Selasa, 4 Rabiul Akhir 1440 / 11 Desember 2018

Selasa, 4 Rabiul Akhir 1440 / 11 Desember 2018

Ceruk Baru Rintisan Bernama Pelancong Milenial

Jumat 17 Agu 2018 07:09 WIB

Rep: Christiyaningsih/Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Traveling

Traveling

Foto: Wihdan Hidayat/Republika
Indonesia termasuk salah satu negara pertumbuhan traveler tercepat sebesar 7,7 persen

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tren jalan ke luar negeri selama beberapa tahun belakangan kian meningkat khususnya di kalangan milenial. Bepergian ke berbagai negara di Asia Tenggara sampai Eropa kini bukan lagi menjadi barang mewah dan hanya bisa dinikmati kalangan tertentu saja. 

Riset yang dirilis oleh World Travel and Tourism Coucil tahun 2018 menyebutkan, Asia kini menjadi benua dengan pertumbuhan sektor travel and tourism tercepat dibanding negara-negara lainnya. Dalam riset ini disebutkan Indonesia termasuk salah satu negara dengan pertumbuhan traveler tercepat mencapai 7,7 persen.  

Dampak peningkatan perjalanan ke luar negeri tidak hanya dirasakan oleh industri yang berkaitan langsung tetapi juga bagi bisnis-bisnis industri pendukung lainnya. Menurut Managing Partner - Ideosource VC Edward Ismawan Chamdani, pertumbuhan bisnis traveling memberikan angin segar bagi pengusaha perusahaan rintisan (startup) di Indonesia.

Menyasar karakter generasi milenial yang tech savvy dan gemar memilih pengalaman ketimbang materi, kini semakin banyak bermunculan penyedia jasa yang menopang kebutuhan traveler di luar negeri. Misalnya untuk urusan akomodasi, transportasi, tiket atraksi dan wahana, paket tur privat dan terbuka, sampai jasa dokumentasi dan penyewaan modem internet guna menopang konektivitas selama berada di negara lain.

Baca: Catat, Biaya Liburan Diperkirakan Naik pada 2019

Dari perspektif investor, kondisi seperti ini berpeluang untuk menumbuhkan bisnis-bisnis pendukung tren traveling ke luar negeri. "Namun yang perlu diperhatikan bagi pelaku start up adalah, mereka perlu kreatif dalam memilih segmen. Jangan sampai keliru dan justru malah berhadapan dengan pemain horizontal (consumer apps travel) yang sudah besar,” tutur Edward lewat keterangan resmi yang diterima Republika

Edward menambahkan, tren bisnis start up yang fokus pada kebutuhan travel ini sangat menjanjikan. Khususnya jika dilihat dari kalangan milenial yang menjadikan traveling sebagai gaya hidup, tentunya akan membuat ceruk pasar travel makin besar. Secara kompetisi, kolaborasi juga bisa menjadi pilihan bagi pelaku start up

Pemain horizontal dengan layanan paling lengkap bisa berkolaborasi dengan pemain ceruk (niche) agar tercipta layanan one-stop transaction portal. "Inisiatif yang kreatif semacam ini sangat menarik, terutama bagi para investor,” sambung Edward.

Baca juga: 8 Tip Raih Foto Berkualitas dan Instagramable Kala Traveling

Biaya Tinggi

Perjalanan atau traveling diperkirakan akan menjadi lebih mahal pada 2019. Menurut Perkiraan Perjalanan Global edisi tahunan kelima yang diterbitkan oleh GBTA dan CWT, biaya penerbangan dan hotel diperkirakan akan meningkat.

Penerbangan jarak jauh akan menjadi tren perjalanan udara lainnya pada 2019. Tetapi, faktor-faktor, seperti kenaikan harga minyak dan kurangnya pilot, diperkirakan akan meningkatkan harga tiket pesawat tahun depan di hampir semua kawasan global.

Dilansir dari Malay Mail, Kamis (26/7), di Eropa Barat, misalnya, biaya perjalanan udara meningkat 4,8 persen. Peningkatan terlihat jelas di Norwegia (11,5 persen), Jerman (7,3 persen), Prancis (6,9 persen), dan Spanyol (6,7 persen). Namun, Eropa Timur dan negara-negara Timur Tengah dan Afrika kemungkinan akan mengalami penurunan biaya masing-masing sebanyak 2,3 persen dan dua persen.

Di kawasan Asia Pasifik, harga penerbangan diperkirakan naik 3,2 persen dengan permintaan perjalanan ke Cina tetap tinggi. Pada 2020, Cina diprediksi menjadi pasar perjalanan udara terbesar di dunia.

Pada 2019, penerbangan negara diperkirakan naik 3,9 persen. Demikian pula, perjalanan udara kemungkinan akan lebih mahal di India, dengan harga diperkirakan naik 7,3 persen, sementara tarif di Selandia Baru dapat meningkat sebesar 7,5 persen.

Kenaikan harga cenderung lebih sederhana di seluruh Amerika Utara, yaitu naik sebesar 1,8 persen. Di Amerika Latin, Cile adalah satu-satunya negara yang diperkirakan mengalami kenaikan signifikan sebesar 7,5 persen, sementara harga di semua wilayah diperkirakan turun dua persen secara keseluruhan.

Ketika menginap di hotel, kenaikan harga didorong oleh meningkatnya peran teknologi dalam mempersonalisasi pengalaman tamu dan pertumbuhan perjalanan udara. Harga hotel di Prancis dan Jerman diperkirakan naik 6,8 persen, sedangkan Norwegia naik 11,8 persen.

Di seluruh kawasan Asia Pasifik, harga hotel diperkirakan naik 5,1 persen, kecuali Jepang yang menurun 3,2 persen. Harga hotel diperkirakan naik lima persen di Kanada dan 2,7 persen di Amerika Serikat.

Sewa Modem

Studi dari World Economic Forum menunjukkan konektivitas merupakan salah satu kebutuhan primer generasi milenial dalam bepergian ke luar negeri. Selain untuk kebutuhan dasar komunikasi, kebutuhan untuk berbagi informasi lokasi dan penggunaan media sosial menjadi alasan mengapa konektivitas berbasis internet menjadi penting.

Salah satu cara termudah untuk mengakses internet di luar negeri tentu adalah membeli kartu SIM di negara masing-masing atau membeli paket data roaming dari negara asal. Namun, tingginya biaya di kedua opsi ini kerap menjadi penghambat para traveler untuk tetap up-to-date dengan lingkungannya.

Melihat tantangan di atas, salah satu perusahaan teknologi penyedia jasa sewa modem wifi Passpod memberikan solusi bagi calon traveler. Sewa modem ini berguna menjaga konektivitas selagi bepergian ke negara-negara yang menjadi destinasi favorit seperti Singapura, Malaysia, Bangkok, dan Hong Kong.

CEO Passpod Hiro Whardana menyatakan traveler milenial kerap mengandalkan banyak sumber untuk menentukan layanan, jasa transportasi dan lokasi-lokasi yang ingin mereka kunjungi di suatu negara. “Terlalu banyak informasi dampaknya justru akan membuat dan kehilangan waktu saat traveling,” tutur Hiro. 

Maraknya bisnis traveling ke luar negeri diyakini Hiro juga berdampak positif bagi bisnis Passpod. “Semakin tech savvy dan terkoneksi seseorang, maka kebutuhan untuk berkomunikasi secara real time lewat beragam media juga menjadi penting bagi mereka," imbuhnya. 

Menurut Hiro Passpod menawarkan biaya internet dengan sistem rental yang juga mudah dengan tiga opsi pengambilan produk. Penyewa bia memilih kurir antar jemput gratis, pengambilan mandiri di toko, atau pengambilan di bandara yang bermitra dengan Passpod. Passpod berkomitmen untuk memberikan jaringan internet 4G yang bisa diakses ke lebih dari 68 negara seperti AS, Singapura, Hongkong, Thailand, Jepang, Korea, serta negara-negara Eropa dan Timur Tengah.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES