Monday, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 December 2018

Monday, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 December 2018

Harga Bahan Baku Melejit, Pedagang Tahu Gejrot Menjerit

Selasa 27 Aug 2013 23:53 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

 Pekerja mengerjakan pembuatan tahu berbahan kedelai impor di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (22/8). (Republika/Aditya Pradana Putra)

Pekerja mengerjakan pembuatan tahu berbahan kedelai impor di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (22/8). (Republika/Aditya Pradana Putra)

REPUBLIKA.CO.ID,  CIREBON -- Para pedagang tahu gejrot makanan khas Pantura Cirebon, Jawa Barat, "menjerit" akibat harga tahu dan berbagai bumbu lain seperti bawang merah melambung.

Karso, salah seorang pedagang tahu gejrot Cirebon kepada wartawan di Cirebon, Selasa (27/8), mengatakan, para pedagang tahu gejrot semakin menjerit setelah harga tahu dan bawang merah, cabai rawit melambung, kini keuntungan mereka berkurang karena harus menanggung tingginya modal usaha.

Harga bawang merah sebelumnya tembus Rp 65 ribu per kilogram, kini bertahan tinggi kisaran Rp 40 ribu per kilogram, sedangkan cabai rawit Rp 40 ribu per kilogram, beban berat harga tahu melonjak naik sekitar 40 persen.

Ia menambahkan, sebelumnya harga tahu ukuran tahu gejrot dijual Rp 500 per biji kini menjadi Rp 700, terpaksa porsinya dikurang untuk menekan modal usaha tinggi.

Sementara itu sejumlah perajin tahu gejrot di Ciledug Kabupaten Cirebon, mulai mengurang buruh harian lepas mereka, akibat mahalnya harga bahan baku yakni kedelai impor.

"Terpaksa mengurangi buruh harian lepas dipabrik pengolahan tahu, karena produksi dibatasi akibat mahalnya harga kedelai impor, diperkirakan perajin lain akan mengalami hal serupa," kata Ahmad pemilik pengolahan tahu gejrot di Cirebon, Selasa.

Ia menambahkan, biasanya tempat pengolahan tahu lamping khas Kuningan mempekerjakan sekitar 20 orang pewagai, kini yang masih bekerja hanya 10 orang, jika bahan baku tetap mahal terpaksa berhenti produksi.

Harga bahan baku Rp 7.000 per kilogram sudah membebani perajin, kata dia, kini harga melonjak hingga Rp10 ribu per kilogram pasti mereka rugi karena tidak sebanding dengan hasil penjualan.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES