Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Kisah Perempuan Badui Pemandu Wisata Pertama di Gurun Sinai

Selasa 16 Apr 2019 22:22 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nashih Nashrullah

Ummu Yasir, pertempuan badui pemandu wisata

Ummu Yasir, pertempuan badui pemandu wisata

Foto: AP
Perempuan Badui selama ini tak pernah dilibatkan sebagai pemandu.

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO — Di tengah pemandangan gurun yang menakjubkan di Semenanjung Sinai, Mesir, seorang perempuan Badui bernama Umm Yasser terlihat sedang membawa kelompok wisatawan asing. 

Baca Juga

Dia menunjukkan sebuah tanaman dan menjelaskan dengan rinci bagaimana itu bisa digunakan untuk pengobatan.  

Ini adalah pemadangan yang langka, di mana seorang perempuan Badui, secara keseluruhan di Timur Tengah bisa menjadi seorang pemandu wisata. 

Selama ini, tidak ada perempuan yang bekerja di luar rumah, dan bahkan jarang sekali yang berinteraksi dengan orang luar, selain keluarga mereka.

Yasser adalah perempuan Badui pertama yang bekerja di luar rumah. Dia menjadi pelopor yang membuktikan bahwa kaum Hawa bisa setara dengan laki-laki, meskipun dia berasal dari komunitas yang selama ini dianggap sangat tradisional atau konservatif. 

“Ini bertentangan dengan budaya kami, tapi perempuan membutuhkan pekerjaan,” ujar Yasser dilansir Alarabiya, Senin (15/4). 

Selain Yasser, ada tiga perempuan Badui lainnya yang bekerja sebagai pemandu wisata di Semenanjung Sinai. 

Menurutnya, tak sedikit orang yang mengolok-olok mereka karena menggebrak perubahan di kalangan masyarakat konservatif tersebut.  “Saya tidak peduli, saya seorang perempuan yang kuat,” jelas Yasser. 

Yasser menjadi bagian dari Sinai Trail, sebuah proyek di mana masyarakat Badui di wilayah gurun Mesir tersebut berkumpul dengan tujuan mengembangkan pariwisata. Didirikan pada 2015, proyek ini telah menyiapkan jalur sepanjang 550 kilometer melalui pegunungan terpencil di semenanjung.  

Proyek ini didirikan setelah melewati wilayah dari delapan suku yang berbeda, yang masing-masing memberikan kontribusi untuk panduan wisata. 

Sinai Trail telah berhasil mendatangkan sejumlah pendapatan bagi suku-suku itu, yang sering mengeluh karena tersisih dari pengembangan pariwisata utama di Sinai selatan, wilayah yang terkenal dengan resor dan pemandangan pantai, serta safari gurun.

Selama ini, seluruh pemandu wisata adalah laki-laki. Namun, salah satu pendiri Sinai Trail yang berasal dari Inggris, Ben Hoffler mengatakan proyek tersebut tidak cukup jika tidak melibatkan perempuan Badui. 

photo
Perempuan Pemandu wisata di Gurun Sinai

“Bagaimana kami bisa dipercaya dan menyebut proyek ini sebagai Sinai Trail, jika perempuan tidak terlibat?” jelas Hoffler. 

Tetapi, setelah bertahun-tahun mencoba mencari perempuan Badui untuk menjadi pemandu wisata, hampir semua suku di kalangan masyarakat itu menolak. Hanya satu suku yang disebut sebagai yang terkecil, tertua, dan termiskin, bernama Hamada menerima gagasan tersebut. 

Perempuan Badui diizinkan untuk menjadi pemandu wisata dengan beberapa syarat. Pertama, mereka hanya bisa memandu tur bagi para turis perempuan. Selain itu, tidak boleh mengikuti tur yang membuat mereka harus menginap. 

Sebelum matahari terbenam, perempuan Badui yang menjadi pemandu wisata harus kembali ke desa mereka. Selain itu, para wisatawan diminta untuk tidak memotret pemandu mereka, kecuali saat sedang mengenakan jubah dan kerudung yang menutup wajah. 

Yasser menjadi perempuan pertama yang menjadi pemandu tur Semenanjung Sinai. DIa mengatakan sangat mengetahui wilayah pegunungan serta lembah di sana sejak kecil.  

Setelah itu, Yasser meyakinkan keluarga dari tiga perempuan di suku mereka untuk bekerja sebagai pemandu. Selama ini, masyarakat Badui dari suku Hamada dikenal miskin dan tinggal di daerah yang terisolasi jauh di pegunungan Sinai selatan, jauh dari pusat pariwisata Sinai di sepanjang pantai Laut Merah atau dekat Biara Saint Catherine yang terkenal dengan kehadiran para turis. 

“Kami membutuhkan uang untuk membantu mendukung keluarga kami guna memenuhi kebutuhan dasar,” jelas Yasser. 

Semenanjung Sinai dikenal sebagai salah satu wilayah yang tidak aman untuk pariwisata karena situasi konflik terkait kelompok-kelompok militan yang ada di sana. 

Secara khusus di bagian utara Sinai, di mana kelompok terkait Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) secara intensif meluncurkan serangan dan berbagai jenis kekerasan. 

Meski wilayah yang terkenal sebagai pusat wisata berada di selatan Sinai, namun diperlukan upaya keras agar wisatawan tertarik untuk berkunjung ke sana. Salah satu turis asal Belanda yang mengikuti tur yang dipimpin Yasser, Marion Salwegter mengatakan saat ini situasi di sana aman.  

“Saya pikir Sinai selatan aman terutama ketika Anda bersama warga Badui, setiap sudut pemandangan di sini sangat indah,” jelas Salwegter.

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA