Wednesday, 10 Jumadil Awwal 1440 / 16 January 2019

Wednesday, 10 Jumadil Awwal 1440 / 16 January 2019

Kementerian LHK Antisipasi Karhutla Hadapi El Nino Moderate

Senin 07 Jan 2019 21:47 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi Kebakaran Hutan

Ilustrasi Kebakaran Hutan

Foto: Foto : MgRol112
Badai tropis tersebut diketahui dapat memicu terjadinya karhutla.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) meningkatkan antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak akhir Desember. Tindakan ini berdasarkan laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan akan terjadi badai tropis El Nino Moderate memasuki bulan Januari hingga Februari 2019. Badai tropis tersebut diketahui dapat memicu terjadinya karhutla.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian LHK Raffles N Panjaitan mengatakan, antisipasi sudah dilakukan dengan mengiriman surat kepada gubernur di 12 daerah yang rawan kebaran. Surat tersebut disampaikan langsung oleh Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar pada 28 Desember 2018.

"Dalam surat, tertulis agar para gubernur dapat melakukan aksi pencegahan karhutla dari dini," ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Senin (7/1).

Raffles menambahkan, surat tersebut juga meminta agar pemerintah daerah sebagai pemilik teritori kawasan untuk segera menerapkan aksi sesuai dengan situasi. Khususnya, jika kawasan hutan dan sekitarnya sudah memasuki status siaga darurat. Kriteria teknis kesiagaan darurat lahan sudah tertuang dalam surat edaran.

Selain itu, Kementerian LHK mendorong pemerintah daerah untuk mengaktifkan kegiatan pengendalian berupa penyuluhan dan sosialisasi ke masyarakat. Upaya ini dilakukan melalui dinas dan instansi di daerah masing-masing. Di antaranya dinas sosial, pertanian dan perkebunan yang juga memiliki tanggung jawab atas pencegahan serta penanganan karhutla.

Dari 12 daerah yang mendapatkan surat dari Menteri LHK Siti Nurbaya, Raffles mengatakan, setidaknya ada tiga provinsi prioritas, yakni Jambi, Sumatera Selatan dan Riau. Tiga provinsi ini memiliki banyak daerah gambut. "Oleh karena itu, ketiganya mendapatkan atensi paling besar dari pemerintah pusat," ucapnya.

Berdasarkan situs sistem monitoring karhutla Kementerian LHK, sepanjang pekan ini (1-7 Januari), terdapat 18 titik panas. Jumlah tersebut naik dibanding dengan pekan lalu (25-31 Desember), yakni 15 persen. Titik ini terpantau dari satelit Terra/Aqua (LAPAN) dengan tingkat confidence di atas sama dengan 80 persen.

Dalam kurun waktu pekan ini, Raffles menjelaskan, setidaknya terdapat tiga kejadian kebakaran. Pertama, di Kota Dumai, Riau dengan perkiraan luas terbakar mencapai 1,5 hektar. Api terpantau sudah tidak ada di lokasi, hanya asap-asap tipis di sekitaran tunggul kayu.

Kedua, karhutla terjadi di Kabupaten Kampar, Riau, dengan luasan terbakar 15 hektar dan vegetasi terbakar adalah semak belukar dan ilalang. Terakhir, karhutla juga terjadi di Kabupaten Rokan Hilir, Riau.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES