Rabu, 11 Zulhijjah 1439 / 22 Agustus 2018

Rabu, 11 Zulhijjah 1439 / 22 Agustus 2018

Kemenangan Mahathir dan Dampaknya Bagi Politik Indonesia

Ahad 13 Mei 2018 08:18 WIB

Red: Elba Damhuri

Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad tersenyum ketika ia berbicara saat konferensi pers di Kuala Lumpur, Jumat, (11/5).

Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad tersenyum ketika ia berbicara saat konferensi pers di Kuala Lumpur, Jumat, (11/5).

Foto: AP Photo/Andy Wong
Wacana ada tidaknya dampak kemenangan Mahathir atas politik Indonesia terus bergema.

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ali Mansur, Muhammad Hafil

Mahathir Mohamad mengejutkan dunia setelah koalisinya menang pemilu dan terpilih sebagai Perdana Menteri (PM) Malaysia. Usia bukan menjadi persoalan bagi rakyat Malaysia yang sudah begitu jengah dengan penguasa lama untuk memilih Mahathir, 92 tahun.

Dinamika perubahan di negeri jiran ini pun berhembus kencang ke Indonesia. Ada yang berpendapat yang terjadi di Malaysia memiliki dampak ke Indonesia, sebaliknya ada yang menilai politik di Malaysia tidak memberikan pengaruh terhadap politik di Indonesia.

Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan, berpendapat kemenangan Mahathir menjadi inspirasi bagi Indonesia menjelang pemilu 2019. Inspirasinya, kata dia, rakyat Malaysia ingin negaranya berdaulat penuh, khususnya di bidang ekonomi.

"Kekhawatiran intervensi asing itu menjadi pemicu yang memenangkan oposisi," kata Zulkifli, Kamis (10/5).

Zulkifli menyebut salah satu perjuangan Koalisi Pakatan Harapan (PH) pimpinan Mahathir adalah kedaulatan dan kemandirian rakyat di negerinya sendiri. Kemenangan Mahathir Muhammad adalah buah perjuangan kedaulatan, bersih dari korupsi sekaligus menjadi bangsa yang mandiri.

Kemenangan Mahathir, jelas Zulkifli, menjadi inspirasi agar Indonesia menegakkan kedaulatan bangsa di atas segalanya. Jika pengangguran masih tinggi, maka utamakan tenaga kerja dalam negeri bukan tenaga kerja asing.

Hasil Pemilu di Malaysia juga memiliki arti penting bahwa kerja politik meski berusia tua ternyata ampuh. "Isu soal TKA ternyata ampuh," kata Zulkifli.

Malaysia baru saja melantik PM baru Mahatir Muhammad menggantikan Najib Razak. Kelompok Mahatir memenangkan pemilu secara telak dengan 122 kursi di parlemen menggusur Barisan Nasional dari tampuk kekuasaan.

Mahatir dalam usia 92 tahun kini menjabat PM kembali. Kemenangan ini mengejutkankan karena semua lembaga survei di Malaysia mengatakan partai penguasa saat itu yakni Barisan Nasional yang akan memenangkan pemilu.

Sulit terjadi di Indonesia

Politikus PDIP Charles Honoris menyatakan kekalahan PM Najib Razak di Malaysia oleh Mahathir tidak bisa dibawa ke Indonesia. Menurut Charles, kemenangan oposisi Malaysia yang dipimpin Mahathir Mohamad adalah dampak evaluasi kinerja pemerintahan PM Najib Razak yang dinilai kurang memuaskan oleh mayoritas masyakarat negeri jiran.

Apalagi, PM yang memerintah sejak 2009 tersebut diduga terlibat skandal korupsi 1MDB yang merugikan negara hingga jutaan dolar AS. Charles menegaskan, insentif elektoral cenderung didapat kelompok oposisi manakala (koalisi) partai penguasa tidak becus menjalankan pemerintahan.

“Rumus politik rasional selalu begitu. Semakin baik kinerja pemerintah, oposisi semakin tidak laku. Sebaliknya, semakin pemerintah tidak becus dan korup, oposisi semakin mendapat angin surga untuk menumbangkannya,” kata Charles, Jumat (11/5).

Rumus tersebut, kata Charles, juga bisa dibawa ke Indonesia. Namun, dengan melihat kepuasaan rakyat yang makin tinggi terhadap kinerja Presiden Jokowi, seperti ditunjukkan sejumlah hasil survei, kejadian di Malaysia sulit terjadi di Indonesia.

“Hasil survei salah satu lembaga menunjukkan 72,2 persen rakyat puas dengan kinerja pemerintahan ini,” kata Charles.

Baca Juga: Megawati Ucapkan Selamat Kepada Mahathir

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES