Friday, 12 Jumadil Awwal 1440 / 18 January 2019

Friday, 12 Jumadil Awwal 1440 / 18 January 2019

Pengamat: Jangan Hentikan Pembangunan LRT Jabodetabek

Jumat 30 Nov 2018 13:16 WIB

Red: Andi Nur Aminah

Darmaningtyas

Darmaningtyas

Foto: Yudhi Mahatma/Antara
Cukup satu saja yang dihentikan, yaitu Proyek Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat transportasi, Darmaningtyas, menyatakan proyek pembangunan LRT Jabodebek seharusnya tidak termasuk dalam proyek yang dihentikan sementara. Karena masyarakat sangat membutuhkan transportasi massal itu.

"Seharusnya cukup satu saja yang dihentikan, yaitu Proyek Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung karena kurang prioritas," kata Darmaningtyas ketika dihubungi di Jakarta, Jumat (30/11).

Apalagi, pada saat ini warga yang komuter antara Jakarta dan berbagai daerah sekitarnya dinilai sangat membutuhkan sebuah transportasi masal untuk pergerakan mereka. Sebagaimana diwartakan, pemerintah dalam upaya mengurangi kemacetan yang terjadi di Tol Jakarta-Cikampek (Japek) akibat pengerjaan tiga proyek, mengambil kebijakan melakukan pengaturan waktu terutama di area tertentu.

"Pada dasarnya kami minta kepada pelaksana tiga proyek ini untuk secara bergantian melakukan pengerjaan proyek di area-area yang tingkat kemacetannya tinggi dengan melakukan manajemen waktu dan lokasi. Jadi pengerjaan tiga proyek tersebut tidak dilakukan secara bersama-sama," kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Perhubungan, Hengki Angkasawan dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (21/11).

Seperti diketahui, adanya beberapa pembangunan Proyek Strategis Nasional di lintas Tol Jakarta- Cikampek seperti pembangunan tol layang (elevated) Jakarta-Cikampek, Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung, dan LRT Jabodebek, berdampak pada meningkatnya kemacetan lalu-lintas di jalan tol tersebut.

Hengki menjelaskan pengaturan pengerjaan proyek yaitu dengan menghentikan sementara pengerjaan proyek kereta cepat dan LRT Jabodebek yang sedang dikerjakan di area Tol Jakarta-Cikampek antara kilometer 11 hingga kilometer 17. Dengan pertimbangan, kedua proyek tersebut memiliki waktu pengerjaan yang lebih panjang dari waktu target penyelesaian tol elevated.

Kemudian, berdasarkan laporan dari Jasa Marga dan Kepolisian, jalan tol Japek antara kilometer 11 hingga 17 merupakan area yang sering mengalami kemacetan cukup tinggi. "Jadi permintaan penghentian proyek hanya dilakukan di area tertentu japek di sepanjang kurang lebih lima kilometer saja yang dianggap sering mengalami kemacetan," ujarnya.

Sementara itu, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) menyatakan, masyarakat diimbau untuk dapat memanfaatkan jalan arteri sebagai alternatif untuk menghindari kemacetan. "Masyarakat perlu mengetahui bahwa pada jam-jam tertentu jalan tol Jakarta-Cikampek mengalami kemacetan signifikan karena adanya peningkatan aktifitas pembangunan proyek strategis nasional," jelas Kepala BPTJ Bambang Prihartono.

Menurut Bambang, rekayasa lalu lintas dilakukan untuk mengutamakan keselamatan dan keamanan masyarakat yang melintas di Jalan Tol Jakarta-Cikampek khususnya pada saat pekerjaan konstruksi berlangsung. Untuk itu, dia mengatakan, masyarakat diharapkan dapat mengatur kembali pola serta waktu perjalanan.

Apabila masyarakat harus berpergian dengan melintas Jalan Tol Jakarta-Cikampek pada saat pelaksanaan pekerjaan konstruksi antara pukul 22.00 hingga 05.00 WIB hendaknya dapat menggunakan jalur alternatif. Ia memaparkan jalur alternatif yang dapat dimanfaatkan oleh pengguna kendaraan pribadi antara lain jalur arteri sepanjang Kalimalang-Cibitung, atau setelah Jalan KH Noer Ali masyarakat juga dapat memanfaatkan Jalan Ahmad Yani Bekasi untuk kemudian menyusuri Jl Juanda Bekasi menuju ke arah timur.

"Partisipasi dan pemahaman publik tentunya sangat dibutuhkan guna mendukung agar proses pengerjaan proyek strategis di jalan tol Jakarta-Cikampek ini segera terselesaikan," ucapnya.

 

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES