Senin, 4 Syawwal 1439 / 18 Juni 2018

Senin, 4 Syawwal 1439 / 18 Juni 2018

Jaga Ulama, Amankan Tempat Ibadah dari Orang Gila

Kamis 15 Februari 2018 10:02 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Tito Karnavian - Kapolri

Tito Karnavian - Kapolri

Foto: Republika/ Wihdan
Kapolri mengintruksikan polda-polda untuk menjaga tempat ibadah dan ulama.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rizky Jaramaya, Rizky Suryarandika, Arif Satrio Nugroho, Amri Amrullah

JAKARTA -- Kapolri Tito Karnavian mengatakan, kepolisian akan melakukan upaya pencegahan pascaterjadinya penyerangan terhadap pemuka agama dalam beberapa waktu terakhir. Kapolri mengklaim telah menginstruksikan jajaran kepolisian daerah (Polda) di berbagai wilayah untuk meningkatkan pengamanan di tempat-tempat ibadah.

"Kita tetap akan melakukan langkah-langkah pencegahan. Saya sudah mengingatkan polda-polda untuk lebih mendekat pada tempat ibadah dan ulama," ujar Tito ketika di temui di Kantor Wakil Presiden, Rabu (14/2).

Terkait pelaku penyerangan yang sudah tertangkap, kepolisian akan melakukan pendalaman kasus untuk mengetahui apakah satu kasus dan lainnya memiliki keterkaitan. "Kemudian, yang sudah tertangkap kita akan interview lebih dalam, mendalami apakah ada koneksi satu kasus ke kasus lainnya," kata Tito.

Beberapa waktu terakhir, terdapat sejumlah serangan terhadap pemuka agama. Serangan pertama menimpa pengasuh Pondok Pesantren al-Hidayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Emon Umar Basyri, Sabtu (27/1). Serangan kedua terjadi pada 1 Februari 2018 dengan korban Ustaz Prawoto, komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis).

Prawoto meninggal dunia oleh serangan yang dilakukan oknum tetangga yang diduga alami gangguan kejiwaan. Ada juga seorang pria yang bermasalah dengan kejiwaannya bersembunyi di atas Masjid at-Tawakkal, Kota Bandung, mengacung-acungkan pisau.

Sedangkan pada Ahad (11/2), pendeta dan jemaat Gereja Santa Lidwina, Kabupaten Sleman, DIY, diserang. Empat jemaat luka-luka dan pendeta yang memimpin ibadah pun terluka akibat serangan menggunakan pedang. Keesokan harinya, terjadi perusakan masjid di Sukabumi dan Tuban.

Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Martinus Sitompul mengklaim, Polri sudah berupaya melakukan fungsi memelihara keamanan masyarakat. Meski begitu, ia menganggap wajar munculnya asumsi pengaitan serentetan kejadian penyerangan dengan fungsi intelijen maupun polisi yang paling dekat dengan masyarakat, dalam hal ini Bhabinkamtibmas.

photo

Para pelayat tengah menyolatkan Ustaz Prawoto yang meninggal akibat dianiaya di mesjid Al Muhajirin Jalan Burujul, Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Kamis (1/2)

"Bila ada yang memperhatikan itu, mengait-kaitkan dengan pelaksanaan tugas kepolisian Bhabinkamtibmas atau intelijen, itu tentu sah saja," kata Martinus di PTIK, Jakarta, Rabu (14/2). Meski begitu, ia membantah jika fungsi intelijen maupun komunikasi Bhabinkamtibmas tidak berjalan sesuai fungsinya.

Menurut dia, intelijen kepolisian juga sudah melakukan analisis. "Analisis yang ada itu dikonsumsi oleh internal untuk dilakukan kajian. Tetap dilakukan analisis, tapi analisis itu kepentingan internal," ucap Martinus.

Terkait dengan serangan-serangan terhadap pemuka agama ini, pada Selasa (13/2) lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada kepolisian. "Siapa yang ingin berpolitik dengan membuat perpecahan biar polisi menyelidiki apa yang terjadi di situ," ujar Jusuf Kalla.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES