Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

Saat Asing Kuasai Unicorn Indonesia

Rabu 14 February 2018 11:15 WIB

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Elba Damhuri

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara (kiri) bersama Presiden GO-JEK Andre Soelistyo (kanan) menyaksikan penandatanganan kerja sama Investasi antara Astra Internasional dengan GO-JEK yang dilakukan oleh Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto (kedua kiri) dan CEO & CO-Founder GO-JEK Nadiem Makariem (kedua kanan) di Jakarta, Senin (12/2).

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara (kiri) bersama Presiden GO-JEK Andre Soelistyo (kanan) menyaksikan penandatanganan kerja sama Investasi antara Astra Internasional dengan GO-JEK yang dilakukan oleh Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto (kedua kiri) dan CEO & CO-Founder GO-JEK Nadiem Makariem (kedua kanan) di Jakarta, Senin (12/2).

Foto: Antara/Muhammad Adimadja
Penyertaan modal asing ke unicorn Indonesia tidak selalu berdampak positif.

REPUBLIKA.CO.ID, Penyertaan modal PT Astra Internasional Tbk dan Grup Djarum di perusahaan penyedia aplikasi layanan on demand berbasis aplikasi, Gojek, merupakan penanda 'unicorn' Indonesia semakin dilirik investor. Namun, mayoritas 'unicorn' Indonesia memperoleh penyertaan pendanaan dari pihak asing.

Sekadar gambaran, unicorn adalah sebutan untuk startup alias usaha rintisan yang memiliki valuasi di atas 1 miliar dolar AS. Apabila dikonversi ke rupiah, nilai valuasinya mencapai Rp 13,644 triliun (berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate).

Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, terdapat empat unicorn Indonesia. Keempat perusahaan itu adalah Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Keempatnya mendapatkan label unicorn pada rentang waktu yang berbeda.

Gojek dinobatkan sebagai unicorn selepas mendapatkan pendanaan sekitar 550 juta dolar AS (sekitar Rp 7,5 triliun) pada 4 Agustus 2017. Gojek dapat investasi dari konsorsium delapan investor berbagai negara yang dipimpin Sequoia Capital dan Warburg Pincus LLC, dua perusahaan investasi papan atas asal AS.

Sequoia yang berlokasi di Menlo Park, Kalifornia, selama ini fokus pada industri teknologi dan keuangan. Perusahaan ini mendukung banyak perseroan dengan nilai pasar saham yang diperkirakan menembus 1,4 triliun dolar AS (Rp 19 ribu triliun).

Sementara, Warburg Pincus merupakan perusahaan ekuitas yang telah berkiprah sejak 1996. Perusahaan ini memiliki aset sebanyak 40 miliar dolar AS (Rp 545,6 triliun) di berbagai sektor, seperti ritel dan industri.

Kemudian, Tokopedia masuk ke tataran unicorn setelah memperoleh penyertaan investasi senilai 1,1 miliar dolar AS (Rp 15 triliun) dari Alibaba berbarengan dengan HUT ke-72 Kemerdekaan RI 17 Agustus 2017. Alibaba adalah perusahaan asal Cina yang dikenal sebagai raksasa niaga elektronik. Pendiri Alibaba adalah Jack Ma, yang kini menjadi salah satu tokoh sentral di ekonomi Cina. Alibaba juga menjadi pengendali Yahoo!.

Sementara, Traveloka dinobatkan sebagai unicorn selepas mendapatkan pendanaan sekitar 350 juta dolar AS (Rp 4,77 triliun) dari Exepedia. Exepedia adalah perusahaan travel asal AS yang mengoperasikan sejumlah merek global lainnya, seperti hotels.com. Trivago, dan Orbitz.

Sedangkan, Bukalapak diklaim masuk ke tataran unicorn pada November 2017 lalu. Selain Grup Emtek, dua perusahaan ventura asal AS, yaitu 500 Startup dan QueensBridge Venture Partners, juga diketahui menanamkan modal di Bukalapak. Namun, nilainya tidak dipublikasikan.

Dari profil para investor yang berada di belakang Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak, terlihat jelas didominasi oleh investor asal AS, Cina, Singapura, dan Hong Kong. Besaran kepemilikan saham raksasa asing ini tidak diketahui.

Apakah mereka menjadi minoritas atau mayoritas di keempat unicorn itu. Ini karena tidak ada kewajiban bagi keempat unicorn untuk mengungkapkan para pemegang sahamnya, seperti laiknya perusahaan di bursa efek.

Peneliti di The Institute for Development of Economics and Finance Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, penyertaan modal asing ke unicorn Indonesia tidak selalu berdampak positif. Sorotan Bhima diarahkan ke tiga unicorn e-commerce (niaga elektronik).

Menurut dia, dominannya investor internasional berdampak pada produk-produk yang akan dijual. Dominasi produk impor seperti diketahui mencapai 93 persen dari total produk yang diperjualbelikan.

Berdasarkan data yang dihimpun, proyeksi transaksi niaga elektronik pada 2017 mencapai Rp 87 triliun. Konsumsi barang impor pun tumbuh tinggi pada tahun lalu, yaitu 14,7 persen year on year senilai 14,1 miliar dolar AS. "Salah satunya dipicu perkembangan e-commerce," kata Bhima.

Oleh karena itu, menurut dia, pemerintah harus tegas menyikapi maraknya penyertaan modal asing ke unicorn Indonesia. Misalnya, dari sisi aspek monopoli atau persaingan usaha. Kemudian dari sisi pengawasan, pemerintah harus lebih ketat karena terkait peredaran barang impor.

Hal lain berkaitan dengan pemanfaatan data pelanggan. Bhima mengatakan, bisnis jual beli data belum diatur regulasi. Dengan begitu, ada kekhawatiran disalahgunakan untuk kepentingan asing. "Di sini perlunya aturan pembatasan kepemilikan asing bagi perusahaan-perusahaan startup," ujar Bhima.

Saat menghadiri peresmian kerja sama Astra dan Gojek di Jakarta, Senin (12/2), Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan, di era digital, sinergi antarperusahaan Indonesia sangat penting dan diperlukan. Sebab, hal tersebut dapat memperkuat posisi ekonomi digital Indonesia di Asia Tenggara.

"Future (masa depan) adalah digital space (ruang digital). Industri harus saling berkonsolidasi untuk memajukan ekonomi digital, tidak bisa jalan sendiri-sendiri," kata Rudiantara, seperti dikutip dari siaran pers Kemenkominfo, Selasa (13/2).

Dia berharap pola pikir mengenai bisnis dapat diubah dengan memanfaatkan teknologi digital. Dengan demikian, ungkap Rudiantara, Indonesia mampu menjadi pemimpin ASEAN di sektor ekonomi digital.

Ia juga menambahkan, kolaborasi strategis antara dua perusahaan digital besar di Indonesia, yaitu Gojek dan anak usaha Grup Djarum, PT Global Digital Niaga (GDN), memiliki dampak positif. Salah satu pengaruhnya adalah meningkatkan kepercayaan investor asing.

"Hal ini efeknya bisa meningkatkan confidence (kepercayaan diri) dari investor asing. Mereka lihat investor Indonesia saja masuk, mereka juga ingin," ujar Rudiantara.

Menurut dia, investasi yang besar terhadap sebuah perusahaan digital akan membuka lapangan pekerjaan lebih luas. Oleh karena itu, Kemenkominfo terus mendukung inovasi dalam dunia digital guna mencapai target valuasi ekonomi digital sebesar 130 miliar dolar AS pada 2020.

Ekspansi bisnis

Analis Binaartha Securities M Nafan Aji Gusta mengatakan, langkah PT Astra Internasional Tbk melakukan investasi di Gojek merupakan bagian dari ekspansi bisnis. "Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, maka perkembangan ekonomi digital ke depannya akan semakin pesat," kata Nafan.

Dia menjelaskan, dengan berinvestasi di Gojek, akan berkontribusi positif bagi Astra. Dengan catatan skema kerja sama bisnis antara Astra dan Gojek saling menguntungkan, baik untuk jangka panjang maupun pendek. Nafan menilai, upaya Astra juga bisa berpengaruh pada harga saham Astra, tetapi tetap investasi memiliki risiko.

Untuk selanjutnya, jika kondisi investasi pada Gojek cenderung kondusif, Nafan melihat akan menguatkan posisi Astra, terutama dalam pasar ojek daring secara nasional. Apalagi, saat ini Gojek masuk dalam empat unicorn Indonesia dan juga mendapatkan investasi dari Google.  (Pengolah: muhammad iqbal).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES