Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Tak Sanggup Bayar, Bayi Kembar Tertahan di RS

Kamis 18 Jul 2013 21:02 WIB

Rep: Lingga Permesti/ Red: Mansyur Faqih

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Mulyani (31 tahun) harus menahan kerinduan untuk memeluk bayi kembar yang dilahirkannya 7 Juli lalu. Sudah dua pekan bayi kembarnya dirawat di Rumah Sakit Advent Bandung. Kedua anak kembar Mulyani bisa dibawa pulang jika ia membayar sekitar Rp 40 juta untuk biaya bersalin dan NICU. 

Padahal Mulyani sudah keluar dari rumah sakit dan menjalani berobat jalan pascamelahirkan. Dokter rumah sakit beralasan, bayi kembar belum dapat dibawa pulang karena paru-paru kedua anak kembar belum bisa berfungsi sepenuhnya untuk bernapas. Mata dan telinga kedua bayi kembar tersebut juga belum diperiksa. Dokter yang menangani kedua bayi kembar, dr Ali Usman menyatakan bayi kembar baru dapat dilepas dari inkubator sepekan ke depan. 

Ini artinya, biaya yang dibutuhkan semakin besar. Untuk perawatan satu bayi, menghabiskan biaya Rp 1,5 juta setiap harinya. Belum lagi, biaya perawatan dan pengobatan lainnya. Idealnya, rumah sakit mengatakan sekitar tiga bulan lamanya bayi dirawat agar dapat kembali normal. Diperkirakan, sekitar Rp 650 juta biaya yang harus Mulyani gelontorkan.

Padahal, Mulyani merupakan keluarga tidak mampu. Mulyani yang sebelumnya bekerja di sebuah mal di Bandung harus keluar dari pekerjaannya karena peraturan yang melarang karyawan hamil besar. Ia menggantungkan biaya persalinan kepada sang suami Aditya Pratama (26) yang hanya seorang kasir di sebuah minimarket waralaba.

Sementara Aditya mengandalkan pendapatannya sebesar Rp 1,1 juta untuk membayar kontrakan rumah Rp 650 ribu dan biaya makan sehari-hari. Awalnya Aditya cukup tenang dengan kartu asuransi yang diberikan perusahaan tempatnya bekerja yang memiliki kerja sama dengan Rumah Sakit Advent. Ini yang membuat Aditya memilih istrinya bersalin di rumah sakit tersebut. Sayangnya, asuransi itu hanya memberikan dana sekitar Rp 4 juta. 

Ketika tahu ia harus menebus puluhan juta rupiah, Aditya kaget bukan kepalang. Surat keterangan tidak mampu yang diberikan ke rumah sakit tidak berlaku untuk pasien NICU. Aditya sempat terpikir untuk merawat kedua anaknya di rumah. "Kami dapat sumbangan inkubator, tapi sayang anak kami tetap tak bisa dibawa pulang sebelum menebus biaya rumah sakit,"ujar dia.

Aditya sudah melakukan beragam upaya untuk membawa anak kembarnya kembali ke rumah. Misalnya dengan mengajukan dana dari donatur seperti Rumah Zakat dan Dompet Dhuafa, sayang upayanya tersebut belum membuahkan hasil. 

Tetangga dan saudara-saudaranya sudah cukup banyak membantu. Beberapa donatur memberikan tambahan biaya menebus rumah sakit. Namun, sampai saat ini dana yang terkumpul baru Rp 10 juta dan belum dapat membawa kedua anak kembarnya pulang. "Kami sudah berusaha membantu keluarga Aditya dan Mulyani sebisa mungkin. Mudah-mudahan ada jalan keluar,"ujar salah satu sanak saudara Aditya, Amalia.

Hingga saat ini, Mulyani yang masih dalam proses penyembuhan pascamelahirkan tinggal di rumah orang tua di Cilengkrang, Bandung. Sementara sang suami bekerja di wilayah Buah Batu Bandung.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA