Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Akhir Drama Pelarangan Cadar di UIN Sunan Kalijaga

Ahad 11 Maret 2018 05:39 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Elba Damhuri

Mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta yang mengenakan cadar berada di kawasan kampus UIN Sunan Kalijaga, Sleman, Yogyakarta, Kamis (8/3).

Foto:
Menggunakan cadar tak lantas membuat seseorang menjadi teroris.

Dia pun meminta UIN Sunan Kalijaga menerapkan prinsip dialog dalam polemik ini. "Perlu ada dialog, jangan ada justifikasi dalam Islam dan jangan sampai ada sebuah gerakan masif sehingga terjadi kekhawatiran," ungkapnya.

Melalui ruang publik, kata dia, setidaknya akan menghasilkan kesepakatan yang sama-sama memberikan andil. Langkah itu juga untuk mencegah perluasan pelarangan cadar ke kampus lainnya. "Maka itu, dialog perlu dilakukan, ruang publik penting," ucapnya.

Kekhawatiran meluasnya larangan cadar ke kampus lain diungkapkan Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris. Tak hanya itu, ia juga mengkhawatirkan munculnya kegaduhan baru yang akan menguras energi masyarakat. "Di tahun politik ini, kita hindarilah potensi-potensi kegaduhan," ujar dia melalui siaran pers, Sabtu.

Fahira mengungkapkan, Indonesia harus menjadi yang terdepan melepaskan stigma dan prasangka yang mengikat ajaran dan simbol Islam dengan paham radikalisme, ekstremisme, bahkan terorisme yang ditiupkan negara-negara Barat.

Bagi Fahira, argumen yang mengaitkan pengenaan cadar dengan aliran radikal dan anti-Pancasila tidak hanya lemah, tetapi juga seakan menjadi pembenaran dari stigma yang dibentuk beberapa negara Barat terhadap simbol Islam selama ini.

"Bisa jadi, ada orang yang busananya biasa-biasa saja tetapi pahamnya radikal dan anti-Pancasila. Jadi, argumen pelarangan cadar ini lemah," ungkapnya.

Ketua MPR Zulkifli Hasan menegaskan, cadar adalah ekspresi keagamaan yang harus dihormati sepanjang tidak mengganggu orang lain. Yang seharusnya dilarang masuk kampus itu perilaku LGBT, bukan mahasiswi pakai cadar. "Ekspresi keagamaan itu hak setiap warga negara sepanjang tidak mengganggu orang lain," ujar Ketua MPR di Makassar, Sabtu.

Ketua Umum PAN itu juga menolak stigma dan generalisasi bahwa mereka yang bercadar sudah pasti radikal dan teroris. "Jangan hanya karena seseorang menjalani prinsip yang diyakininya lantas kita merasa punya hak menuduh yang macam-macam. Menggunakan cadar tak lantas membuat seseorang jadi teroris," ujarnya lagi.

Ia pun mengapresiasi kampus yang lebih memilih berfokus meningkatkan daya saing mahasiswa di era global dan inovasi ini. Era baru teknologi informasi ini, kampus dihadapkan pada tantangan persaingan global yang makin ketat. Di sinilah peran kampus untuk berikan inovasi, kreativitas, dan temuan-temuan baru untuk bangsa.

(novita intan/amri amrullah, Pengolah: mansyur faqih).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA