Wednesday, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 December 2018

Wednesday, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 December 2018

Penghuni Kos tidak Curiga Maya tak Menyapanya Saat Pulang

Selasa 13 Nov 2018 17:54 WIB

Rep: Flori Sidebang/ Red: Indira Rezkisari

Tim Puslabfor Polri melakukan olah TKP rumah korban pembunuhan sekeluarga di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Selasa (13/11) sore.

Tim Puslabfor Polri melakukan olah TKP rumah korban pembunuhan sekeluarga di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Selasa (13/11) sore.

Foto: Republika/Dedy D Nasution
Korban pembunuhan Bekasi dikenal akrab dengan penghuni kosnya.

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Satu keluarga ditemukan meninggal di sebuah rumah di Jalan Bojong Nangka II, Jatirahayu, Pondok Melati, Bekasi, pada pukul 06.30 WIB, Selasa (13/11). Korban atas nama Diperum Nainggolan (38), Maya Boru Ambarita (37), Sarah Boru Nainggolan (9), dan Arya Nainggolan (7).

Baca Juga

Korban diketahui memiliki dan mengelola sebuah warung di depan rumahnya. Warung tersebut buka mulai pukul 05.30-23.00 WIB setiap hari Senin-Sabtu. Sedangkan pada Ahad, korban tidak membuka warungnya sama sekali. Selain itu, mendiang Diperum Nainggolan juga dipercaya untuk mengelola rumah kos milik abangnya, Douglas Nainggolan.

Letak rumah kos dua lantai itu berada persis di belakang kediaman korban. Akses keluar-masuk rumah kos dan kediaman korban ada dua. Satu melalui gerbang di depan dan satu lagi berupa pintu kecil yang berada sekitar 50 meter di belakang kediaman korban.

Namun, menurut salah satu penghuni kos, Jimmy Wora mengatakan, pintu gerbang di depan akan dikunci mendiang Maya Boru Ambarita pada pukul 23.00 WIB. Begitu pun dengan pintu kecil yang di belakang.

"Gerbang itu dikunci pakai rantai dan gembok besar," ujar Jimmy, saat ditemui di lokasi kejadian.

Jimmy pada Senin (12/11) malam sekitar pukul 23.30 WIB, baru tiba di rumah kos setelah dinas dari luar kota. Ia menuturkan, saat tiba, tidak ada hal yang mencurigakan di rumah korban. Hanya saja, saat itu mendiang Maya tidak keluar menyapa dirinya.

"Kalau saya pulang malam gini kan buka gemboknya agak berisik karena bunyi rantai yang bergesekan dengan besi gerbang. Nah, biasanya tuh mendiang Maya langsung keluar terus ngomong, 'bang, baru datang ya'. Tapi malam itu nggak ada," katanya.

Namun, Jimmy tidak menaruh curiga. Ia hanya berpikir bahwa korban dan keluarganya sudah tertidur lelap. Jimmy pun naik ke kamarnya yang berada di lantai dua.

Ia mengaku, dia memang diberikan kunci gerbang oleh mendiang Maya karena sering bertugas ke luar kota. Tetapi tidak semua penghuni kos diberikan fasilitas yang sama seperti dirinya. Menurutnya, hal itu dilakukan untuk menghindari tindakan pencurian yang sempat terjadi beberapa kali di tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, dirinya pun sempat kehilangan motor sebanyak dua kali.

Jimmy sudah tinggal di kosan tersebut selama empat tahun. Menurutnya, korban sangat ramah dan tidak memiliki masalah dengan para penghuni kos maupun tetangga sekitar.

Hal senada juga disampaikan oleh penghuni kos lainnya, Vanessha Claudia (28). Ia menuturkan, mendiang Maya sudah seperti orang tuanya sendiri karena sangat peduli dengan dirinya.

"Kalau hari Minggu itu sering banget diingatkan, 'sudah ke gereja belum?' atau hari-hari biasa saya dilihat masih di kosan, pasti ditanya, 'nggak kerja, mbak?'," kenang Vanessha.

Selain itu, menurut Vanessha, mendiang Maya juga sangat mudah diajak kompromi untuk membukakan gerbang saat dirinya terlambat pulang dari kantor. "Jadi, misalnya saya pulang di atas jam 11 malam, saya bisa kabari lewat WA (WhatsApp) supaya nanti gerbangnya dibukakan dan tante (mendiang Maya) pasti nungguin sampai saya pulang," tuturnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES