Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Indonesia-Australia Kerja Sama di Bidang Lingkungan Hidup

Selasa 11 Dec 2018 11:36 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Dwi Murdaningsih

Emisi karbon

Emisi karbon

Foto: concurringopinions.com
Australia mendukung Indonesia dalam hal pengukuran karbon.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengatakan, Indonesia mendapatkan dukungan dari Australia terkait perubahan iklim dalam INCAS atau Indonesia National Carbon Accounting System. Sistem ini meliputi pengukuran, pelaporan dan verifikasi (MRV) dari Gas Rumah Kaca (GRK), termasuk aktivitas REDD+.

Dukungan ini disampaikan Menteri Lingkungan Australia, Melissa Price, di Sekretariat Delegasi Indonesia (Delri) di sela acara Konferensi Iklim PBB COP 24 di Katowice, Polandia pada Senin (10/12).

Siti menjelaskan, pihak Australia juga mendukung Indonesia dalam pengembangan instrumen untuk mengukur, melaporkan, dan verifikasi. "Hal ini penting dalam penghitungan emisi karbon," katanya dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Selasa (11/12).

Emisi Karbon Dioksida Tahun Ini Tembus Angka 40,9 Miliar Ton

Indonesia dan Australia memiliki sejarah kerja sama yang cukup panjang. Sebelumnya, Indonesia bersama Australia telah sukses melaksanakan Asia Pacific Rainforest Summit (APRS) bulan April 2018 lalu di Yogyakarta, yang menghasilkan banyak kesepakatan diantara negara-negara Asia Pasifik untuk penyelamatan hutan hujan kawasan ini.

Selain itu, menurut Siti, Indonesia-Australia sepakat mengagendakan kerja sama dalam hal pengelolaan gambut, mangrove, serta sampah plastik laut. "Untuk pelaksanaan kesepakatan masih menunggu kejelasan teknis implementasi,” kata dia.

Indonesia memiliki target penurunan emisi sebesar 29 persen pada 2030 dan dengan dukungan internasional target tersebut menjadi 4 persen, dimana penurunannya ditargetkan sebesar 17 persen dari kehutanan. Termasuk di antaranya dari blue carbon forest terutama mangrove, sementara 11 persen penurunan dilakukan melalui sektor energi. Australia memiliki target NDC 26-27 persen.

Sementara itu, Price menyambut baik kerja sama kedua negara di bidang lingkungan, terutama kehutanan. "Dalam lingkup yang lebih luas, dalam hal isu blue carbon dan sampah plastik laut juga tebuka luas kerja sama karena Indonesia dan Australia sama-sama memiliki kepedulian yang mendalam terhadap hal tersebut," ucapnya.

Rencana kedepan, Indonesia - Australia diharapkan dapat menggiatkan kembali Working Group on Environment and Climate Change, yang terakhir kali dilaksanakan Februari 2012. Indonesia - Australia juga diharapkan dapat melakukan langkah tindak lanjut Asia Pacific Rain Forest Partnership (APRP), kerjasama peningkatan capacity building, dan mengundang Australia untuk bergabung dalam IPTC.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA