Sabtu, 8 Zulqaidah 1439 / 21 Juli 2018

Sabtu, 8 Zulqaidah 1439 / 21 Juli 2018

Kick and Rush Baru Vs Fantasista Terakhir

Rabu 11 Juli 2018 15:26 WIB

Red: Budi Raharjo

Laga Inggris Vs Kroasia

Laga Inggris Vs Kroasia

Foto: republika
Laga dini hari nanti adalah pertandingan dua gaya bermain yang saling kontras

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Fitriyan Zamzami, Febrian Fachri, Anggoro Pramudya

Para pengamat dan analis kerap membayangkan tren taktik sepak bola semacam pendulum. Ia berayun-ayun pada tiap-tiap masa pada gaya bermain tertentu dan pada satu titik akan kembali lagi ke tren terdahulu. Tanda-tanda tren masa kini akan kembali ke gaya lama sedianya sudah tampak pada Piala Dunia 2014 lalu, saat ramai tim memainkan formasi 3-5-2 yang sempat sekian lama tergeser 4-4-2 dan 4- 3-3. Piala dunia tahun ini, timnas Inggris agaknya meneruskan laju pendulum itu.

Sejak akhir 2017, pada masa-masa kualifikasi Piala Dunia 2018, ramai peng amat menyoroti bagaimana Inggris bermain tanpa playmaker. Diterpa kritikan tersebut, Gareth Southgate bergeming. Ia justru kian meneguhkan gaya sepak bola langsung tanpa basa-basi dengan for masi 3-5-2 atau 3-4-3. Skuat muda penuh tenaga yang ia panggil efektif mengekse kusi arahan itu. Kecepatan Kieran Trippier, Dele Alli, Jesse Lingard, Raheem Sterling, dan Ashley Young dimanfaatkan sepenuh nya membawa bola selekasnya ke area pertahanan lawan.

Bola-bola mati dimanfaatkan sebaikbaiknya dengan postur tubuh dan kekuatan Harry Kane dan Harry Maguire. Sebanyak delapan gol dari 11 yang disarangkan Inggris sejauh ini datang dari set pieces. Pada 1966, saat Inggris meraih juara Piala Dunia di kandang sendiri, ada kecenderungan serupa. Jonathan Wilson, penulis buku sejarah taktik sepak bola Inverting the Pyramid, mencatat, Sir Alf Ramsey saat itu memilih mengandangkan Peter Thompson yang dijuluki "Pele Putih" untuk menjaga integritas formasi.

Seperti Southgate, Ramsey memen tingkan kekompakan dan determinasi tim merangsek lekas ke depan sembari mencari peluang melalui bola-bola mati. Setelah sekian lama, gaya bermain sejenis kick and rush yang dianggap usang dan miskin kreativitas akhirnya kembali lagi. Timnas Inggris akhirnya tak malu bermain sesuai identitas mereka.

Sebaliknya, timnas Kroasia adalah satu-satunya penganut sistem possession football murni yang tersisa pada Piala Dunia kali ini. Para bastion lainnya gaya itu, seperti Spanyol, Jerman, dan Argentina, sudah tersingkir.

Berkebalikan 180 derajat dengan timnas Inggris yang tak punya playmaker, lini tengah Kroasia amat bergantung pada Luka Modric, satu-satunya playmaker tradisional yang masih bertahan di piala dunia.

Bermain di antara posisi regista dan trequartista alias di antara lini bertahan dan menyerang bagian tengah formasi Kroasia, ia satu-satunya penjaga api para jenius sepak bola macam Zinedine Zidane dari Prancis, Juan Roman Riquelme dari Argentina, atau Xavi Hernandez dari Spanyol. Para fantasista yang bergerak bebas di lapangan tengah dan mengatur permainan dengan skill dan imajinasi serta visi jauh di atas rata-rata pemain bola.

Guna menengok digdayanya pemain kunci Real Madrid itu, Four Four Two mencatat, sejauh piala dunia kali ini Modric telah menghasilkan 14 kesempatan mencetak gol berbanding total 10 kesempatan yang dicatat Lingard, Sterling, dan Dele Alli. Modric juga menyelesaikan lebih banyak dribel daripada ketiga pemain tengah Inggris tersebut.

Dengan total 153 operan sukses, Modric juga melampaui ketiga lawannya. Bersama Ivan Rakitic yang bermain di Bar ce lona, Modric menampilkan dinamika penguasaan lapangan te ngah yang sukar disamai tim-tim lain. Dalam skema formasi, pelatih Kroasi Zlatko Dalic juga menerapkan skema klasik 4-2-3-1.

Artinya, pertandingan semifinal antara keduanya di Stadion Luzhniki, Moskow, pada Kamis (12/7) dini hari nanti adalah juga pertandingan dua gaya bermain yang saling kontras satu sama lain. Ia pergelaran yang jarang di tengah kian seragamnya gaya permainan sepak bola modern.

Di luar pertandingan, sukar memprediksi mana di antara dua taktik itu yang bakal keluar sebagai pemenang. Sepak bola langsung Inggris sepanjang Piala Dunia kali ini baru efektif mencatat tim-tim dengan kelas di bawah Kroasia. Saat mengahadapi Belgia, tim kelas atas, pada fase grup, mereka kalah 0-1.

Kendati demikian, kesangaran Kroasia juga hanya tampak di tengah saja. Pertandingan perempat final melawan Rusia yang mereka menangkan lewat adu penalti menunjukkan bahwa lini belakang dapat ditembus. Sementara lini depan belum efektif menyelesaikan umpan-umpan memanjakan Modric dan Rakitic.

photo

Luka Modric dari Kroasia menendang bola saat pertandingan perempat final antara Rusia dan Kroasia di Piala Dunia 2018 di Stadion Fisht, di Sochi, Rusia, Sabtu, 7 Juli 2018.

Kedua tim juga pernah saling mengandaskan satu sama lain. Pada 22 November 2007 silam, Kroasia membuat Inggris gagal lolos ke Piala Eropa 2008 di Swiss-Austria. Inggris yang sedang bertabur bintang, seperti Steven Gerard, David Beckham, Frank Lampard, John Terry, Rio Ferdinand, sampai Wayne Rooney ditekuk Kroasia di New Wembley dengan skor 3-2 dan 2- 0 di Kroasia.

Inggris membalas kekalahan itu di babak kualifikasi Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Dalam dua laga, Inggris membantai Kroasia, yakni 1-4 di Zagreb dan 5-1 di London. Sejak pertikaian tersebut, Inggris dan Kroasia tidak pernah lagi bertemu.

Bagaimanapun, sejauh ini pelatih kedua tim yakin mereka dapat mengatasi satu sama lain. Zlatko Dalic menegaskan, timnya sama sekali tidak takut bertemu Inggris. "Saya tidak akan mengatakan ada kelemahan yang mencolok karena mereka berada di semifinal. Saya melihat mereka menunjukkan permainan langsung dan cepat," ujar Dalic kepada wartawan, dikutip Sportsmole.

Dalic mengakui, Inggris bukanlah lawan yang mudah dikalahkan. Apalagi, Harry Kane cs memiliki keuntungan dalam memanfaatkan bola-bola mati. "Kami sangat menghormati mereka, tetapi saya percaya pada kekuatan tim. Kami tidak takut dengan Inggris," katanya.

Sedangkan, Gareth Southgate ingin tahun ini Inggris dapat membawa pulang Piala Dunia ke negara tempat olahraga sepak bola pertama kali dikodifikasi tersebut. "Ini adalah kesempatan kami," kata Southgate, dikutip BT Sport, Rabu (10/7).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA