Selasa, 5 Syawwal 1439 / 19 Juni 2018

Selasa, 5 Syawwal 1439 / 19 Juni 2018

Elektabilitas Jokowi-Prabowo dan Peluang Capres Alternatif

Senin 19 Februari 2018 06:47 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri, Ronggo Astungkoro/ Red: Elba Damhuri

Pertemuan Prabowo-Jokowi

Pertemuan Prabowo-Jokowi

Foto: Tahta Aidila/Republika
Kenaikan elektabilitas Jokowi dan Prabowo makin menyulitkan capres alternatif.

REPUBLIKA.CO.ID, Pertarungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto dalam pemilihan presiden 2019 diprediksi bakal terulang. Sebab, dari hasil survei yang dilakukan lembaga survei Potracking Indonesia, keduanya masih menyisihkan kandidat-kandidat calon presiden lain. Artinya, sampai saat ini belum ada calon presiden (capres) alternatif yang mampu menyaingi elektabilitas Jokowi dan Prabowo.

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yudha menuturkan, ada kecenderungan elektabilitas Jokowi-Prabowo naik sejak akhir tahun 2017 lalu. Pada November 2017 lalu, elektabilitas Jokowi berada pada angka 51,8 persen. Pada survei terakhir yang dilakukan Poltracking, elektabilitas Jokowi menjadi 55,9 persen, atau naik 4,1 persen. Prabowo, lawan politik Jokowi di pilpres 2014, pada November mengantongi elektabilitas 27 persen. Elektabilitasnya menjadi 29,9 persen atau naik 2,9 persen pada Februari 2018.

Di luar Jokowi dan Prabowo, semua tokoh, baik elite politik lama yang pernah tampil pada pemilu sebelumnya maupun tokoh baru yang muncul dalam dinamika elektoral tiga tahun terakhir, tak bisa menyaingi. Capres alternatif hanya memiliki elektabilitas tak lebih dari lima persen jika dibandingkan dengan Jokowi dan Prabowo.

"Survei ini menunjukkan praktis hanya ada dua figur dengan elektabilitas dua digit, yaitu presiden pejawat Jokowi dan mantan rivalnya pada pilpres 2014 Prabowo Subianto," ujar Hanta Yudha di Jakarta, Ahad (18/2).

Berdasarkan hasil survei dengan simulasi lima nama capres, nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Gatot Nurmantyo, dan Anies Rasyied Baswedan mendapatkan elektabilitas yang stagnan, bahkan menurun. AHY yang pada survei November lalu memperoleh elektabilitas 3,9 persen justru turun menjadi 2,1 pada hasil survei Februari 2018.

Nama mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo juga mengalami penurunan elektabilitas dari 3,2 persen menjadi 2,3 persen di survei terakhir. Sedangkan, capres alternatif Anies Baswedan mengantongi elektabilitas sama, yaitu 2,8 persen pada survei November 2017 maupun Februari 2018.

"Kalau Prabowo tidak maju, kekuatan Jokowi 5-6 kali lipat dari calon lainnya. Kalau Prabowo maju, kekuatannya hanya berbeda sekitar 20 persen saja," kata dia.

Meski demikian, lanjut Hanta, ada hal yang perlu dicatat oleh Jokowi. Walau elektabiitas Jokowi jauh di atas Prabowo, posisi itu masih belum aman bagi Jokowi sebagai capres pejawat karena elektabilitasnya masih di bawah 60 persen.

Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon merasa pertarungan antara Jokowi dan Prabowo akan kembali terulang di pilpres 2019. "Saya kira ini sesuai dengan apa yang kami lihat. Sejauh ini dominan itu Pak Jokowi sebagai pejawat dan Pak Prabowo," ujar Fadli.

Fadli menjelaskan, Prabowo memang belum menyatakan akan maju menjadi capres pada Pemilu 2019. Namun, partainya telah menunjukkan kesiapan dan telah mendorong Prabowo untuk kembali mencalonkan diri menjadi capres. Fadli mengakui, Gerindra telah melakukan pengamatan dan survei ke masyarakat soal tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Jokowi. Berdasarkan hasil survei itu, diperoleh banyak data ketidakpuasan, misalnya di bidang ekonomi.

"Harus ada haluan baru, pemimpin baru. Kami meyakini Pak Prabowo jawaban untuk saat ini," ujarnya. Dengan alasan itulah, Gerindra mendorong Prabowo untuk mencalonkan diri. Apabila hal itu terjadi, kata dia, maka akan ada pertandingan ulang layaknya pilpres 2014 lalu. "Mudah-mudahan kali ini Partai Demokrat bersama kita," ujarnya.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Roy Suryo menilai kecil kemungkinan akan terjadi pertarungan antara tiga capres pada pilpres 2019. Selain itu, dia menegaskan, AHY sampai saat ini belum menyatakan atau didorong sebagai capres maupun cawapres. "Itu pun kemungkinan yang cukup kecil kalau dilihat dari hasil ini. Kemungkinan besar hanya ada dua pasangan," kata dia.

Soal posisi Demokrat, Roy Suryo menyampaikan, pihaknya tidak pernah atau belum pernah menyebut tokoh the rising star dari Demokrat. "Jadi, AHY tidak pernah kita sebutkan (sebagai) capres atau cawapres. Tidak atau belum memasang billboard di mana pun," ungkapnya.

Pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio melihat sulitnya mencari tokoh alternatif baru untuk diusung sebagai calon presiden pada Pemilu 2019 nanti. Hingga saat ini, kata dia, nama Jokowi dan Prabowo masih memiliki elektabilitas yang tinggi untuk bertarung kembali di pilpres.

“Hanya saja, yang memang yang kita sayangkan, hingga saat ini sulit menemukan tokoh-tokoh alternatif baru selain Jokowi dan Prabowo,” kata Hendri, Ahad (18/2).

Salah satu penghambat sulitnya mencari tokoh alternatif capres tersebut yakni aturan Pasal 222 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum yang mengatur ambang batas pencalonan presiden. Lebih lanjut, ia mengatakan, salah satu calon alternatif yang dapat disandingkan dengan Jokowi sebagai calon presiden yakni Gatot Nurmantyo serta Tuan Guru Bajang Zainul Majdi.

“Itu bisa jadi kalau mereka sudah sangat kuat atau elektabilitasnya bagus, malah nanti bisa dipinang Pak Jokowi sebagai wakilnya salah satu di antara mereka,” ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES