Kamis, 9 Safar 1440 / 18 Oktober 2018

Kamis, 9 Safar 1440 / 18 Oktober 2018

Salam Perpisahan Luis Milla dan Isyarat dari PSSI

Ahad 26 Agu 2018 10:22 WIB

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Andri Saubani

Pelatih Sepakbola Indonesia, Luis Milla.

Pelatih Sepakbola Indonesia, Luis Milla.

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Kontrak Luis Milla habis seusai gelaran Asian Games 2018.

REPUBLIKA.CO.ID, Langkah timnas U-23 Indonesia terhenti pada babak 16 besar Asian Games 2018 setelah kalah adu penalti dari Uni Emirat Arab (UEA) pada Jumat (24/8). Pelatih Luis Milla Aspas pun menyampaikan salam perpisahan seusai kekalahan yang menurutnya akibat ketidakbecusan wasit Shaun Evans.

Milla belum memutuskan masa depan nasib kepelatihannya bersama timnas Indonesia. Seusai Asian Games, ia bersiap pulang ke Spanyol.

“(Kontrak) Saya diperpanjang atau tidak Saya tidak tahu. Saya masih bersama pemain selama ini, dan belum ada satu orang pun yang menanyakan tentang itu,” kata Milla.

Satu yang pasti, kata Milla, usai laga tersebut, Milla akan pulang sementara. “Setelah ini, saya akan lakukan perpisahan dan sementara akan pulang ke Spanyol,” ujar dia.

Salam perpisahan Milla, pun ia sampaikan kepada wartawan yang selama ini mengikuti perkembangan sepak bola Indonesia. Menurut dia, Indonesia punya modal yang tinggi menjadi salah satu negara sepak bola terbesar di dunia.

Karena itu, menurut dia, siapapun yang punya kewenangan mengambil kebijakan tentang sepak bola nasional, harus tetap memikirkan peningkatan yang selama ini sudah berjalan. Namun, ia belum bisa memastikan apakah kariernya akan berlanjut bersama Hansamu Yama dkk.

“Banyak pemain dan bakat yang unggul di sini. Saya sudah melihatnya. Dan pesan saya agar pemimpina harus bersabar, karena sepak bola butuh proses. Saya yakin sepak bola Indonesia akan menjadi lebih baik,” sambung Milla.

photo

Pemain timnas Indonesia Stefano Lilipaly berdiskusi dengan Alberto Goncalves dalam pertandingan cabang sepakbola Asian Games 2018 melawan Uni Emirat Arab di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Jawa Barat, Jumat (24/8).

Baca juga:

Kegagalan Indonesia pada babak 16 besar Asian Games 2018, Jumat (24/8) memastikan target semifinal yang tak mampu tercapai. Hasil di Asian Games, sebetulnya menambah catatan target yang meleset selama Milla membesut timnas Garuda sejak Februari 2017.

Timnas Garuda U-23 mencatatkan kegagalan pertamanya di gelaran kompetisi resmi saat turun pada babak kualifikasi Piala Asia U-22 pada Juli 2017. Dari tiga pertandingan selama penyisihan, skuat Garuda cuma mampu meraih posisi ketiga dengan nilai klasemen empat. Nilai klasemen akhir tersebut didapat dari sekali kalah, satu kali menang, dan terakhir imbang.

Kekalahan timnas yang sulit diterima masyarakat Indonesia adalah saat putaran pertama melawan Malaysia. Timnas Garuda dibantai 0-3 dari timnas Harimau Melayu saat pertandingan di stadion Suphacalasai, Bangkok.

Tahun lalu, saat SEA Games 2017 di Malaysia, Milla juga cuma mampu membawa Garuda meraih predikat perunggu. Pada babak semifinal, Indonesia kembali kalah dari Malaysia.

Namun, harus diakui, setelah skuat Garuda diampu oleh Milla, ada peningkatan kualitas permainan yang kasat mata. Milla telah berhasil membangun karakter pemain-pemain muda Indonesia menjadi terlihat disiplin serta punya fisik dan daya juang yang tangguh selama 90 menit.

Skema permainan timnas di lapangan saat ini juga enak ditonton kala aliran bola hasil rancang bangun serangan dari belakang ke depan berujung pada terciptanya peluang. Ada cerminan taktik pelatih yang berhasil dikreasikan para pemain di lapangan. Timnas Indonesia kini bukan lagi tim yang asal mengirim bola ke depan dan berharap gol dari hasil kemelut di depan gawang lawan sebagaimana khasnya sepak bola Tanah Air.

Pada gelaran Asian Games 2018, timnas U-23 menunjukkan ketangguhan mental yang selama ini jarang diperlihatkan Skuat Garuda, termasuk timnas senior. Evan Dimas dkk beberapa kali bangkit dari ketertinggalan dan bahkan membalikkan keadaan. Yang paling krusial tentunya saat laga kontra Hongkong dan terakhir melawan UEA.

Pada laga lawan Hongkong, setelah tertinggal satu gol pada babak pertama, Indonesia mampu membalikkan keadaan pada babak kedua menjadi kemenangan, 3-1. Laga kontra UEA bahkan bisa dibilang dramatis. Tertinggal dua kali lewat gol hasil keputusan kontroversial wasit, Indonesia selalu berhasil menyamakan kedudukan salah satunya lewat gol Stafano Lilipaly pada menit 90+4. 

Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) pernah mengatakan, kontrak kepelatihan Milla memang sampai Asian Games. Itu berarti tersingkirnya timnas Indonesia di babak 16 besar, juga memastikan berakhirnya karier Milla di Tanah Air. Informasi yang beredar di kalangan wartawan PSSI, Milla kemungkinan akan digantikan oleh pelatih Bali United, Widodo Cahyono Putro.

Padahal, timnas Indonesia tahun ini masih punya satu gelaran penting lainnya, yakni Piala AFF 2018 yang akan digelar pada November sampai Desember mendatang. Terkait Piala AFF, Milla pun masih enggan berkomentar.

Meski Milla enggan berkomentar, tetapi para pemain timnas Indonesia meminta kepada PSSI juga Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) agar tetap mempertahankan Milla di kursi kepelatihan. Kiper timnas Garuda, Andritany Ardhyasa usai kekalahan di 16 besar mengatakan, meski Milla tak mencapai target semifinal Asian Games, mantan pemain FC Barcelona dan Real Madrid tersebut terbukti mampu meninggikan kualitas timnas Indonesia. Andritany menilai, ada perubahan gaya permainan signifikan dari timnas sebelum dan sesudah dilatih Milla.

“Saya saat ini pemain senior di timnas. Saya dan pemain, sangat berharap kepada siapa pun yang punya kewenangan agar mempertahankan coach Milla di timnas. Karena coach Milla membuktikan bisa meningkatkan (kualitas) sepak bola kita saat ini,” ujar Andritany.

photo

Selebrasi pesepak bola Indonesia Ricky Fajrin Saputra (tengah) pada laga penyisihan Grup A cabang sepak bola Asian Games 2018 di Stadion Patriot, Bekasi, Jumat(17/8).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA