Jumat, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Jumat, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Sepanjang Januari 813 Kasus DBD Ditemukan di Jakarta

Sabtu 02 Feb 2019 06:13 WIB

Red: Indira Rezkisari

Petugas melakukan pengasapan (fogging) guna memberantas nyamuk penyebab demam berdarah di Kebon Sirih, Jakarta, Senin (8/2).  (Republika/Yasin Habibi)

Petugas melakukan pengasapan (fogging) guna memberantas nyamuk penyebab demam berdarah di Kebon Sirih, Jakarta, Senin (8/2). (Republika/Yasin Habibi)

Belum ada kejadian meninggal akibat DBD di Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID,

Baca Juga

JAKARTA -- Sepanjang Januari 2019 ada 813 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di DKI Jakarta. Kasus tertinggi terdapat di Jakarta Selatan dengan 277 kasus DBD.

Sedangkan untuk Jakarta Timur ada 226 kasus, Jakarta Barat ada 230 kasus dan sisanya ada di Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. "Alhamdulillah sampai saat ini belum ada laporan orang yang terjangkit DBD meninggal. Jadi kita selalu update dan investigasi di lapangan, sehingga kalau ada sesuatu kita langsung menindaklanjuti," kata Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti di Balai Kota Jakarta, Jumat (1/2).

Dikatakannya bahwa ada orang yang terjangkit DBD, namun tidak menunjukkan gejala yang klasik. Artinya gejala ini tidak kelihatan.

Dinkes sudah menyampaikan kepada pegawai yang berada di fasilitas kesehatan bahwa dalam kondisi seperti ini Jakarta sebagai daerah endemis apabila kasusnya sedang meningkat patut dicurigai. "Kita patut curiga kalau dalam waktu sehari ada keluarga yang panas, maka langsung diperiksa apakah mengidap DBD atau bukan karena kalau DBD harus segera ditangani," kata Widyastuti.

Menurut dia, kejelian petugas menganalisis sangat menentukan karena di dalam DBD ini ada masa kritis di hari keempat sampai kelima. Yaitu ketika suhu tubuhnya justru sudah turun.

Memang pendarahannya tidak harus selalu kelihatan. "Jadi bocor plasma itu dari dalam ada rembesan cairan intrasel yang keluar. Ini yang akan menimbulkan hipovolemik syok atau syok karena kekurangan cairan," katanya.

Widyastuti mengatakan, pihaknya sudah melihat data grafik minimal lima tahunan untuk menjadi acuan dan menjadi penentuan meningkatnya suatu kasus dari data. "Grafik kita masih menunjukkan data kasus ini masih aman. Meskipun begitu kami tetap waspada, karena kalau kita tidak siaga takutnya jumlah pengidap DBD bertambah," kata Widyastuti.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA