Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Pemprov Diminta Mulai Sosialisasikan Moda Terintegrasi MRT

Kamis 14 Mar 2019 15:16 WIB

Rep: Mimi Kartika/ Red: Gita Amanda

Uji Coba Publik MRT. Penumpang menunggu kereta MRT saat uji coba publik pengoperasian MRT fase I Koridor Lebak Bulus-Bundaran HI di Stasiun Lebak Bulus, Jakarta, Selasa (12/3).

Uji Coba Publik MRT. Penumpang menunggu kereta MRT saat uji coba publik pengoperasian MRT fase I Koridor Lebak Bulus-Bundaran HI di Stasiun Lebak Bulus, Jakarta, Selasa (12/3).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Dewan transportasi Jakarta minta moda transportasi terintegrasi MRT diperkenalkan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta masih mengupayakan integrasi antarmoda transportasi umum menjelang beroperasi resmi Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta. Anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Tory Darmantoro meminta agar moda transportasi umum yang terintegrasi dengan MRT dan Lintas Rel Terpadu (LRT) segera diperkenalkan ke masyarakat.

"Integrasi pelayanan feeder-nya (armada pengumpan) harus dimulai diperkenalkan sejak sekarang baik MRT maupun LRT," ujar Darmantoro saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (14/3).

Ia mengatakan, saat ini Pemprov DKI harus segera menyosialisasikan antarmoda apa saja yang dapat digunakan masyarakat untuk berpindah transportasi. Sehingga ketika MRT fase I rute Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia (HI) mulai beroperasi komersial, warga sudah memahaminya dan tak bingung lagi.

Darmantoro menambahkan, hal itu diperlukan sebab pengguna transportasi umum di Jakarta tak hanya warga Jakarta. Melainkan warga di luar wilayah yang juga harus diperhatikan seperti Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi.

Sehingga, lanjut dia, masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi berkurang. Sementara mereka akan beralih untuk menggunakan transportasi umum yang sudah terintegrasi. Bisa menjangkau pemukiman warga hingga tempat tujuan.

Darmantoro menambahkan, DTKJ mendorong integrasi sistem pembayaran segera diwujudkan. Akan tetapi, yang menjadi catatan harus dipertimbangkan perhitungan ketetapan tarif dan perancangan sistemnya.

"Penetapan tarif dan perancangan sistem itu harus dilakukan secara hati-hati agar subsidinya tidak jebol," kata dia.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Widjatmolo mengatakan, pihaknya tengah mengembangkan antarmoda yang terintegrasi dengan MRT Jakarta. Ia mencontohkan, Pemprov sudah mencanangkan kawasan transit hub di Dukuh Atas.

Ia menjelaskan, perencanaan kawasan integrasi itu digagas oleh lima operator transportasi umum. Di antaranya PT Kereta Commuterline Indonesia (KCI), PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Railink, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), PT MRT Jakarta, dan PT LRT Jakarta.

"Bagaimana menyediakan akses yang inklusif sehingga transit antarmoda juga bisa berjalan baik di kawasan Dukuh Atas," kata Sigit.

Ia menyebut, PT Transjakarta sudah merencanakan kerja sama dengan beberapa kota seperti Kota Tangerang Selatan. Menurut Sigit, PT Transjakarta telah melaksanakan uji coba rute layanan dari Tangerang Selatan menuju Stasiun MRT Lebak Bulus sampai dengan Bundaran HI.

"Ini terus kita kembangkan dengan depok, dengan tangerang itu sudah kita kerjakan
artinya bagaimanana menyelenggarakan MRT yang substain kuncinya adalah ridership (jumlah penumpang) sesuai dengan target yang ingin dicapai," jelas dia.

Ia menambahkan, Dishub DKI Jakarta akan menyediakan beberapa fasilitas park and ride di sejumlah titik dekat stasiun MRT. Fasilitas tempat parkir itu disediakan bagi warga yang menggunakan kendaraan probadi untuk berpindah ke transportasi umum.

Selain itu, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) tengah berfokus untuk mengintegrasikan antarmoda di 13 stasiun MRT Jakarta fase I rute Lebak Bulus-Bundaran HI. Kepala BPTJ Bambang Prihantono mengatakan, proses integrasi itu sudah mencapai 70-80 persen.

"MRT sudah 99 persen sudah siap beroperasi. Integrasinya sama integrasinya kira-kira 70-80 persen lah. Kita siapkan terus, kita sempurnakan terus," kata Bambang.

Ia menjelaskan, integrasi antarmoda dibutuhkan untuk meningkatkan jumlah penumpang atau ridership. Termasuk pula menyediakan fasilitas park and ride agar warga mudah memarkirkan kendaraan pribadinya dan beralih ke kendaraan umum.

Bambang menambahkan, pihaknya tengah mempersiapkan tempat berhentinya ataupun parkir bus Transjakarta, angkutan kota (angkot), serta bus antarkota di beberapa stasiun MRT. Sehingga lalu lintas di sekitar stasiun berjalan lancar.

"Kami lagi mempersiapkan ini misalnya Lebak Bulus nanti kalau ada Transjakarta parkirnya di mana, kemudian angkotnya di mana, kemudian nanti setelah itu kalau ada bus antarkota itu parkirnya di mana," jelas dia.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA