah Teluk yang seperti mangkuk dengan Palu di ujungnya.

"Ketika air datang ke daerah perairan seperti tapal kuda, selain gelombang naik akibat perairan semakin dangkal, juga akan ada evek mangkuk di mana gelombang saling memantul di wilayah sekitar," tuturnya.

Sebelumnya, sejumlah ilmuwan di AS juga terkejut dengan besarnya gelombang tsunami yang menghancurkan Kota Palu pada Jumat lalu. Seperti dikutip New York Times, Senin (1/10), para ilmuwan tak menyangka gempa yang sebelumnya sempat terjadi bisa memicu gelombang merusak.

"Kita memperkirakan bisa memicu tsunami, tapi tak sebesar itu," ujar Jason Patton, seorang ahli geofisika yang bekerja di firma konsultan, Temblor, dan bekerja di Humbildt State University di California.

Ia mengakui, dengan kasus seperti ini, sepertinya para ilmuwan akan menemukan sesuatu yang sebelumnya belum pernah diobservasi. Menurutnya, gelombang besar tsunami biasanya dihasilkan oleh apa yang disebut gempa bumi megathrust. Dalam kondisi ini, bagian besar dari kerak bumi bergerak secara vertikal di sepanjang patahan.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA