Monday, 21 Syawwal 1440 / 24 June 2019

Monday, 21 Syawwal 1440 / 24 June 2019

Negara Siaga Banjir

Selasa 20 Nov 2018 00:27 WIB

Red: Friska Yolanda

Siswa sekolah melintasi genangan air akibat banjir di Desa Kedungbenda, Nusawungu, Cilacap, Jateng, Selasa (13/11/2018).

Siswa sekolah melintasi genangan air akibat banjir di Desa Kedungbenda, Nusawungu, Cilacap, Jateng, Selasa (13/11/2018).

Foto: Antara/Idhad Zakaria
Pemerintah perlu mengembangkan sistem peringatan dini di daerah rawan bencana.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Musim hujan yang mencapai puncak intensitas di pertengahan November ini telah menyebabkan banjir di beberapa kota dan kabupaten di Indonesia. Akibatnya, aktivitas warga terhambat. Tak hanya itu, lahan pertanian di sejumlah daerah pun terancam puso.

Daerah yang sudah melaporkan adanya daerah yang banjir di antaranya Bandung, Tasikmalaya, Cilacap, Jambi, dan Pekanbaru. Ibu kota DKI Jakarta pun tak luput dari bencana ini.

Di Jakarta, banjir menghantui sebagian wilayah karena meluapnya sungai dan tersumbatnya aliran air saat hujan akibat sampah. Hal itu bisa dilihat saat hujan deras di Jakarta dan sekitarnya pada Ahad (11/11) petang hingga malam. Ratusan ton sampah menggenang dan tersangkut di pintu air Manggarai, Jakarta Pusat.

Data yang disampaikan Kepala Satuan Pelaksana Unit Pelaksana Kebersihan (UPK) Badan Air Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat Rohmat di Jakarta, Selasa (13/11), sungguh memprihatinkan. Sampah-sampah tersebut tidak langsung datang seketika hujan turun, namun beberapa jam setelahnya.

Pascahujan, baru sekitar pukul 02.30 WIB sampah mulai penuh di pintu air Manggarai. Sampah-sampah itu terdiri atas berbagai jenis, mulai yang berasal dari alam, seperti batang pohon, hingga sampah rumah tangga, seperti plastik, styrofoam sampai kasur, bahkan kulkas.

Sampah-sampah itu diangkut mulai dari Senin (12/11) pagi sekitar pukul 07.00 WIB hingga pukul 22.30 WIB. Pada Selasa dilanjutkan pengangkutannya.

Sampah yang diangkut dari pintu air Manggarai sebanyak 77 truk berkapasitas masing-masing truk sekitar dua ton. Sebanyak 66 truk mengangkut sampah pada Senin dan sisanya Selasa. Petugas pun masih melakukan pekerjaan untuk mengangkut sampah tersebut.

photo

Petugas Dinas Kebersihan DKI Jakarta saat membersihkan sampah yang menumpuk di Pintu Air Manggarai, Jakarta, Senin (12/11).

Sulit Dipahami

Terkait dengan jenis sampah yang beragam dan mungkin tidak masuk akal, seperti kasur dan kulkas, Rohmat mengaku hal tersebut sering kali terjadi kala hujan deras melanda. Sulit tidak mengerti bagaimana itu bisa terjadi?

Apa karena air banjir jadi terbawa atau sengaja dibuang karena air sedang banyak. Kenyatan itu sulit dipahami dan sulit diperoleh jawabannya.

Yang jelas, itu semua menjadi pekerjaan berat bagi petugas untuk membersihkannya. Yang pasti juga, sampah-sampah tersebut kerap menjadi salah satu penyebab banjir karena air tidak leluasa mengalir.

Dengan sudah banyaknya sampah yang diangkut, kini debit air di pintu air Manggarai terpantau di batas normal sekitar 600 sentimeter.

Sampah-sampah tersebut dibawa ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Jalan Perintis Kemerdekaan. Selanjutnya, dibawa oleh truk yang lebih besar ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Kota Bekasi, yang jauhnya sekitar 40 kilometer dari Tugu Monas. Begitu kompleks dan membutuhkan proses yang panjang untuk mengatasi akibat banjir di kota metropolitan ini.

photo

UPK Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menangani sampah yang menumpuk di Pintu Air Manggarai, Jakarta Pusat, Senin (12/11).

Waspada

Perihal ancaman bencana banjir kini juga menjadi perhatian serius Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Apalagi musim hujan diperkirakan belum mencapai titik puncak sehingga membutuhkan kewaspadaan semua pihak.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengimbau masyarakat untuk mewaspadai bahaya banjir dan longsor pada musim hujan ini. Diperkirakan, curah hujan akan terus meningkat dalam hari-hari atau pekan-pekan ke depan.

Berdasarkan siklus cuaca yang telah dipahami selama ini, umumnya puncak musim hujan berlangsung pada Januari. Karena itu, masih cukup panjang rentang waktu untuk mengantisipasi musibah banjir.

Menurut data BNPB, hingga Oktober 2018 telah terjadi 2.076 kejadian bencana yang menyebabkan 4.165 orang meninggal dan hilang. Sepanjang Oktober 2018 saja, terjadi 171 bencana dengan korban meninggal dan hilang mencapai 42 jiwa.

Bencana paling banyak adalah banjir, yakni 52 kejadian, kebakaran hutan dan lahan (49 kejadian), puting beliung (41 kejadian) dan tanah longsor (20 kejadian). Selain banjir, tanah longsor juga harus menjadi perhatian berbagai pihak. Hal itu karena curah hujan yang tinggi juga berpotensi menyebabkan longsor.

Dengan demikian, curah hujan yang tinggi menimbulkan dua ancaman, yakni banjir dan longsor. Curah hujan tinggi, maka bahaya longsor juga akan meningkat.

photo

Sejumlah kendaraan menembus genangan banjir cileuncang dari luapan drainase saat hujan deras, di Jalan Ir H Djuanda, Kota Bandung, Selasa (30/10).

Bisa Dicegah

Karena itu, BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi longsor dan memahami daerah-daerah yang menjadi wilayah rawan longsor. Peta daerah rawan longsor dapat diunduh melalui portal resmi Badan Geologi, sedangkan beberapa tips menghadapi bencana longsor dapat diunduh melalui portal resmi BNPB.

Satu hal yang perlu menjadi tekad pihak terkait adalah kerugian yang kemungkinan terjadi akibat bencana longsor bisa dicegah.

Caranya, pemerintah daerah dan masyarakat perlu mengembangkan sistem peringatan dini di daerah yang rawan bencana lonsor.

Pemerintah daerah dan masyarakat juga harus melakukan penyebarluasan informasi gerakan tanah melalui berbagai media dan cara agar warga setempat memahami kemungkinan longsor terjadi. Longsor biasanya terjadi pada lereng-lereng bukit atau gunung.

Untuk mencegah longsor, masyarakat di sekitar lereng tersebut harus didorong untuk membudidayakan tanaman pertanian dan perkebunan yang sesuai dengan azas pelestarian lingkungan dan kestabilan lereng. Cara lainnya adalah menghindari bermukim atau mendirikan bangunan di tepi lembang sungai yang terjal dan membuat percetakan sawah baru atau kolam pada lereng yang terjal sehingga mengakibatkan tanah mudah bergerak.

Selain itu, pemerintah daerah dan masyarakat juga harus mencegah penggalian pada daerah bawah lereng terjal yang bisa mengganggu kestabilan lereng sehingga mudah terjadi longsor.

Sebagai musibah yang sering terjadi di musim hujan, tentunya banyak pihak yang paham mengenai penyebab banjir dan longsor. Persoalannya adalah bagaimana mengantisipasi dan mencegahnya karena mencegah lebih baik daripada mengatasi.

Ke depan yang dibutuhkan tampaknya adalah tekad dan tindakan nyata yang konsisten dalam mengatasi masalah ini dengan fokus kepada pencegahan. Tentunya dengan kebijakan pembangunan yang terpadu serta terkoordinasi antarintansi dan antardaerah.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA