Thursday, 17 Syawwal 1440 / 20 June 2019

Thursday, 17 Syawwal 1440 / 20 June 2019

Dinkes Depok Ajak Warga Waspadai Penyakit TBC

Senin 25 Mar 2019 18:48 WIB

Rep: Rusdy Nurdiansyah/ Red: Gita Amanda

Pasien Tuberkulosis melihat hasil ronsen dadanya. Indonesia, India, China, menjadi tiga negara penderita TBC terbesar dunia.

Pasien Tuberkulosis melihat hasil ronsen dadanya. Indonesia, India, China, menjadi tiga negara penderita TBC terbesar dunia.

Foto: EPA
TBC termasuk satu dari sepuluh penyebab kematian di dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Peringati Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok mengajak warga untuk mewaspadai bahaya penyakit Tuberkolosis (TBC). Penyakit menular itu termasuk satu dari sepuluh penyebab kematian di dunia.

Baca Juga

"TB termasuk penyakit menular yang bisa menyebar kepada siapa saja, tanpa terkecuali. Penyakit menular ini juga menjadi salah satu dari sepuluh penyakit penyebab kematian," kata Kepala Dinkes Depok, Novarita, saat peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS), di Balai Kota Depok, Senin (25/3).

Menurut Novarita di dunia kesehatan, infeksi penyakit TB masih menjadi masalah global atau nasional. "Pengobatan TB atau yang sering disebut flek paru ini tidak mudah dan murah, karena proses penyembuhannya juga bersifat jangka panjang," terangnya.

Dia menjelaskan, jika, penderita yang tidak ditangani secara tuntas, bisa mengakibatkan kebal terhadap TB dan menyebarkannya penularan kepada orang lain melalui udara.

"Ya harus ada kesadaran masyarakat agar bisa terhindar dari penyakit ini yakni dengan menggunakan masker apabila sedang batuk atau influenza, rajin mencuci tangan sebelum beraktivitas. Harapannya Indonesia Bebas TB mulai dari diri sendiri yakni kesadaran untuk melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta berkontribusi aktif dalam menyosialisasikannya," tuturnya.

Ketua Dewan Kehormatan Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Cabang Depok, Elly Farida, menekankan pentingnya menjaga kesehatan diri. Termasuk dengan tidak merokok di depan umum, apalagi di depan anak.

Menurut Elly, merokok memiliki banyak dampak negatif. Bukan hanya menjadi salah satu penyebab penyakit tuberkulosis (TB), tetapi juga kanker paru-paru.

"Perlu kita ketahui, penyakit kanker nomor satu di dunia terjadi pada paru-paru. Penyebabnya, di antaranya kebiasaan merokok," tegasnya.

Dia mengutarakan, merokok juga berdampak buruk bagi orang-orang di sekeliling, tidak terkecuali istri dan anak-anak. Karena, imbuhnya, tidak sedikit dari perokok pasif berisiko mengidap kanker paru-paru atau penyakit jantung seperti yang dialami perokok aktif.

"Berapa banyak anak-anak kita yang tidak berdosa, menjadi korban dari asap rokok. Karena ayahnya tidak memahami betapa bahayanya merokok di sekitar mereka. Padahal, kalau saja bisa menjaga diri, hal tersebut tidak perlu terjadi," papar Elly.

Karena itulah, lanjut Ellt, Kota Depok memiliki Peraturan Daerah (Perda) No 3 Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Aturan ini, yang menurutnya harus terus dikampanyekan oleh berbagai pihak dalam banyak kesempatan. Kalau tidak ada kebersamaan akan sulit. Ini semua bagian dari upaya kita mewujudkan salah satu program unggulan Kota Depok, yaitu Smart Healthy City," ucapnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA