Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Ibu Kota Baru, Perubahan Centre of Gravity dan Implikasinya

Kamis 05 Sep 2019 09:44 WIB

Red: Gita Amanda

Center of gravity Indonesia.

Center of gravity Indonesia.

Foto: Kemhan
Center of gravity adalah pusat kekuatan penentu menang kalahnya negara dalam perang.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Brigadir Jenderal TNI Jonni Mahroza, Ph.D, Wakil Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan dan Dosen Tetap Prodi S-2 Diplomasi Pertahanan, Unhan

Baca Juga

Apa makna paling mendasar dari perpindahan ibu kota Republik Indonesia bagi strategi pertahanan negara? Jawabannya adalah bergesernya “centre of gravity”. Ini istilah untuk pusat kekuatan (sekaligus pusat kerawanan) penentu menang atau kalahnya suatu negara dalam perang. Apakah pergeseran itu menguntungkan atau merugikan? 

Analisa strategi pertahanan memperlihatkan bahwa pergeseran tersebut menguntungkan baik secara strategis maupun taktis. Namun keuntungan itu tidak gratis. Postur pertahanan negara perlu disesuaikan, terutama gelar kekuatan di Kalimantan harus diperkuat. Ini membutuhkan komitmen tinggi semua pemangku kepentingan, khususnya dari sisi anggaran.     

Apa centre of gravity Indonesia?

Centre of gravity bisa berupa wilayah geografis, seperti daerah pusat pemerintahan, daerah pusat perekonomian, tapi bisa juga berupa instrumen lain kekuatan nasional, misalnya militer dan objek vital strategis. Bahkan dalam konteks demokrasi, bisa berupa legitimasi politik. Jadi bentuknya bisa tangible (fisik) maupun intangible (nonfisik).

Lalu apa centre of gravity Indonesia? Pada level negara tentu saja yang paling utama adalah pusat pemerintahan (ibu kota negara), dan bisa juga pusat perekonomian. Secara geografis ini berarti Jakarta. Bila diperluas artinya mungkin mencakup Pulau Jawa, tergantung dari kalkulasi strategisnya.

Itulah yang mendasari mengapa selama ini kekuatan TNI terpusat di Jawa. Alasannya, pemerintahan RI ada di Jawa dan lebih dari lima puluh persen penduduk serta perekonomian Indonesia terpusat di Jawa. Ini gambaran sederhana centre of gravity Indonesia.

Tidak terbatas pada wilayah kunci dan fungsinya, tetapi juga instrumen dan cara mempertahankan wilayah kunci tersebut. Ideologi Pancasila, Konstitusi RI (UUD 1945) dengan doktrin Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata), kebinekaan, prinsip NKRI, bahkan TNI, bisa termasuk dalamnya. Mana yang dipandang kekuatan kunci untuk menundukkan Indonesia, itulah centre of gravity, dan itu pasti menjadi misi utama musuh.

Dampak pemindahan ibu kota

Dengan perpindahan ibukota RI dari Jawa ke Kalimantan, yang berubah adalah posisi pusat pemerintahan (di Kalimantan) dan pusat perekonomian (di Jawa). Yang penting dicatat adalah bahwa dari sudut pandang strategi pertahanan pemindahan ini menguntungkan. Mengapa demikian?

Pertama, dua centre of gravity (pusat perekonomian dan pusat pemerintahan) yang tadinya terpusat pada satu wilayah atau satu pulau, sekarang dipecah menjadi dua. Diversifikasi itu menutup kerawanan hancurnya dua fungsi itu sekaligus dengan satu kali serangan.

Kedua, medan pertempuran di Pulau Kalimantan jauh lebih menguntungkan secara operasional dan taktis dibandingkan di Pulau Jawa. Untuk doktrin pertahanan Indonesia yang defensif (bertahan), kondisi hutan lebat, dan berbagai rintangan alam berupa sungai-sungai besar dan pegunungan di sepanjang perbatasan darat Indonesia-Malaysia sangat menguntungkan. Medan ini sangat cocok untuk gelar kekuatan TNI AD.

Bagi TNI AL dan TNI AU juga begitu. Melindungi ibu kota dari arah laut akan lebih mudah dan terukur. Medan laut sekitar Kaltim lebih sempit, mulai ujung utara dan selatan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II, dibandingkan dengan medan laut di Jakarta yang terbuka sangat luas.

Kemudian, posisi geografis yang persis ditengah-tengah Indonesia memudahkan mengonsentrasikan kekuatan udara dari timur, barat, utara dan selatan, bila ibukota diserang. Sebaliknya, bila dikerahkan dari Kalimantan lebih dekat ke barat, timur, utara dan selatan.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa dengan kemajuan teknologi, posisi geografis tidak lagi penting. Jarak jangkau misil bisa mencapai ribuan kilometer, jadi cukup menyerang dari jauh. Kemampuan satelit juga sangat canggih bisa mendeteksi sampai ke dalam hutan. Mungkin ini bisa benar kalau tujuan serangan hanya untuk melumpuhkan, tidak sampai menduduki. Namun itu tidak sesuai dengan bukti empiris yang ada.

Penaklukan Irak oleh tentara Amerika dan sekutunya misalnya, tidak berhenti hanya dengan serangan udara, tapi harus diselesaikan dengan serangan darat. Tetapi kemudian tetap saja pendudukan total Amerika menjadi gagal ketika berhadapan dengan gerilyawan Irak.

Hal yang sama terjadi pula di Afghanistan, sampai lebih dari tujuh belas tahun Amerika dan tentara koalisi tidak mampu mengalahkan gerilyawan Taliban. Lebih beruntung dari Irak, Afghanistan memiliki medan sulit dengan pergunungan dan perbukitan terjal dan penuh dengan gua yang bagus untuk pertahanan. Jadi pada akhirnya, faktor medan dan kondisi alam tetap saja sangat penting.

Strategic culture” (budaya berperang) Indonesia lahir dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dan melahirkan konsep Sihankamrata. Sishankamrata Indonesia akan lebih kuat dengan kondisi medan pertempuran seperti di hutan Kalimantan, terutama pada tahapan Perang Berlarut, dengan taktik gerilya, asalkan didesain dengan baik dari awal.

Bagaimana melindungi ibu kota?

Nah, apa yang harus dilakukan? Bagaimana mendesain gelar kekuatan pertahanan negara yang baru untuk melindungi ibukota? Pertama, kekuatan TNI di Jawa jangan dikurangi. Jawa sebagai pusat perekonomian Indonesia tidak berubah dan perlu pertahanan yang kuat. Kedua, gelar kekuatan TNI di Kalimantan perlu ditambah, minimal relatif sama dengan di Jawa.

Seberapa besar dan apa ukurannya? Untuk kekuatan pertahanan darat, setiap provinsi di Kalimantan perlu dibangun satu Kodam, lengkap dengan kekuatan satuan tempur, satuan bantuan tempur dan satuan bantuan administrasinya. Sehingga idealnya ada lima Kodam di lima provinsi. Sama seperti yang dilakukan di Jawa. Sekarang baru ada dua di Kaltim dan Kalbar. Harus ada penambahan tiga lagi, di Kalut, Kalteng, dan Kalsel.

Gelar kekuatan pertahanan laut juga harus ditambah, terutama di Ujung Pandang dan Manado, serta pembentukan pangkalan baru di Kalsel dan Kalut. Daerah sekitar sungai besar di Kalimantan harus dirancang sebagai daerah gelar satuan marinir. Selain itu, perlu ada desain ulang tentang disposisi gelar kapal selam supaya lebih efektif melindungi ibukota negara. Kekuatan ini akan memperkuat kekuatan yang sudah ada di Armada I (Jakarta), II (Surabaya) dan III (Sorong).

Demikian juga dengan kekuatan pertahanan udara harus ada penambahan pada tempat-tempat yang strategis untuk melindungi ibukota negara. Pangkalan Udara di tiap provinsi menjadi penting untuk mendukung mobilisasi pasukan darat dan untuk proyeksi kekuatan pesawat-pesawat tempur. Semua kekuatan baru itu hanya perkiraan kasar. Secara detail perlu dihitung baik komposisi maupun disposisinya.

Kembali ke pertanyaan awal, apa ukuran gelar kekuatan pertahanan baru di Kalimantan? Ukuran utama dan prioritas, kekuatan TNI harus lebih superior di Pulau Kalimantan dibandingkan kekuatan Angkatan Bersenjata Malaysia dan Brunei, dua negara yang berbatas darat dengan Indonesia di Kalimantan. Menghitung kekuatan Malaysia dan Brunei harus mempertimbangkan potensi pengerahan kekuatan FPDA (Five Power Defense Arrangement) yang terdiri dari Inggris, Australia, New Zealand, Malaysia dan Singapura.

Ini bukan berarti menempatkan Malaysia sebagai negara musuh yang saat ini jelas-jelas sangat bersahabat. Tetapi dalam dunia internasional yang anarkis (anarchical international system), tidak ada kekuatan tertinggi diatas negara, hanya ada satu cara terbaik untuk survive sebagai sebuah negara, yaitu menjadi terkuat atau superior.

Dengan pemindahan ibu kota ke Kalimantan, Malaysia mestinya bisa memahami mengapa gelar TNI perlu ditingkatkan di Kalimantan. Akan tetapi komunikasi dengan pemerintah Malaysia memang harus terus dibangun agar tidak terjadi penafsiran lain yang menyebabkan Malaysia merasa terancam dengan penambahan kekuatan TNI di Kalimantan.     

Ukuran kedua, kekuatan TNI di Kalimantan harus didesain untuk mampu diproyeksikan lebih efektif untuk mendukung pengerahan ke wilayah barat, dan wilayah timur Indonesia. Dengan posisi Kalimantan di tengah-tengah Indonesia, hal ini akan lebih mudah dilakukan karena jarak yang lebih dekat.

Pemindahan ibu kota RI ke Kalimantan dirancang untuk visi jangka panjang, menyongsong Indonesia Maju 2050. Rancangan Pertahanan negara 2050, khususnya perlindungan terhadap ibu kota sebagai centre of gravity Indonesia harus menjadi bagian penting dari rancangan itu. Pertahanan negara menyangkut kedaulatan dan kelangsungan hidup bangsa dan negara. Karena itu, dibutuhkan visi bersama dan komitmen yang tinggi dari segenap komponen bangsa untuk mewujudkannya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA