Sabtu, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Sabtu, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Pengguna Narkoba di Jabar Terus Meningkat

Rabu 26 Jun 2013 18:42 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Djibril Muhammad

  Polisi memperlihatkan tersangka beserta barang bukti saat gelar kasus narkoba di Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Jakarta Timur, Rabu (19/6).  (Republika/ Yasin Habibi)

Polisi memperlihatkan tersangka beserta barang bukti saat gelar kasus narkoba di Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Jakarta Timur, Rabu (19/6). (Republika/ Yasin Habibi)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Tingkat prevelensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia setiap tahunnya selalu meningkat. Berdasarkan penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN), tingkat prevalensi penyalahgunaan narkoba 2008 sebesar 1,99 persen atau sekitar 3,3 juta jiwa.

Pada 2012, meningkat menjadi 2,2 persen dan diperkirakan menjadi 2,6 persen tahun 2013. Kondisi tersebut, tidak jauh berbeda dengan Jabar. Khusus di Jabar, tahun ini prevelensi pengguna narkoba sekitar 2,4 persen atau sekitar 700 ribu orang.

"Penyalahgunaan narkoba, bisa menimpa siapa saja tanpa mengenal batas usia, jenis kelamin, pekerjaan maupun tingkat ekonomi," ujar Kepala BNN Provinsi Jawa Barat, Anang Pratanto, dalam acara Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) Tingkat Provinsi Jawa Barat di Halaman Parkir Barat Gedung Sate, Rabu (26/6)

Menurut Anang, untuk mencegah penyalah gunaan narkoba, BNN telah melakukan sejumlah upaya. Yakni, baik dari sisi pencegahan, pemberdayaan masyarakat, pemberantasan maupun tes urine ke sejumlah pihak.

"Kami, sudah melakukan 32 kali tes urine di lembaga permasyarakatan. Selain itu, tes urine dilakukan ke kepolisian, supir, kader Parpol dan tempat hiburan malam." Katanya.

Anang mengatakan, dari 2012 sampai 2013, BNN Jabar telah memperkarakan kasus narkoba sebanyak 10 perkara. Selain itu, telah mengamankan 818 gram sabu. Serta, ganja dan ekstasi.

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan mengatakan, untuk melawan peredaran dan penggunan narkotika dan obat-obatan berbahaya harus dimulai dengan membangun ketahanan keluarga.

Di tengah semakin meningkatnya penyalahgunaan narkoba di tanah air ini, sebaiknya dicegah dengan memperkuat tingkat keharmonisan dalam rumah tangga.

"Kalau keluarga harmonis dan sehat, maka narkoba sangat sulit menembus para generasi muda kita," katanya.

Lebih lanjut Heryawan mengatakan, ia berkomitmen memberantas peredaran dan penyalahgunaan narkoba, khususnya di generasi muda dan usia produktif.

Ia mencurigai, ada sekelompok orang, baik itu di dalam negeri maupun luar negeri yang secara sengaja mengorganisir peredaran narkoba yang tujuannya lebih dahsyat, yakni menghancurkan generasi muda di Indonesia.

Apalagi, kata dia, saat ini menurut data Uniterd Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) per tahun 2012 mengisyaratkan ada 300 juta orang usia produktif antara 15-64 tahun di dunia yang mengkonsumsi aktif narkoba.

Sementara di bidang ekonomi, berdasarkan hasil survei Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2011, penyalahgunaan narkoba menimbulkan kerugian materi mencapai Rp 48,2 triliun. Untuk itu, Heryawan mengajak semua pihak untuk menhancurkan narkoba.

"Kita semua harus mengambil peran, dengan melawan dan hancurkan narkoba," katanya.

Sementara menurut Ketua DPC Granat Kota Bandung, Yusnan Solihin, Kota Bandung prevelensinya terbanyak no 6 di Jabar. Narkoba, seolah-olah menjadi masalah orang lain. Padahal, saat ini narkoba menjadi persoalan semua orang. Sebab, narkoba bisa menyusup melalui obat-obatan.

Oleh sebab itu, dalam melakukan upaya pencegahan penyebaran narkoba, Granat Kota Bandung memiliki berbagai upaya. "Pencegahan yang kami lakukan sekarang, memberikan kesadaran secara holistic kepada masyarakat. Khususnya, generasi muda seperti pelajar dan mahasiswa," katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES