Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

Lampu Kuning untuk PKS, PAN, Nasdem, dan Hanura

Jumat 20 July 2018 19:10 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Andri Saubani

Partai Keadilan Sejahtera/PKS (ilustrasi)

Partai Keadilan Sejahtera/PKS (ilustrasi)

Foto: Antara/Ujang Zaelani
Hasil survei LIPI menunjukkan hanya enam parpol yang lolos ambang batas parlemen.

REPUBLIKA.CO.ID, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) baru-baru ini menggelar survei terkait Pemilu 2019. Hasil survei LIPI memprediksi hanya enam partai politik (parpol) yang lolos ambang batas parlemen atau parliamentary threshold di Pemilu 2019.

"Survei kami menunjukkan hanya enam parpol yang mencapai ambang batas parlemen di atas 4 persen, karena ketentuan UU Pemilu menyebutkan seperti itu," kata peneliti senior LIPI Syamsuddin Haris, dikutip Antara, Kamis (19/7).

Syamsuddin menjelaskan, hasil survei LIPI menunjukkan hanya dua partai yang perolehan suaranya di atas 10 persen yaitu PDI Perjuangan di urutan pertama dengan 24,1 persen, lalu Partai Golkar memperoleh 10,2 persen, sedangkan Partai Gerindra memperoleh 9,1 persen. Selanjutnya, PKB memperoleh 6 persen, PPP 4,9 persen, dan Partai Demokrat 4,4 persen.

Sementara itu partai-partai yang saat ini ada di parlemen, namun diprediksi tidak lolos di Pemilu 2019 antara lain PKS (3,7 persen), PAN (2,3 persen), Partai Nasdem (2,1 persen), dan Partai Hanura (1,2 persen). Namun, menurut Syamsuddin, apa pun bisa terjadi karena masih ada 26,1 persen responden dari survei LIPI memilih tidak menjawab.

"Hanya enam partai yang diprediksi lolos ambang batas parlemen meskipun masih banyak responden yang belum menjawab dan belum menentukan pilihan," ujarnya.

Syamsuddin menerangkan, 26,1 persen responden yang tidak memberikan suara kemungkinan akan mengubah hasil survei apabila dalam realitasnya menentukan pilihan politiknya terhadap salah satu parpol. Kalau itu terjadi, menurut dia, bisa saja jumlah parpol yang lolos ambang batas parlemen lebih dari enam parpol, meskipun diprediksi tidak lebih banyak dibandingkan Pemilu 2014.

"Responden yang belum jawab justru masih banyak karena masih bimbang atau karena rendahnya kepercayaan kepada parpol dan belum memutuskan pilihan," ungkapnya.

Syamsuddin mengatakan tujuan dinaikkannya ambang batas parlemen agar jumlah parpol di DPR RI lebih sedikit sehingga kinerja lebih efektif. Dalam Pasal 414 ayat (1) UU Pemilu menyebutkan bahwa parpol peserta pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara paling sedikit 4 persen dari jumlah suara sah secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan kursi anggota DPR RI.

Survei LIPI dilaksanakan pada 26 April-9 Mei 2018 di seluruh provinsi di Indonesia dengan responden sebanyak 2.100 orang yang telah memiliki hak pilih. Metodologi survei menggunakan multistage random sampling dengan margin of error plus-minus 2,14 persen.

"Hanya enam partai yang diprediksi lolos ambang batas parlemen meskipun masih banyak responden yang belum menjawab dan belum menentukan pilihan." peneliti senior LIPI, Syamsuddin Haris.

Respons parpol

Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid menilai, perlunya upaya-upaya serius untuk meraih kemenangan agar PKS harus lolos ambang batas parlemen sebesar 4 persen. Ia pun mengakui, Partai Keadilan dalam sejarah pernah tak lolos ke parlemen.

"Dulu waktu PK kita pernah tidak lolos PT dan itu menyakitkan, tapi itu menjadi trigger bagi kemenangan berikutnya. Kita juga bisa mengambil inspirasi dari kemenangan Mahatir di Malaysia, bagaimana ia bisa comeback, juga kemenangan Erdogan di Turki untuk kesekian kalinya," kata Hidayat, Jumat (20/7).

Fraksi PKS pun pada hari ini, menggelar rapat konsolidasi jelang Pemilihan Legislatif 2019 mendatang. Rapat konsolidasi Fraksi PKS dilakukan untuk menyiagakan para anggota legislatif pusat hingga daerah seluruh Indonesia untuk mendukung kemenangan PKS di Pileg 2019

"Fraksi PKS pusat dan daerah ini adalah ujung tombak dan garda terdepan perjuangan PKS. Menjelang pemilu 2019 kami pastikan kerja-kerja untuk rakyat akan semakin kuat dan kokoh," ujar Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Jumat (20/7).

Koordinator Caleg Nasional PKS itu menyebut dalam pendaftaran caleg dua hari lalu, PKS telah mendaftarkan 538 bacaleg untuk DPR RI di 80 daerah pemilihan dan ribuan bacaleg untuk DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota. PKS, kata Jazuli, menargetkan PKS masuk dalam papan atas dan meraih 12 persen suara nasional.

Karenanya ia menilai, hal itu membutuhkan kerja-kerja yang kongkret, fokus, dan terukur.

"PKS punya 40 anggota DPR dan 1.200-an anggota DPRD di seluruh Indonesia dengan kualitas personal dan kolektif yang luar biasa. Ditambah dengan soliditas dan militansi kader-kader PKS yang sudah terbukti selama ini insya Allah raihan suara PKS akan meningkat sesuai target," kata Jazuli.

Wakil Sekretaris Jenderal PAN Saleh Partaonan Daulay, tetap yakin dan optimistis partainya mampu meraih suara yang memenuhi ambang batas parlemen. Menurut Saleh, PAN selalu memiliki tradisi mematahkan hasil survei.

"Dari dulu hasil survei selalu begitu. Dua pemilu yang lalu pun hasil surveinya tidak jauh beda dengan yang sekarang. Faktanya, hasil pileg sesungguhnya jauh beda. Pada pemilu lalu, Hasil survei katanya 2 persen. Faktanya hasil sesungguhnya mencapai 7,59 persen," ujar Saleh.

Karenanya, ia pun mempertanyakan fenomena hasil lembaga survei yang jauh berbeda dengan hasil riil pileg. Menurutnya, survei selama ini hanya mengukur popularitas partai semata dan tidak mengukur popularitas kader dan caleg yang akan bertarung di partai tersebut.

“Bisa jadi partainya biasa saja, tetapi kader dan calegnya populer. Begitu juga sebaliknya. Sementara, survei hanya bekerja mengukur popularitas partai. Sebetulnya, ini belum sepenuhnya bisa dijadikan sebagai referensi," ungkap Saleh.

Karenya ia optimistis para caleg yang diusung PAN akan mampu menyumbang suara besar di Pileg 2019 mendatang. Bercermin dari pilkada lalu, Saleh menyebut, calon-calon yang diusung oleh PAN menang lebih dari 58,8 persen yang termasuk capaian tertinggi di antara partai-partai yang ada, termasuk partai besar lainnya.

“Mesin partai terbukti sudah bekerja. Tinggal bagaimana memaksimalkannya untuk pemenangan pileg dan pilpres yang akan datang," ungkapnya.

Ketua DPP Nasdem Irma Suryani Chaniago mengaku tak khawatir hasil survei lembaga yang memprediksi Partai Nasdem tak lolos ambang batas parlemen untuk meraih kursi di DPR. Irma menyebut survei tidak bisa dijadikan tolak ukur terhadap hasil Pileg 2019.

"Survei bagi kami hanya sebuah motivasi saja, karena yang penting bagi kami kerja lebih dulu," ujar Irma saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (20/7)

Irma mencontohkan hasil lembaga survei pada 2014 lalu menempatkan Nasdem hanya meraih dua persen. Namun, fakta hasil Pileg 2014, Nasdem mampu meraih 6,7 persen.

"Padahal 2014 kami tidak memiliki anggota legislatif, tidak punya bupati, gubernur dan walikota," ujar Irma.

Karenanya, anggota DPR itu optimistis Partai Nasdem mampu meraih suara lebih banyak pada pileg mendatang. Apalagi, Irma mengungkapkan, Partai Nasdem sekarang menyiapkan strategi untuk mendulang suara di Pileg 2019, salah satunya dengan banyaknya caleg dari kalangan aktris.

"Bisa dibilang begitu, tetapi perlu saya garis bawahi, masuknya para aktris itu bukan sekedar vote getter tetapi mereka betul-betul ingin bersama sama dalam gerbong restorasi Indonesia," kata Irma.

Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir juga menyebut hasil survei selalu meleset dari hasil pileg sebenarnya. Hanura juga dalam dua kali pemilu selalu diprediksi jeblok.

"Hanura sudah dua kali ikut pemilu legislatif, hasil survei di Pileg 2009 dari berbagai lembaga survei selalu saja dibawah 1,5 persen, begitu juga 2014 di bawah 2 persen tapi fakta menunjukan bahwa Hanura pada 2009 dan 2014 lolos parliamentary threshold," ujar Inas saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (20/7).

Baca juga:

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES