Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

Poros Ketiga Capres, Mungkinkah?

Sabtu 12 May 2018 09:17 WIB

Red: Elba Damhuri

Direktur Eksekutif PolcoMM Institute Heri Budianto menjelaskan hasil survei  tentang  elektabalitas calon presiden dan menakar poros ke tiga yang di lakukan PolcoMM Institute di Jakarta, Ahad (25/3).

Direktur Eksekutif PolcoMM Institute Heri Budianto menjelaskan hasil survei tentang elektabalitas calon presiden dan menakar poros ke tiga yang di lakukan PolcoMM Institute di Jakarta, Ahad (25/3).

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Muhaimin mengklaim ada ajakan dari Demokrat terkait wacana pembentukan poros ketiga.

REPUBLIKA.CO.ID  Oleh: Febrianto Adi Saputro

JAKARTA -- Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menilai poros ketiga hanyalah sebatas wacana. Sebab, hingga saat ini belum ada keseriusan lebih lanjut dari partai-partai yang bisa membentuk poros alternatif tersebut.

“Siapa coba inisiator dari poros-poros ketiga yang bisa membentuk 30 atau 20 persen kursi atau 25 persen suara hasil pemilu yang lalu itu? Kami belum melihat keseriusan,” kata Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PPP Achmad Baidowi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (11/5).

Baidowi melanjutkan, jika pun poros ketiga terbentuk, hal itu dipandang tidak akan mengganggu koalisi pendukung Joko Widodo (Jokowi). Alasannya, pilihan presiden itu pilihan rakyat langsung dan bukan ditentukan oleh pilihan parpol.

“Jadi, meskipun hanya didukung oleh parpol minimalis, misalkan pas hanya ngepas, tetapi bisa juga memenangkan kontestasi,” ujar dia.

Menurut Baidowi, adanya poros ketiga bukan hanya berpengaruh kepada Jokowi, melainkan juga terhadap kandidat calon presiden lain, Prabowo Subianto. Meski demikian, dia mengingatkan, dalam politik segala kemungkinan masih bisa terjadi.

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar mengatakan, hingga saat ini wacana poros ketiga belum ada bentuknya. Pria yang akrab disapa Cak Imin tersebut mengaku Partai Demokrat secara informal mengajak PKB untuk membentuk poros ketiga.

“Demokrat secara informal mengajak, tapi secara resmi belum,” ujar dia.

Cak Imin menjelaskan, kemungkinan terbentuknya poros ketiga ditentukan oleh dua hal, yakni konseptual dan pembagian kekuasaan. Apabila kedua faktor tersebut tidak mencapai kesepakatan, poros koalisi baru tidak mungkin bisa terbentuk. Bisa juga jika ada partai yang tidak sepakat, maka batal bergabung dengan poros koalisi.

“Secara konseptual, perencanaan masa depan seperti apa? (Hal) yang kedua, sharing of power seperti apa? Kalau ini deal, ya poros ketiga pasti berdiri,” ujar wakil ketua MPR tersebut.

Sama halnya dengan pandangan PPP, Cak Imin pun menegaskan, semua hal masih mungkin terjadi. Bahkan, masih mungkin poros ketiga terbentuk menjelang pendaftaran pasangan capres-cawapres di KPU.

KPU akan membuka pendaftaran pasangan capres-cawapres pada 4-10 Agustus 2018. Muhaimin menjelaskan, sikap PKB sampai saat ini masih mendorong dia untuk menjadi cawapres dari capres Joko Widodo yang diusung oleh PDI Perjuangan.

Apabila keinginan PKB tidak mendapat tanggapan dari PDI Perjuangan dan partai-partai politik lain pendukung Jokowi, Muhaimin menyerahkannya pada masa depan. “Ya, nanti PKB tentu akan menyikapinya.”

Candaan Zulkifli-Cak Imin

Pada Jumat (11/5), Cak Imin menemui Ketua MPR Zulkifli Hasan di ruang kerjanya di Gedung Nusantara III lantai 9 Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, (11/5). Candaan Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) kepada Cak Imin soal cawapres mengawali pertemuan keduanya.

“Ramai (wartawan) sekali? Kalau ramai, ini semakin dekat tanda-tanda cawapres,” kata Zulkifli sebelum menggelar pertemuan dengan Cak Imin.

Zulkifli pun mendoakan agar Cak Imin bisa menjadi wapres. Zulkifli juga menceritakan keinginannya untuk bisa minum kopi bersama Cak Imin di Istana Wapres.

“Lihat gayanya, sudah pakai peci, pakai jas. Saya doakan agar Cak Imin jadi wapres,” ujar Zulkifli.

Selain itu, Zulkifli mengutarakan pertemuannya dengan Cak Imin antara lain membicarakan tentang seruan pemilu yang damai. Ia berharap, Cak Imin bisa mengajak pendukungnya untuk melaksanakan pemilu yang damai.

Menanggapi celetukan Zulkifli soal cawapres, Cak Imin pun mengaku senang bisa bertemu dan berbincang bersama Zulkifli. “Tentu semua harus bekerja keras menyukseskan pemilu, apalagi kalau Pak Zul dukung saya jadi wapres, keren,” kata Cak Imin.

Sebelum bertemu dengan Cak Imin, Zulkifli juga menggelar pertemuan dengan beberapa tokoh, di antaranya dengan mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo dan Gubernur NTB TGB Muhammad Zainul Majdi. Semua pertemuan digelar tertutup.

Survei Capres Poros Ketiga

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) potensial dipilih masyarakat sebagai calon presiden (capres) alternatif dengan persentase tertinggi. AHY bersaing dengan Joko Widodo (Jokowi) jika Prabowo Subianto tak jadi maju sebagai capres.

Demikian hasil survei terkini Roda Tiga Konsultan (RTK) yang digelar pada 21 April-2 Mei 2018 yang melibatkan 1.610 responden itu. Survei menggunakan metode sampling stratified systemic random sampling dengan margin of error 2,5 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Direktur Riset dan Data RTK Rikola Febri menuturkan, hasil survei yang dilakukannya menunjukkan capres yang dipilih masyarakat adalah AHY (24,8 persen). Disusul Gatot Nurmantyo (20,4 persen) dan Anies Baswedan (8,4 persen).

“Jika Prabowo Subianto tidak maju sebagai calon presiden pada Pilpres 2019, maka menurut responden calon presiden yang akan dinilai pantas untuk maju sebagai calon presiden ada nama AHY dengan 24,8 persen,” kata Rikola dalam acara 'Rilis Survei Nasional Capres-Cawapres Terkuat pada Pilpres 2019 dan Elektabilitas Parpol Saat Ini' di Jakarta Selatan, Kamis (10/5). (antara, Pengolah: eh ismail).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Surga Dunia Raja Ampat

Ahad , 19 August 2018, 07:00 WIB