Thursday, 8 Zulhijjah 1443 / 07 July 2022

Mengapa Parpol Islam Kian Pede?

Jumat 29 Jun 2018 08:33 WIB

Red: Elba Damhuri

Petugas KPU Jateng mengamati hasil penghitungan suara real count sementara menggunakan Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) dalam Pilgub Jateng, di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (28/6).

Foto:
Umat Islam menjadi kunci kemenangan pada Pilpres 2019.

Untuk itu, ia mengharapkan para kader dan simpatisan parpol tersebut juga dapat terus berjuang dan bekerja keras untuk meraih kemenangan-kemenangan berikutnya. Presiden PKS menuturkan, semua jerih payah pengorbanan dan kontribusi dari para kader akan bernilai ibadah.

Seruan tersebut mengindikasikan pentingnya peran kader dan mesin partai PKS dalam pilkada kali ini. Hal tersebut diamini sejumlah pengamat, utamanya terkait Pilkada Jawa Barat 2018.

Militansi kader PKS disebut mampu mendongkrak perolehan suara pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu dari satu digit pada survei sebelum pilkada hingga mencapai 29 persen pada hitung cepat.

Faktor figur politikus Islam

Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Ikrama Masloman menilai mendominasinya kemenangan partai berbasis Islam di pilkada serentak 2018 kali ini tidak disebabkan oleh faktor ideologi partai. Menurut dia, kemenangan partai-partai berbasis Islam tersebut dipengaruhi faktor figur calon kepala daerah.

"Kalau saya lihat bukan karena basis ideologi partai, melainkan figur karena memang di beberapa daerah yang menang itu komposisinya itu seperti di Maluku komposisi partai nasionalis dan Islam, kemudian di Jawa Timur, kalau di Jawa Barat kan PPP, juga figur," kata Ikrama, Kamis (28/6).

Ikrama menilai yang lebih tepat justru bagaimana figur-figur tersebut menguntungkan partai. Merujuk kepada hasil pilkada di Sumut, Ikrama menilai hal itu membuktikan bahwa faktor ideologi partai tidak menjadi satu-satunya faktor kemenangan.

"Menurut saya, lebih kepada keberhasilan kandidat dalam meramu berbagai sentimen. Di Maluku, yang dibangun adalah sentimen gubernur baru. Artinya, pemerintah hari ini gagal merupakan narasi besarnya dan butuh gubernur baru. Gubernur baru terasosiasi ke Pak Murad Ismail yang sekarang menang," katanya.

Di Sumut, lanjut Ikrama, sentimen primordial menjadi yang paling kuat, begitu juga di Kalimantan Barat yang begitu kental dualisme antara sentimen etnis dayak dan yang di luar dayak. Ia menilai banyaknya kejutan di dalam hasil pilkada 2018 kali ini disebabkan adanya migrasi suara yang terjadi pada 10 hari terakhir.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA